Always Him

Always Him
5


__ADS_3

"Apa aku bisa mendapatkan nomor telfonmu?" Tanya Raga kembali


Sial demi apapun! Muka ku terasa panas.


"Gadis apa kamu masih mendengarkan ku?" Tanya Raga lagi


"Ah ya Raga" Jawabku


"Jadi apa boleh aku mendapatkannya?"


"Ya tentu"


Setelah bertukar nomor telfon dengan Raga, kinerja jantungku semakin menghawatirkan.


Astaga aku hanya seorang gadis yang masih menggunakan rok biru tua.


Apa perkataan Ajeng yang lalu benar adanya? Apa benar aku menyukai Raga? Tapi bagaimana bisa?


Aku saja hanya berbicara dengan dia kalau ada hal penting saja. Raga juga tidak melakukan hal yang dilakukan cowok di luar sana agar mendapatkan cinta dari seorang cewek.


Wait, what? Cinta?


Cinta itu apalagai?


Sial aku benar-benar menjadi gadis yang kurang waras saat memikirkan Raga.


Tapi, aku tidak mencintainya bukan? Tidak menyukainya bukan? Apa yang membedakan cinta dan suka?


Memikirkannya saja membuatku pusing.

__ADS_1


Sudahlah, ini hanya ketertarikan sesaat bukan?! Hanya harus terbiasa dengan Raga semuanya akan menjadi baik seperti yang sudah-sudah.


"Gadis apakah pesanku sudah sampai?" Tanya Raga


"Astaga kamu mengejutkanku!" Seru ku karna tiba-tiba suaranya mengembalikanku ke dunia nyata


"Kamu baik-baik saja? Apa kamu sakit?"


Sial. Berhentilah menanyakan sesuatu yang dapat membuat jantungku tidak berfungsi dengan benar! Tentu saja aku mengatakan itu dalam hati ku.


"Tidak, aku baik"


"Jadi apa kamu sudah memeriksa hp mu?" Tanya Raga


"Memangnya ada apa?" Heranku


Setauku tidak ada yang penting di dalam hp ku. Semua baik-baik saja. Tapi aku memutuskan untuk memeriksa hp ku.


+62875xxxxxxxx


Semoga hari mu menyenangkan Gadis ☺️


- Raga


Ya Tuhanku, demi dewa berwarna biru yang aku lihat dalam cerita, aku merasa jantungku akan meledak saat ini juga. Hanya mendapat sebuah pesan singkat dari Raga reaksi ku sangat berlebihan sekali Tuhan.


Ingatkan aku untuk tidak mempermalukan diriku di hadapan banyak orang. Terutama Raga.


Sialnya Raga menatapku dengan menampilkan senyuman andalannya itu!

__ADS_1


Apa ini hari sialku? Atau justru menjadi hari keberuntunganku?


Melihat senyumnya saja aku sudah seperti gadis yang akan mendapatkan hadiah utama dari iklan di tv, apalagi hari ini yang ditambah mendapat pesan dari pemberi senyuman yang tidak masuk akal itu?!


Sadarkan dirimu wahai gadis gila! Ingatlah kamu dan Raga hanya teman. Pesan seperti itu wajar di kirim kepada teman bukan?


Aku mulai tidak menyukai kata teman diantara aku dan Raga. Tapi apa yang sebenarnya kuinginkan dari Raga?


Aku mengaguminya, apa aku harus meminta tanda tangannya dan berfoto bersama dia? Atau aku harus menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih atas senyuman dia?


Tentu saja aku tidak akan melakukan hal yang memalukan itu.


Huh, memikirkannya sungguh menyebalkan. Sungguh aku ingin sekali bereaksi biasa saja saat di dekat Raga.


Akhirnya aku memutuskan meninggalkan Raga dan pergi ke kantin sekolah. Berdekatan dengannya membuatku kehausan seperti mengelilingi lapangan beberapa putaran. Percayalah!


Tak lama kemudian Ajeng datang dan langsung duduk di hadapanku.


"Jadi apakah ada kemajuan tentang hubungan kalian? Sambar Ajeng


"Hubungan apa yang kamu maksud Ajeng?"


"Kamu dan Raga. Apakah kamu yakin kamu tidak menyukainya?"


"Apakah kita sedang melakukan wawancara saat ini?"


"Tentu saja kalau itu mau mu!" Jawab Ajeng sambil tertawa


"Sungguh ini tidak ada yang lucu Jeng" Jawabku tidak suka

__ADS_1


"Kalau kamu tidak menyukainya kenapa sewot? Aku hanya bertanya nona Gadis Pradipta"


Apa benar aku bukan lagi mengagumi Raga? Tapi aku sudah naik level menjadi menyukainya?


__ADS_2