
"Ma, aku pulang!" Teriak Arga
"Astaga kenapa kamu teriak-teriak?" Keluh Mama Arga
"Gadis, kamu di sini? Apa kabar sayang?" Tanya Mama Arga sambil memelukku
"Baik tante" Jawabku sambil tersenyum
"Panggil mama dong, biar sama kayak Arga"
"Mama emang mertua yang baik"
"Masih calon, Ga" Seru Mama Arga
"Akan terwujud bentar lagi" Jawab Arga tak mau kalah
"Jadi, Gadis sudah libur? Kok anak nakal itu bisa membawamu kabur kesini?" Tanya Mama Arga
"Gadis ditarik kesini tadi tante" Jawabku
"Anak itu memang semaunya. Bagaimana Surabaya? Menyenangkan?"
"Menyenangkan, te"
"Lebih menyenangkan kalau tidak ada Arga kan?" Goda Mama Arga
"Mama!" Teriak Arga
"Apasih, mama ga ngomong sama kamu ya" Jawab Mama Arga
Arga hanya diam tanpa mau menanggapi mamanya.
"Arga dulu maksa banget buat kuliah di sana, padahal dia sudah janji buat bantu papanya ngurus perusahaan. Awalnya papanya ga setuju dia mau jadi dokter. Tapi setelah tau alasan dia kuliah di Surabaya karna galau, papanya akhirnya izinin dia kesana" Jelas Mama Arga
"Ma, jangan dilanjutin lagi" Keluh Arga
__ADS_1
"Tapi ternyata dia kesana karna dia tau kamu bakal pergi studi kesana juga. Anak itu memang semaunya saja. Terima kasih sudah betah sama anak mama yang bandel ya, sayang" Jelas Mama Arga
"Iya, te" Jawabku singkat
"Panggil mama dong" Keluh Mama Arga
"Iya, ma!"
"Nah gitu dong. Jadi kapan kamu mau ke rumah Gadis, Ga?"
"Nanti malem, Ma. Sekalian nunggu papa pulang" Jawab Arga
"Raga udah kamu kasih tau?"
"Nanti aja kalo udah dapet restu baru dikasih tau, biar aku ga ditikung sama dia"
"Kamu ini, sama adek sendiri begitu"
"Terserah" Jawab Arga
"Sudah, Ma. Sebelum kesini tadi sama Arga sudah makan" Jawabku
"Yakin gamau makan lagi? Kamu kan tukang makan" Sambar Arga
Aku langsung melotot kearahnya. Arga hanya diam saat aku menatapnya.
"Jangan malu-malu, makan sana" Goda Arga
"Ayo, sayang. Mama gamau dicap mertua yang ga baik nantinya karna ga kasih menantu mama yang cantik ini makan" Ajak Mama Arga
"Awas kamu ya!" Ancamku pada Arga tanpa mengeluarkan suara
Akupun segera melaju ke meja makan dengan mama Arga.
Sebenernya aku lapar sih tapi juga malu karna kelakuan Arga.
__ADS_1
Lihat saja pembalasanku nanti!
Malam harinya, semua berkumpul di rumahku. Mama dan Papa Arga, Arga, Ayah dan Ibu.
Semua terasa serius, membuatku mati gaya.
Sungguh, ini lebih menyeramkan saat ujian dosen terkiller di kampusku.
"Jadi, kamu mau menjadikan anak saya sebagai istri?" Tanya Ayahku
"Tidak hanya menjadi istri om, tapi saya mau Gadis menjadi teman hidup saya dan menjadi ibu untuk anak-anak saya nanti" Jawab Arga
Arga memang sepandai itu saat berbicara.
"Kamu yakin bisa bertanggung jawab?" Tanya Ayah lagi
"Yakin" Jawab Arga dengan tegas
"Apa jaminannya kalau kamu berani mengingkari perkataanmu?"
"Om bisa melakukan apa saja"
"Baik! Jadi kapan akan dilangsungkan pernikahan?" Tanya Ayahku
Ayahku sangat to the point sekali. Kenapa ayah main iya aja? Kenapa ga tanya dulu pendapatku seperti apa?
Meskipun ga nolak juga sih nikah sama Arga, tapi kan aku belum lulus kuliah.
"Bulan depan" Jawab Papa Arga
"Apa?" Teriakku
"Maksud saya, apa tidak terlalu cepat om?"
"Tidak ada alasan untuk menunda. Lebih cepat lebih baik. Tidak ada bantahan" Jawab Ayahku
__ADS_1