Always Him

Always Him
24


__ADS_3

Setelah kembali ke kelas, mulutku langsung gatal ingin menanyakan maksud Gama tadi pada Angie.


"Angie, boleh aku tanya sesuatu?" Tanyaku saat sudah mendarat di bangku


"Soal tadi ya? Harus gue jawab" Jawab Angie


"Aku tidak memaksamu sih, tapi kalau kamu mau jawab aku malah senang"


"Yang di katakan Gama itu benar. Gue emang cewek di masa lalu Arga"


"Lalu apa hubungannya dengaku? Kenapa semua teman kak Arga menanyakan apakah aku mengingatnya atau tidak?"


"Lo beneran ga inget sama sekali?"


"Kamu tau sesuatu?" Tanyaku heran


"Jadi lo ga pura-pura?"


"Pura-pura apa?"


Sial aku semakin ketauan begonya


"Sudahlah, lupakan"


"Jadi apakah kita juga saling mengenal sebelumnya?


"Ya"


"Mengapa tidak menyapaku?"


"Meskipun kenal kan belum tentu akrab"


Sialan benar juga. Kenapa aku menanyakan itu kepadanya. Sudah jelas dia tidak mau menjawab pertanyaanku.


Aku baru sadar bahwa Angie bukanlah gadis yang ramah. Dia seorang yang angkuh dan memandang yang lain tidak lebih baik darinya.


Lupakan saja perkataanku dulu yang ingin bersahabat dengannya. Cukup dengan menjadi teman sebangkunya saja sudah melelahkan.


Bel pulang berbunyi, aku bergegas ke tempat favoritku di sekolah ini sambil menunggu jemputan datang.


Setelah sampai di perpustakaan, seperti biasa di sini hanya di isi dengan buku dan penjaga perpustakaan.

__ADS_1


Aku berjalan menuju lorong di mana terdapat novel-novel yang menjadi temanku setiap aku ke sini.


Setelah menemukan buku yang ingin ku baca, aku duduk tanpa menyadari bahwa ada seseorang yang terganggu akan kehadiranku.


"Sedang apa kamu?" Sarkasnya


"Kamu bisa melihatnya sendiri"


"Di tanya malah memerintah"


Akupun menghiraukannya dan duduk tenang di tempatku.


"Jadi kamu mulai berani dengan ku?" Tanya seseorang


"Apa masalahmu?" Tanyaku mulai tersulut


"Kamu"


"Memangnya aku kenapa?"


"Karna kamu sudah berani denganku"


"Emang seharusnya kamu begitu"


"Dasar aneh" lirihku


"Aku bisa mendengarnya!" Sahut dia lagi


"Bagus kalau kamu mendengarnya. Berterima kasihlah karna kedua telingamu masih berfungsi dengan baik"


"Beraninya kau!" Marah dia


"Kenapa kamu jadi marah? Apa perkataanku terlalu menyinggungmu?" Jawabku marah juga


"Kenapa kamu marah juga? Tidak ingat kalau ini perpustakaan?"


"Coba kamu ngaca sana" Jawabku malas


"Kamu memang tidak berubah"


"Kata siapa aku tidak berubah hah?"

__ADS_1


"Hey, kenapa kamu membentakku?"


"Kenapa kamu selalu berfikir aku tidak berubah? atau lebih tepatnya belum berubah? Memangnya kau siapa hah?"


"Bukan siapa-siapa" Jawabnya dengan menatapku dalam


Tatapan mata sialan.


"Jelas kau bukan siapa-siapa. Kau hanya seorang brengsek yang pernah ku temui" Marahku


Sialan, karnanya aku tidak bisa mengontrol emosiku.


"Kamu sudah meningatnya?" Tanya dia masih menatapku dalam


"Mengingat kalau kamu adalah brengsek? Kalau itu adalah pertanyaanmu maka jawabannya adalah iya!"


Aku yakin muka ku sekarang sudah seperti kepiting rebus saking emosinya.


Aku juga tidak tau kenapa aku bisa sekesal itu padanya. Benar-benar sialan!


"Jadi kamu tidak pernah melupakanku, Dis?" Tanyanya denga tatapan yang sulit di artikan


"Bukankah sulit melupakan seorang brengsek?"


"Maafkan aku, Gadis!" Lirihnya


"Apa aku harus melakukannya?" Tanyaku sambil meninggalkannya yang masih diam di tempatnya.


Akupun terus berlari tanpa bisa menahan air mataku. Sialan.


Hellloooo sobat ambyarnya Gadis!


Bagaimana part ini?


Sudah ketebak siapa yang ngobrol sama Gadis tadi?


See u tomorrow ye!


Sincerely,


Didi

__ADS_1


__ADS_2