Always Him

Always Him
21


__ADS_3

Gadis POV


Hari terakhir MOS, banyak acara yang di tampilkan di sini. Ada bazar juga yang menawarkan banyak jajanan kekinian yang menarik selera.


Band sekolahku menghibur semua yang ada. Di band itu terdapat personil yang enak di pandang.


Aku baru sadar kalau di sekolah baruku menjadi gudang pria tampat dan berbakat.


Kenapa tidak dari dulu saja aku sekolah disini.


Sambil mencari ilmu sambil cuci mata memandang ciptaan Tuhan yang tambahan vitamin A.


Meskipun mereka semuanya cakep, tapi gitarisnya yang mempunyai jumlah fans berlebih.


Kuakui memang dia lebih menarik dari yang lain. Rambut berantakan, menggunakan setelan hitam di tambah sobekan yang ada di lututnya itu, terlihat menawan.


Sial. Apa aku akan selalu memperhatikan seseorang dalam waktu yang singkat.


Tapi tidak ada salahnya bukan menjadi pengagum cogan.


Aku masih tidak ingin jatuh cinta, meskipun sudah move on tapi untuk memulai cinta sepertinya tidak.


Tidak lama kemudian penampilan mereka telah selesai. Tidak sengaja tatapanku dengan gitaris itu bertemu.


Sial! Aku baru tau dia memiliki mata yang sungguh menawan.


Jantungku bekerja lebih keras lagi hanya dengan tatapannya.


Kalau dulu dengan senyuman, sekarang dengan tatapan?


Apakah takdir sebercanda ini?


Aku saja tidak tau dia siapa dan sekarang aku mulai ingin tau siapa namanya!


Dia pasti kakak kelas bukan?


Akhirnya aku memutuskan pandanganku dengannya dan beranjak pergi.


Menatap cowok ganteng terlalu lama tidak baik bukan?


Aku beranjak dari sana dan pergi ke perpustakaan. Di sini sangat menenangkan dengan buku-buku yang lebih banyak dari sekolahku dulu.

__ADS_1


Tentu saja aku membaca novel, mana mau aku membaca hal-hal yang memberatkan otakku yang tidak seberapa ini.


"Boleh aku duduk di sini?" Tanya seseorang.


"Tentu" Jawabku tanpa menengok ke arahnya.


Kapan dia datang? Kenapa tidak terdengar pergerakannya? Apa yang baru saja berbicara itu hantu? Akupun menengok ke arahnya.


Astaga! Dia gitaris tadi.


Kalau di lihat dari dekat, dia lebih segalanya di banding Raga.


Sialan aku jadi membanding orang sekarang.


Tapi aku berkata jujur.


Aku terus menatapnya dan dia juga menatapku seakan menanyakan apakah ada sesuatu.


Akhirnya aku memutuskan pandanganku padanya.


Gile, debaran jantungku bukan main. Dia selalu saja berdebar kencang di waktu yang salah. Dia tau saja kalau ada cowok cakep di sekitarnya. Sungguh menyebalkan.


Akupun berusaha melanjutkan kegiatanku tapi tidak bisa. Aku tidak bisa mencegah kepala sialku ini untuk tidak menengok ke arahnya. Akupun berniat pergi dari sana.


"Ke kelas"


"Duduk"


"Apa?"


"Lo budek?" Tanya dia galak.


"Tidak" Kesalku


Akupun berniat pergi dan menjauh dari pria galak itu. Cakep tapi galak. Aku jadi menyesal memujinya tadi.


"Apa lo ga denger apa tadi?" Teriaknya.


"Kenapa kamu teriak-teriak? Ini perpustakaan!"


"Karna lo budek!"

__ADS_1


Sialan. Mulutnya pedes banget kek rujak yang sering di pesan ibu.


"Aku ga budek!" Aku semakin kesal


"Yaudah kembali ke sini! Gue ga nerima bantahan!"


"Emang kamu siapa memerintah orang?" Gerutu ku.


"Aku masih bisa mendengarnya kalo lo mau tau."


Emang benar-benar harus sabar kalau di dekatnya.


"Nama lo siapa?"


"Gadis. Kamu?"


"Dias"


Selain galak dia juga irit bicara.


Apa tujuan dia menyuruhku duduk kembali? Kurasa kita tidak pernah sedekat ini sebelumnya.


"Lo kenal Arga?" Tanyanya tiba-tiba


"Kamu juga mengenalnya?" Heranku


"Ya, dia sahabat gue"


"Oh, aku berteman dengan Raga sejak SMP"


"Jadi lo kenal Arga?" Tanya dia lagi


"Tentu, dia kakak Raga bukan?"


"Hanya itu? Lo ga inget dia?"


"Kenapa bertanya seperti itu?"


"Lupakan. Ayo kembali"


Ada apa dengannya? Kenapa dia bertanya seperti itu?

__ADS_1


Apa selain sebagai kakaknya Raga, apa aku mengenal kak Arga sebelumnya?


Tapi kenapa aku tidak ingat?


__ADS_2