
Setelah melaksanakan ujian nasional, murid kelas tiga tidak memiliki kegiatan yang berarti di sekolah.
Ada yang berkeliaran di kantin, bermain basket, nongkrong di taman belakang sekolah, nongkrong di rooftop sekolah, tidur di kelas, gosip, dan masih ada banyak yanh lain.
Jangan tanyakan aku yang mana, karena aku sibuk menulis seperti biasa yang ku lakukan saat tidak ada kegiatan.
Aku juga memikirkan tentang Raga.
Ngomongin dia, aku baru sadar kalau seharian aku belum berjumpa dengannya. Biasanya dia selalu kelihatan sejauh mata memandang.
Okta juga sedang berduaan dengan pacarnya yang entah mereka dimana.
Zaki, sudah pastinya dia di pojokan kantin sambil tebar pesona kepada setiap siswi yang menjadi penghuni sekolah ini.
"Hei Dis, sedang menulis apa?" Tanya seseorang dan langsung mengambil buku ku itu.
"Kembalikan Raga!" Jawabku kesal
Ya, orang itu adalah Raga.
"Baiklah nona, tenang saja. Aku tidak akan membuang buku mu ini. Jadi, mengapa kamu sendirian?"
"Tidak apa-apa"
"Kau selalu saja irit bicara. Aku mau curhat denganmu, Dis"
Apa dia bilang tadi? Curhat? Raga? Aku rasa aku dan dia tidak sedekat itu bukan?
Apa yang mau dia bicarakan? Ada niat mendengarnya saja aku tidak.
__ADS_1
"Gadis, selalu saja melamun. Aku mau cerita ini!"
"Ceritalah"
"Bisakah kamu berbicara lebih panjang lagi? Kamu jadi seperti bang Arga versi perempuan"
"Kita beda"
"Ck menyebalkan sekali. Persis bang Arga"
Aku diam tidak menanggapi ocehannya. Ku rasa aku benar-benar sudah menghilangkan rasa suka ku kepadanya. Aku sudah tidak merasakan debaran seperti biasanya. Apa benar aku sudah move on?
Ada baiknya juga ujian nasional kemarin, terima kasih ujian karna sudah membantu ku menghilangkan rasa suka ku pada manusia bernama Raga.
"Gadis aku mau cerita" Cicit Raga kembali.
"Aku sudah bilang tadi kan? Apa harus aku mengulanginya lagi? Kalau kamu di sini hanya untuk mengganggu lebih baik pergi!" Jawabku geram dengan segala tingkahnya itu. Sebenarnya ada apa dengannya?
"Aku putus dengan Sasa" Cerita Raga
"Terus?"
"Kamu tidak ingin mengatakan sesuatu?"
"Apa?"
"Kau tidak kasihan denganku?"
"Tidak"
__ADS_1
"Kenapa?"
"Tidak perlu"
"Tapi aku sedih"
"Kenapa?"
"Karna aku putus"
"Kenapa putus?"
"Sasa yang ingin"
Aku tidak menjawab lagi cerita Raga yang menurutku tidak penting itu. Aku juga tidak tertarik dengan cerita putusnya dengan Sasa. Tidak ada untungnya juga untukku.
Aku semakin percaya diri kalau aku sudah benar-benar move on sekarang. Aku tidak merasakan debaran itu lagi, aku juga tidak terpengaruh dengan senyuman Raga, aku juga bersikap biasa saja saat dia berada di sekitarku bahkan sekarang ada di depan ku.
Aku sangat bersyukur akan hal itu, karna aku bisa membuka cerita baru kedepannya.
Aku juga tidak berharap selalu menoleh pada Raga dan mengabaikan yang lain.
Ternyata cinta juga bisa merasakan bosan ya, apalagi cinta yang tidak berbalas seperti ku.
Merasakan cinta di masa remaja memang sangat menyenangkan, apalagi aku mendapatkan bonus dari cinta, yaitu patah hati.
Aku belajar banyak tentang rasa yang beriringan dengan rasa cinta dan suka.
Tentu saja aku tidak membenci cinta, karna sebagai manusia pasti membutuhkan cinta.
__ADS_1
Cinta yang dibutuhkan manusia adalah cinta yang tulus, kesetiaan dan tanggungjawab.
Bukan cinta yang menyenangkan di awal merasakannya dan menelan kekecewaan setelahnya.