
"Raga"
"Gadis apa yang kau lakukan di sini? Kenapa kamu menangis?" Tanya Raga
"Aku baik" Jawabku sekenanya
"Bohong. Jelas kamu menangis"
"Terserah saja"
Lalu aku pergi dan menjauh dari Raga.
Perasaanku sedang tidak baik saat ini.
Entah kenapa setelah berbicara dengan kak Arga aku bisa sekacau ini.
"Gadis tunggu!" Teriak Raga
"Lepaskan aku!"
"Apa kamu begini karna bang Arga?" Tanya Raga
Aku hanya diam sambil menatap datar tanpa menjawabnya.
"Aku yakin kamu sudah mengingatnya bukan?" Tanya Raga lagi
"Kalau kamu sudah tau kenapa masih bertanya terus?"
"Aku hanya memastikan saja"
__ADS_1
"Memastikan apa? Apa mencampuri urusan orang lain menjadi bagian darimu sekarang?"
"Bukan begitu, Dis. Aku hanya ingin menceritakan sesuatu saja"
"Menceritakan apa lagi?"
"Ayo duduk dulu, kita bicara di sana"
"Aku tidak mau"
"Kumohon Dis! Kali ini saja, aku hanya ingin kamu dengerin aku. Itu saja"
"Ok. 10 menit tidak lebih"
"Baiklah, 10 menit lebih dikit" Jawab Raga sambil terkekeh
Aku hanya memutar bola mataku melihat kekehan Raga.
"Gaga. Bang Arga itu Gaga mu!" Bicara Raga to the point.
"Apa maksudmu? Aku tidak mengerti?!"
"Kamu sudah bertemu dengan Gaga mu lagi. Bagaimana perasaanmu?" Tanya Raga
"Aku tidak tau" Jawabku sekenanya
"Kenapa begitu? Apakah masih tentang kak Bella?"
Aku menatap Raga dengan tajam. Entah dia bisa membaca pikiran orang lain atau memang dia masuk dalam golongan orang yang peka.
__ADS_1
"Jawabannya ada di pertanyaanmu" Jawabku setelahnya
Raga hanya menghembuskan nafas panjangnya mendengar jawabanku.
"Percaya padaku, kak Arga juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi dengan kak Bella, Dis. Dia sangat sedih karna kejadian itu dia kehilanganmu. Bahkan sekarang, setelah menemukanmu lagi dia masih belum bisa mengembalikan gadisnya yang dulu." Kicau Raga
"Memangnya apa yang berubah dariku? Mungkin hanya tinggiku saja yang berubah"
Raga kembali terkekeh mendengar jawabanku.
Apa yang lucu dari kalimatku tadi?
"Kamu benar-benar tidak ingat? Baiklah aku ingatkan Gadis Pradipta. Dari kumpulan cerita bang Arga yang dia ceritakan padaku, dia selalu memujimu. Dan waktu dulu, dia bilang selalu menunggu seorang gadis kecil di taman komplek yang selalu membawa bonekanya dengan rambut kuncir kuda di tambah dengan senyuman imutnya" Jelas Raga sambil tersenyum.
"Jujur saja, waktu bang Arga cerita begitu, ku kira dia hanya membual saja. Aku juga tidak terlalu memperhatikan semua ceritanya tentangmu" Sambung Raga
"Lalu?" Tanyaku
"Dia bilang gadis itu sangat cantik, bahkan bertambah cantik setiap harinya. Dia selalu memperhatikanmu setiap hari. Persis seperti penguntit. Apakah kamu juga sudah tau kalau bang Arga menyukaimu sejak hari pertama dia melihatmu di rumah sakit?"
"Ya"
"Awalnya ku kira abangku hanya bercanda saja. Tapi melihat semua yang dia lakukan kepadamu, aku mulai percaya kalau dia benar menyukaimu. Meskipun aku tidak mengenalmu secara langsung, aku hanya mengenalmu dari ceritanya saja. Sampai di saat itu, aku melihat senyum bang Arga lebih lebar dari biasanya dan dia bilang pada semua orang rumah kalau gadisnya menerima cintanya, bang Arga mulai menjadi pemuda yang riang di rumah. Dia semakin memamerkanmu kepada siapa saja. Sungguh aku tidak menyukai sifat tukang pamernya itu" Jelasnya sambil tertawa
Aku hanya diam dan terus mendengar cerita Raga.
"Sampai di mana kejadian yang tidak pernah terduga terjadi. Aku mengenal kak Bella karna dia sering belajar di rumah bersama bang Arga dan bang Dias. Aku juga tidak tau kalau kak Bella menyukai kak Arga. Lalu kejadian yang merubah semuanya terjadi. Bang Arga kehilangan senyumannya hari itu juga. Dia juga berubah menjadi pemuda tidak tersentuh seperti saat ini"
Raga menghentikan ceritanya dan menatapku
__ADS_1
"Di hari kejadian itu juga dia berkata, "Gadis yang ku cintai membenciku sebelum aku membuatnya bahagia"