
"Kesempatan apa?" Tanyaku
"Kesempatan untuk mencintaimu" Jawab Arga
"Mau ya?" Tanya Arga
"Aku gabisa" Jawabku
"Kamu masih ragu?"
"Ya!"
"Aku pasti buktiin ke kamu kalo aku bisa kayak dulu lagi"
"Terserah!"
Aku beranjak meninggalkan tempat laknat itu tapi Arga kembali menahanku.
"Lepasin, Ga!" Seru ku
"Gamau, nanti kamu pergi lagi"
"Aku gabakal kemana mana"
"Bohong!"
"Astaga, kenapa kamu jadi kekanakan begini? Ayo pulang!"
"Baiklah"
Arga lalu bangkit dari tempatnya dan jalan sempoyongan. Aku sampai memapahnya sampai di parkiran mobil.
"Mana kuncimu?" Tanya ku
Arga hanya bergumam tidak jelas. Dia sudah benar benar mabuk sekarang.
Aku langsung merogoh kantong celananya dan berhasil menemukan kunci mobilnya.
Aku mendudukkan dia di kursi penumpang dan aku duduk di bagian kemudi.
Sejenak aku berdiam untuk mengumpulkan tenaga ku yang terkuras tadi.
Setelah di rasa sudah cukup, aku langsung menjalankan mobil Arga.
"Dimana dia tinggal? Aku lupa menannyakan Gege tadi" Gerutu ku
"Arga!" Seru ku
Tidak ada jawaban.
Aku menengok ke arahnya, ternyata dia sudah tertidur.
"Kemana aku harus membawanya? Kalau ku bawa ke kontrakanku, itu sangat tidak mungkin" Batinku
Setelah menimbang nimbang semua yang aku pikirkan, akhirnya ku putuskan untuk membawanya ke kontrakanku.
Setelah sampai di depan kontrakanku, aku bingung mau membawanya masuk.
Jujur saja dia sungguh berat dan sangat menyusahkan di waktu yang tidak tepat.
"Arga bangunlah sebentar!" Lirihku
"Arga!"
"Kak Arga!"
__ADS_1
Dia masih diam tanpa terganggu denganku.
"Ck menyebalkan!" Gerutuku
Aku mencoba memapahnya dengan segenap kekuatan yang tersisa dalam tubuhku hari ini.
Setelah sampai di kamarku, aku langsung membanting Arga ke kasur.
Aku lalu duduk di sofa sambil menetralkan pernafasanku.
Benar benar manusia menyebalkan!
Ingin ku cakar wajahnya yang ganteng itu, tapi tak tega.
Setelah dirasa cukup stabil, aku mendekat ke Arga yang sudah berkelana di alam mimpinya.
Aku menanggalkan sepatunya dan menyelimutinya.
Tapi tak lama kemudia dia menyibak selimutnya.
Mungkin dia gerah, maklum disini yang ada hanyalah kipas kecil.
Aku melihat kemeja yang dia pakai cukup basah. Apa dia kegerahan atau ketumpaham minuman di club tadi?
Aku mencoba membuka kemejanya dengan pacuan jantung yang sangat cepat.
Astaga, apakah aku bisa melakukannya?
Setelah memantapkan hati, aku mulai menanggalkan kemejanya.
Setelah berhasil, aku beranjak dari posisiku tapi tertahan karna Arga mendekapku dengan erat.
"Arga lepasin!" Seruku sambil berusaha menjauh
"Jangan pergi!" Seru Arga
"Arga, lepasin!"
Arga tidak menjawab dan terus memelukku erat.
"Kalo gamau lepas, aku gaakan mau ketemu kamu lagi!" Ancam ku
Arga langsung membuka kedua matanya tanpa melepaskan pelukannya.
Sungguh, posisi kita saat ini sangat membuatku tak nyaman.
"Yakin gamau ketemu aku?" Tanya Arga
"Ya!"
"Yaudah, pergi aja"
"Lepasin dulu!"
"Aku udah lepasin dari tadi"
"Jangan becanda!"
"Aku ga lagi becanda"
"Menyebalkan!"
Aku terus berusaha terlepas darinya tapi usahaku sia sia. Yang ku dapat sekarang hanyalah capek.
"Menyerah?" Tanya Arga sambil tersenyum mengejek
__ADS_1
"Gaakan"
"Lalu kenapa berhenti?"
"Capek"
"Astaga lucunya sayangku ini"
"Jangan lebay"
"Seperti cintaku yang hanya padamu, lebayku juga hanya milikmu"
"Menjijikkan"
"Puji dikit kenapa sih"
"Boleh aku tanya sesuatu?"
"Waktu dan tempat dipersilahkan"
"Apa hubunganmu dengan kak Mia?"
"Kenapa tanya tentang Mia?"
"Jawab aja"
"Cuma temen"
"Yakin? Gaada lebihnya?"
"Ada sih, tapi dikit"
"Kalian sudah ngapain aja?"
"Tanya yang lain aja ya"
"Jadi bener apa kata kak Mia?"
"Dia bilang apa?"
"Semuanya"
"Kamu percaya sama aku kan?"
"Kamu bukan Tuhan yang harus ku percaya"
"Bukan dalam artian begitu. Kalo aku cerita, kamu mau dengerin tanpa nyela aku kan?"
Akupun mengangguk.
Arga mulai membuang hembusan nafasnya dengan berat. Lalu bangun dari posisinya, sehingga aku ada di pangkuannya sekarang.
"Aku pernah di titik kehilangan arah hidupku sejak kamu bilang kalo kamu benci sama aku. Aku merasa gagal buat perjuangin kamu dan gagal juga buat jadi temennya Bella saat itu. Aku temenan sama Bella dari kita kecil, aku anggep dia sebagai saudara aja ga lebih. Lalu kamu dateng, aku sudah jatuh hati sama kamu sejak aku jengukin kamu di rumah sakit. Saat itu kamu ada di gendongan mama, aku mendekat dan memegang tangan kecilmu sambil bilang, "Kamu akan jadi princessku". Ku kira itu hanya omongan anak kecil saja, tapi perasaan itu semakin bertambah besar seiring berjalannya waktu. Aku juga sering merhatiin kamu main di taman komplek sambil bawa boneka kesayanganmu. Laku aku memberanikan diri mengajak kamu bicara. Setelah itu, hampir setiap sore kita bertemu di taman, sampai kejadian itu terjadi yang mengubah hidupku sampai saat itu. Kamu selaku menjauh bahkan keluargamu pindah rumah. Aku merasa bersalah sekaligus rindu pada gadis kecilku yang berkuncir kuda. Setelah kejadian itu, aku jadi rebel. Suka bolos sekolah, gamau belajar, suka bantah papa mama, semua kenakalan aku lakuin. Bahkan saat smp, aku ikut tawuran sampai di marahin mama. Kebiasaan tawuran itu lanjut sampai aku sma. Sampai aku ketemu lagi sama kamu di sekolah waktu itu tapi kamu lupa sama aku. Akhirnya seperti ini kita sekarang" Jelas Arga
"Kamu ga jawab pertanyaan ku"
"Pertanyaan apa?"
"Pura pura lupa"
"Ngambekan. Senakal nakalnya aku, kamu perempuan pertama yang aku sentuh"
"Sentuh dalam artian apa?"
"Mau reka adegan?"
__ADS_1