Always Him

Always Him
4


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


Hari ini ada kegiatan bakti sosial di sekolahku. Semua penghuni sekolah sibuk mempersiapkan semua perlengkapan yang dibutuhkan demi kemeriahan acara baksos.


Kita mengadakan pawai mengelilingi komplek sekitar sekolah, membagikan bahan makanan kepada warga sekitar yang membutuhkan.


Sungguh pengalaman sosial yang sangat menarik bagiku yang pertama kalinya berhadapan langsung dengan masyarakat.


Akhirnya kita semua kembali ke sekolah dan menikmati jajanan yang dijual oleh masing-masing kelas.


Ajeng dan aku sibuk membeli jajanan yang enak dipandang mata sekaligus mengenyangkan naga kita yang semakin menggendut di perut kita.


Saat Ajeng dan aku sedang asik ngobrol, tiba-tiba bu Indah memanggilku.


"Gadis kemarilah!"


"Ya bu, ada yang bisa saya bantu?"


"Berdiri di sana untuk foto majalah sekolah!"


"Baik bu"


Akupun berjalan ke arah yang di tunjuk bu Indah. Hari ini cuaca sangat terik dan aku mulai haus karna belum sempat minum dan malah asik makan dan ngobrol sama Ajeng.


"Gadis tunggu sebentar ya, temanmu lamban sekali. Kemana dia?" Seru bu Indah.


Siapa yang bu Indah maksud? Ajeng? Tapi bukankah bu Indah tadi melihatku bersama Ajeng? Temanku hanya Ajeng bukan?


"Nah itu dia!" Seru bu Indah mengembalikanku ke dunia yang sempit ini.


Akupun mengikuti arah mata bu Indah. Dan Raga! Jadi yang dimaksud bu Indah sebagai temanku adalah Raga?


Oh tidak, kinerja jantungku mulai tidak terkendali lagi!

__ADS_1


Tuhan, tolong pelankan debaranku ini agar tidak memalukan di depan banyak orang.


"Raga cepat berdiri di samping Gadis untuk berfoto!" Seru bu Indah lagi.


Perlahan Raga mulai berjalan ke arahku sambil menampilkan senyuman terbaiknya.


Kesialanku tidak berhenti kalau sudah di dekat Raga Pramudya.


Demi Tuhan aku merasa wajahku memanas entah karna apa.


Dia hanya tersenyum dan sikapku seperti aku mendapat hadiah liburan bersama idolaku?!


Hentikan kegilaanmu Gadis! Dia hanya tersenyum!


Akhirnya aku dan Raga berfoto untuk dokumentasi acara hari ini dengan menahan gejolak yang entah apa itu.


Setelah berfoto dengannya, dia akhirnya menjauh tanpa mengatakan apapun.


Memangnya aku berharap dia melakukan apa? Kita hanya teman yang tidak sengaja satu kelas dan ngobrol saat aku tersesat tempo hari bukan?


Akupun melangkahkan kaki ku kembali ke tempat Ajeng berada.


"Ada apa dengan muka mu itu?" Sambar Ajeng.


Ya, dia selalu begitu. Selalu to the point.


"Aku baik" Jawabku.


"Aku tidak yakin dengan mulutmu itu? Bukankah kamu baru selesai berduaan dengan Raga?"


"Tidak!"


"Lalu tadi itu apa?"

__ADS_1


"Kita hanya foto untuk majalah sekolah. Ayo kita kesana, aku haus!" Aku mencoba mengalihkan pembicaraan yang tidak ku sukai ini.


"Ayo!"


Setelah membeli minum dan lagi-lagi membeli jajanan yang sudah tidak terhitung jumlahnya, aku dan Ajeng kembali ke tempat kita duduk tadi sambil membicarakan apapun.


Perlu diketahui Ajeng adalah sumber gosip terpercaya di sekolah ini. Sebelum ada akun akun lambe di dunia maya, Ajeng adalah lambe pertama yang ku kenal.


Dengan sikapnya yang ramah tidak heran bahwa dia mempunyai banyak teman dan sumber terpercaya lainnya dari semua yang diomongkan kepada ku saat ini.


Setelah asik membicarakan gosip yang tersebar di sekolah ini,


"Gadis sepertinya Raga berjalan ke arah kita" Bisik Ajeng


"Ha?"


"Ck lihatlah ke depan! Raga menghampirimu!"


Lalu akupun memperhatikan langkah raga yang semakin mendekat.


Sial dia semakin mengagumkan!


"Hi Gadis!" Sapa Raga


"Hanya Gadis?" Sewot Ajeng


"Hi juga Ajeng! Oh ya Gadis, apakah aku bisa mendapatkan nomor telfonmu?" Jawab Raga


"Menyebalkan aku tidak dianggap" Gerutu Ajeng


"Gadis? Apakah kamu mendengarku?" Tanya Raga lagi setelah tidak mendengar jawabanku


"Ya?"

__ADS_1


"Apa aku bisa mendapatkan nomor telfonmu?" Tanya Raga kembali


Sial demi apapun! Muka ku terasa panas.


__ADS_2