
GADIS POV
Aku terus mendengarkan cerita Raga. Jujur saja aku tidak percaya semua itu terjadi. Seorang kak Arga sampai sebegitunya karnaku? Bahkan aku saja hampir melupakannya sepenuhnya.
"Setelah itu dia bilang kalau kamu membencinya" Sambung Raga lagi
"Aku tidak" Jawabku
"Mungkin kamu bilang tidak, tapi bang Arga mengartikan sikapmu dengan begitu" Jelas Raga
"Lalu aku harus bagaimana?"
"Jawabannya ada padamu"
"Aku bahkan sudah melupakannya" Jelasku
"Apa bang Arga tidak berarti bagimu?"
"Kamu tau bukan, kalau dulu aku sempat menyukaimu?"
"Apa?" Tanya Raga sedikit teriak.
"Itu dulu, sekarang sudah tidak"
"Seperti rasa suka mu ke bang Arga?"
"Kalau dengan kak Arga aku tidak tau. Iti sudah lama sekali dan aku juga masih kecil dulu. Sekarang aku sudah tau cinta itu apa dan patah hati itu seperti apa"
"Apa yang kamu rasakan sekarang?"
"Maksudmu?"
"Dengan bang Arga, apakah tidak ada kesempatan?"
"Kesempatan apa?"
"Untuk saling mencintai"
"Entahlah"
"Ck Gadis sekali!"
__ADS_1
Aku hanya diam saja tanpa menanggapi Raga lagi. Jujur saja aku juga tidak tau dengan perasaanku pada kak Arga.
Apa aku menyukainya?
Kalau tidak, kenapa saat di cium tadi aku tidak keberatan dan marah?
Sial! Aku baru sadar kalau kak Arga sudah mengambil ciuman pertamaku.
"Kalau aku yang menyukaimu, bagaimana?" Tanya Raga setelah terdiam
Aku langsung menengok ke arahnya. Aku memperhatikannya yang juga memperhatikanku.
Apa katanya tadi? Menyukaiku? Jangan konyol.
"Apa kamu bilang?" Tanyaku setelahnya
"Kamu benar-benar tidak tuli bukan?"
"Kamu mengataiku?" Tanyaku tidak suka
Raga hanya tertawa mendengar pertanyaanku.
Kenapa tawanya tidak semenarik dulu. Bahkan tawanya tidak berpengaruh lagi terhadapku. Apa cinta memang serumit ini?
"Apa?"
"Mau jadi kekasihku?"
"Jangan bercanda!"
"Aku sedang tidak bercanda"
"Kenapa tiba-tiba?"
"Tidak tiba-tiba. Aku menyukaimu saat pertama kali melihatmu"
"Di kelas dulu?"
"Bukan"
"Lalu?"
__ADS_1
"Apakah kita sedang melalukan wawancara sekarang?" Tanyanya sambil tersenyum
"Jawab saja"
"Kamu yakin ingin tau?"
Aku hanya memberi anggukan sebagai jawaban.
"Aku menyukaimu saat pertama kali kamu datang ke rumahku"
"Oh yang itu. Kenapa bisa?"
"Aku hanya kagum dengan gadis bergaun biru langit dengan kuncir kudanya dan tidak lupa boneka teddy di tangan kanannya. Dan jangan lupa senyuman yang menenangkan itu"
"Tunggu dulu, kita membicarakan waktu yang sama bukan?"
"Haha melihat ekspresimu, ku rasa kita membicarakan waktu yang berbeda"
Jadi selama ini perasaanku tidak bertepuk sebelah tangan? Kenapa takdir bisa sekonyol ini.
"Apa dulu aku sering main ke rumahmu?"
"Tidak. Kamu hanya sekali ke rumah dan saat itu kamu sedang menangis karna terjatuh di taman sewaktu bermain bersama bang Arga"
"Jadi kak Arga yang membawaku ke rumahmu?"
"Ya. Ku kira dia hanya menganggapmu sebagai adik kak Bella saja. Tapi setelahnya aku tau kalau bang Arga menganggapmu sebagai seorang gadis yang dia cintai"
"Jadi benar, aku sering bermain dengan kak Arga di taman?"
"Kalau mendengar dari cerita yang selalu dia bawa ke rumah, sepertinya iya. Dia selalu bercerita tentang gadis berkuncir kuda yang lucu setelah dia pulang dari taman"
Aku hanya diam. Berarti selama ini Tuhan selalu mendengar semua doaku? Aku pernah meminta kepadaNya untuk memberiku seseorang yang tulus mencintaiku bukan?
Tapi apakah orang itu kak Arga?
"Dan perlu kamu tau, ku rasa bang Arga lebih suka kamu memanggilnya Gaga" Jawab Raga dengan tertawa
Aku juga ikut tertawa karnanya.
Jadi, Gaga ku sudah kembali. Lagi!
__ADS_1
Tanpa mereka sadari, dari jauh ada seseorang yamg memperhatikan interaksi Raga dan Gadis dari tadi.
"Sial!" Gumam seseorang yang berada di balik pohon itu.