Always Him

Always Him
22


__ADS_3

Seharian aku di buat pusing dengan pertanyaan yang sama.


Apakah aku mengenal kak Arga?


Apa benar begitu?


Aku hanya baru menemuinya saat berkunjung ke rumah Raga, dan ku rasa itu adalah pertemuan pertama kita.


Entahlah, kenapa juga aku memikirkan itu.


Tapi pertanyaan itu sangat mengganggu. Selain kak Arga yang menanyakan, kak Dias juga menanyakan hal yang sama.


Sebenarnya ada apa?


Kenapa aku memulai masa putih abu-abu ku seperti ini.


"Gadis apa kabar?" Suara itu mengembalikanku ke dunia fana.


"Gama?" Jawabku sedikit teriak


"Sudah lama tidak berjumpa ya, apa kabar?"


"Ya ampun Gama, kamu sangat berubah sekarang. Dulu waktu kecil kamu sangat gendut tapi lihatlah sekarang. Kamu tumbuh dengan sangat sempurna" Jawabku sambil cekikikan


"Bisa saja kau ini. Akhirnya aku bertemu lagi denganmu. Sini bagi nomor hp mu!"


Setelah membagi nomorku, kita berdua memutuskan untuk pergi ke kantin.


"Bagaimana Jogja?" Tanyaku


"Menyenangkan. Tapi tidak lebih menyenangkan karna tidak ada kamu di sana"


"Kamu itu ya, sudah menjadi pemuda yang jago gombal. Dasar playboy!"


"Hey, jangan menuduhku sembarangan! Begini juga aku tipe orang yang setia"


"Halah, lain mulut lain hati. Sudah kebaca tau ga"

__ADS_1


"Tidak percaya sekali kamu ini. Bagaimana kabar om dan tante?"


"Mereka baik, kamu harus menemui mereka oke!?"


"Tentu saja. Aku sangat rindu kue buatan tante Rara yang tidak ada duanya itu!"


"Bagaimana kabar om tante? Kamu sudah berapa lama di sini? Kejam sekali kamu tidak muncul di hadapanku saat itu juga!"


"Aku sebenarnya sudah di sini sejak SMA, tapi aku hanya tidak sempat saja menemuimu"


"Tidak sempat atau tidak mau?"


"Bukan begitu, aku hanya sibuk saja"


"Dasar buaya yang punya jurus 1000 alasan"


"Hahaha kamu tetap lucu seperti dulu Dis"


"Gombalanmu tidak akan berlaku untukmu"


"Aku sedang tidak gombal"


"Kamu memang Gadis ku" Jawab Gama dengan tersenyum


Ya Tuhan, Gama semakin menawan dengan senyuman itu. Memang Gama adalah kakak kelasku. Tapi kita sudah bertetangga dari kecil. Dan dia sekarang sudah menjelma menjadi pemuda yang menawan. Tidak salah memang kalau banyak wanita yang rela antre demi mendapat balasan hati Gama.


"Hei Dis, boleh gabung?"


"Tentu saja Ga, sini duduk"


"Oh ya, siapa dia Dis?" Tanya Raga sambil menunjuk orang yang dimaksud


"Kenalin, dia Gama. Gama ini Raga" Jawabku mengenalkan mereka berdua


Anehnya Gama menatap Raga dengan tidak suka dan cenderung bodoamat, sedangkan Raga selalu mempertahankan senyuman terbaiknya setiap waktu.


Aku tidak pernah melihat Gama tidak ramah kepada orang asing, tapi lihatlah sekarang! Apakah waktu benar-benar bisa merubah seseorang?

__ADS_1


Entahlah, aku tidak ingin memusingkan itu.


Akhirnya kita bertiga melanjutkan makan kita dengan khitmad. Suasana seperti ini sangat tidak ku sukai. Tapi aku juga bingung mau membuka pembicaraan seperti apa.


"Gadis!"


Suara itu mengagetkanku.


"Kak Arga ada apa? Tanya ku


"Kamu mengenalnya Dis?" Gama mulai membuka suara


"Ya, dia kakaknya Raga"


"Astaga benar kata orang, dunia memang tak selebar daun kelor" Jawab Gama lagi


"Jangan bilang kalian sahabatan juga?" Tanyaku heran


"Juga?" Tanya kak Arga sambil duduk di sampingku


"Iya, aku tadi bertemu dengan kak Dias di perpustakaan. Kita tidak sengaja mengobrol dan menanyakan tentang kakak kepadaku"


"Apa yang dia bicarakan?" Tanya Gama


"Dia bertanya apakah aku tidak mengingat kak Arga"


"Jadi maksud kamu di Ga?" Tanya Gama dengan wajah yang sangat sulit diartikan


"Ya" Jawab kak Arga.


Irit bicara. Kak Arga sekali bukan!?


"Apa yang sebenarnya kalian bicarakan? Apa kalian menyembunyikan sesuatu?" Tanyaku terheran.


"Jadi benar bang, Gadis adalah gadis yang kamu maksud?" Tanya Raga setelah terdiam lama


"Aku tidak mau memberikan jawaban yang sama" Jawab kak Arga

__ADS_1


"Sial" Umpat Raga lalu meninggalkan kita bertiga


Apa sebenarnya yang terjadi?


__ADS_2