
Setelah selesai ngobrol dengan Raga. Aku kembali ke kelas.
Aku terus menyusuri lorong yang memang jarang di lewati.
"Ga, tidak bisakah kamu melupakan dia?" Tanya Angie
Sebagai netijen yang rasa keponya sangat tinggi, aku memutuskan menguping di tempatku.
"Ga" Jawab kak Arga
Siapa yang mereka bicarakan?
Sial, kenapa aku menjadi penguntit seperti ini.
"Kenapa, Ga? Bukankah dia sudah tidak menganggapmu?" Tanya Angie lagi
"Ga nganggep bukan berarti gue nyerah."
"Ada aku di sini yang sudah jelas mencintaimu, Ga. Apa kurangku?"
"Kurangnya adalah gue ga cinta sama lo"
"Kita bisa memulai perlahan kan, Ga? Kita bisa terbiasa satu sama lain kalau mau coba"
"Gue gamau"
"Kenapa?"
"Bukan urusan lo"
"Apa lebihnya Gadis di banding aku, Ga?"
Sialan! Ternyata aku yang mereka bicarakan. Apa sebenarnya masalah perempuan itu padaku. Kenapa dia tidak menyukaiku? Kenal aja tidak.
"Bukan hak lo tau apa pendapat gue. Yang jelas gue ga suka sama lo. Gausa maksa" Jawab kak Arga
"Sedang apa kamu di sini?" Tanya kak Arga
Sial. Sejak kapan kak Arga ada di depanku? Kenapa aku tidak menyadarinya?
"Gadis" Sapanya lagi
"Aku hanya kebetulan lewat" Jawabku setelahnya
"Sudah selesai kamu bicara dengan bocah itu?" Sarkas kak Arga
__ADS_1
"Maksudmu?"
"Raga"
"Dari mana kakak tau?"
"Kenapa tidak?"
"Kakak menguntitku?"
"Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama beberapa menit lalu?"
Aku hanya diam saat dia berkata benar. Aku memang sengaja menguntit tadi. Entah untuk apa.
"Apa yang kamu bicarakan dengan Raga tadi?"
"Bukankah kakak sudah melihatnya?"
"Cuma lihat, bukan dengar"
"Kenapa aku harus menjawab?"
"Karna kamu milikku!" Jawab kak Arga sambil melihatku tajam
"Memang begitu kenyataannya"
"Terserah kakak saja. Tapi jangan harap aku meladeni semua tingkah kakak ini"
"Kau menantangku?"
"Apa yang ku dapatkan saat aku menjawab iya atau tidak?"
Kak Arga terdiam setelahnya. Apa yang sebenarnya dia pikirkan?
Kenapa dia selalu terdiam saat aku menanyakan hal yang sesungguhnya tidak penting.
"Tidak punya jawaban lagi?" Kata ku lagi
"Jadi kamu benar-benar menantangku?" Jawab kak Arga sambil menampilkan senyuman mengejeknya
"Kalau iya kenapa? Takut?" Tantangku
"Takut? Padamu?" Jawabnya sambil tertawa
"Haha tidak lucu"
__ADS_1
"Dengar, tidak ada ceritanya aku takut apalagi padamu. Kamu segalanya bagiku kalau kamu belum tau juga! Kamu bukan orang yang harus aku takuti, kamu adalah orang yang aku cintai. Hal yang ku takuti adalah kehilanganmu. Jadi berhenti menantangku kalau kamu tidak mau kalah"
Aku hanya menatapnya datar. Apa iya dia mempunyai perasaan semacam itu kepadaku?
Benar kata Angie tadi, aku hanya gadis biasa saja. Tapi kenapa kak Arga treat me like a princess?
"Yang seharusnya takut itu kamu, Dis" Kata kak Arga lagi
"Kenapa aku harus takut?"
"Karna aku ada di dekatmu sekarang"
"Kenapa aku harus takut? Apa karna kakak mempunyai banyak fans di luar sana?"
"Kamu tidak takut dengan mereka?"
"Kenapa harus?"
"Karna mereka ganas"
"Tidak lebih ganas dari buaya"
"Memangnya kamu pernah berhadapan dengan buaya?"
"Bukankah dari tadi aku bicara dengan buaya?"
Kak Arga tertawa renyah setelah mendengarku, lalu menampilkan wajah yang sulit di artikan.
"Jadi kamu menganggapku buaya, begitu?" Tanya kak Arga
Aku menjauhkan diri dari kak Arga.
"Kamu yakin?" Tanya kak Arga sambil melangkah mendekat dan membuatku semakin menjauh juga
"Baiklah, akan ku buktikan gimana buasku" Jawab kak Arga sambil tersenyum mengerikan
"Kak Arga mau apa?" Akhirnya suaraku keluar
"Yang aku mau lakukan sudah ada di otak kecilmu itu"
Belum sempat aku menjawabnya, kak Arga sudah membungkam mulutku dengan ciumannya.
Sial, sudah berapa kali dia menciumku?
Sialnya lagi kenapa aku tidak memukulnya?
__ADS_1