Always Him

Always Him
35


__ADS_3

Tahun kedua bagiku sungguh menyenangkan.


Aku juga bersahabat dengan Caca yang merangkap jadi kekasih Raga sekarang.


Kalau dulu, mengetahui Raga punya seorang kekasih, aku sudah pasti uring-uringan.


Sekarang, aku ikut bahagia karna menurutku Raga bersama orang yang tepat sekarang.


Sudah di tahun ketiga. Aku, Caca dan Raga selalu sibuk belajar dan nongkrong di perpustakaan setiap harinya.


Kita bertiga tidak ada yang ikut bimbel, kita sudah sepakat buat belajar bareng karna tidak di pungut biaya dan mudah mengatur waktu.


Kelas 3 di negara ini selalu identik dengan ujian. Tidak pernah lepas dari kata ujian.


Aku belajar giat agar di terima di kampus yang ku inginkan nantinya.


Meskipun kita bertiga punya tujuan yang berbeda, tapi kita saling membantu dalam pelajaran.


Aku ingin lanjut studi kedokteran seperti impianku sejak dulu. Aku juga memutuskan untuk melanjutkan studi di universitas negeri di Surabaya.


Seperti cerita sebelumnya, Raga akan melanjutkan studinya ke bisnis di universitas negeri di Jogja.


Caca, dia akan lanjut studi ke Jerman dengan ambil jurusan fisika.


Sungguh otaknya benar-benar encer.


"Gimana Ca, sudah belajar tes masuk ke Jerman?" Tanyaku


"Sudah dan sungguh memusingkan. Kamu tidak ingin menemaniku ke Jerman?" Jawab Caca


"Sayang sekali aku tidak di izinkan keluar Indonesia sama ayah"

__ADS_1


"Kamu masih ingin lanjut ke Surabaya?" Tanya Raga padaku


"Tentu. Itu kampus impianku"


"Tidak mau lanjut ke universitas di sini aja bersama ku?"


"Benar kata Raga. Kamu tidak ingin lanjut di sini saja? Tanya Caca


"Keputusanku sudah final. Kampus di sini akan menjadi pilihan kedua untukku" Jawabku sekenanya


"Tapi akan lebih seru kalau kamu tetap di sini" Jawab Caca


"Jadi kamu tidak ke Jerman?"


"Tentu jadi"


"Lalu?"


"Lanjut di sini saja dan temani Raga. Hitung-hitung awasi dia, sapa tau nanti dia akan bermain api di belakangku"


"Mana berani aku melakukan itu? Bisa-bisa aku di tembak papanya"


"See, tidak perlu di khawatirkan lagi, Ca. Cukup percaya sama Raga"


"Baiklah" Jawab Caca dan aku melihat raut wajah khawatirnya.


Aku hanya merasa ada yang mereka khawatirkan terhadapku. Tapi aku tidak mau menerka-nerka hal yang tidak pasti.


Kita bertiga lanjut belajar dan belajar.


Saat menyadari hampir larut, kita menghentikan kegiatan kita dan pulang.

__ADS_1


"Kamu yakin tidak ingin pulang bersama kita?" Tanya Caca


"Iya, aku akan naik taksi saja. Sampai ketemu besok"


"Yasudah, kamu hati-hati ya. Kalau sudah sampai rumah kabari aku"


"Iya bawel. Raga hati-hati, jangan ngebut"


Sesampainya di rumah, aku langsung rebahan di kasurku.


Aku juga memainkan ponselku sambil memberi kabar ke Caca.


Tidak sengaja aku membuka sosmed dan ada foto kak Arga di sana.


Bagaimana kabarnya?


Apa dia baik?


Apa dia masih menjadi kak Arga yang rebel atau bahkan lebih parah?


Aku melihat pergaulan kak Arga di sosmed semakin mengerikan.


Dia menggandeng cewek yang berbeda setiap harinya.


Tentu saja aku tau itu semua bukan dari akun kak Arga sendiri, melainkan dari akun fansnya kak Arga.


Aku dan kak Arga tidak pernah komunikasi setelah kejadian dulu.


Apa yang sudah ku lakukan?


Kenapa aku jadi memikirkan kak Arga?

__ADS_1


Toh, baik dan tidaknya dia tidak ada hubungannya denganku.


Mending aku tidur agar besok ujian bisa berfikir dan menjawab dengan benar.


__ADS_2