Always Him

Always Him
51


__ADS_3

Setelah melihat foto yang di kirim Gege, aku langsung bergegas menghampiri tempat yang dimaksud Gege tadi.


Dengan tergesa tanpa mengganti piama tidurku, aku menyambar jaket dan kunci mobil.


Aku membawa mobilku seperti orang yang sedang berlomba dan memenangkan hadiah yang sangat aku inginkan.


Entah apa yang ku rasakan sekarang, marah dan kesal membaur menjadi satu.


Inginku telan hidup hidup manusia bernama Arga Pramudya itu.


Ku kira dengan mendekat padanya, semuanya akan menjadi mudah.


Tapi kenyataannya semua menjadi rumit karna manusia ******* itu yang sialnya aku menaruh hati padanya.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, aku berlari masuk ke dalam.


"Permisi, nona!" Ucap satpam


"Ya?" Tanya ku


"Bisa tunjukkan kartu member anda?"


"Apakah harus?" Tanya ku lagi


"Itu sudah aturan mutlak, nona"


"Tapi temanku di dalam"


"Maaf nona, anda tetap tidak bisa masuk"


"Bisakah anda panggilkan temanku?"


"Silahkan anda hubungi teman anda sendiri nona, saya tidak bisa meninggalkan tempat saya" Jelas satpam tersebut


Ah sial! Benar benar menyusahkan!


"Gue ga bisa masuk" Sambarku saat telfon di seberang terhubung


"Lo dimana?" Tanya Gege


"Depan" Jawabku


"Depan mana?" Tanya Gege lagi


"Ck, banyak bacot lo! Cepet kesini ***" Bentakku


"Sialan kalian berdua sama saja" Jawab Gege lalu mematikan telfonnya


Dasar menyebalkan!


"Gadis!" Teriak Gege

__ADS_1


Aku langsung berjalan ke arahnya.


"Ayo cepat! Kenapa semakin tua lo makin lelet aja?" Cerocos Gege


"Berani sama gue?" Pelototku


"Mana berani gue sama lo! Liat pawang lo ngamuk aja gue udah mundur"


Akhirnya kita masuk ke dalam tempat itu.


Suara musik menghentakkan kedua telingaku sampai telingaku terasa sakit.


Betul! Aku sekarang ada di salah satu club yang ada di kota ini berkat si Arga sialan itu.


Setelah sampai di tempat Arga duduk, mataku tidak bisa teralihkan dari pemandangan yang ada di depanku saat ini.


Benar benar manusia sialan!


"Arga!" Teriakku namun di hiraukan oleh yang punya nama. Entah dia memang mengabaikanku atau tidak dengar.


"Berhenti!" Teriakku sambil menarik lengannya


"Lihat! Gadisku ada di sini sekarang!" Oceh Arga


"Apa yang kamu lakuin?" Tanya ku


"Bersenang senang" Jawab Arga sambil menuang minumannya lagi


"Menghawatirkan ku?" Tanya Arga


Aku hanya diam tanpa menjawabnya.


Apa dia bodoh? Siapa yang tidak khawatir melihatnya seperti ini.


Aku lalu duduk di sampingnya sambil terus memperhatikannya.


"Apa kau bodoh?" Tanya ku


"Aku? Mana mungkin?" Jawab Arga


"Kenapa kamu ada di sini?" Tanya ku lagi


"Hanya ingin"


"Kenapa menyuruhku datang?"


"Aku tidak"


"Yasudah"


Aku langsung bangkit dari tempatku.

__ADS_1


"Jangan pergi!" Seru Arga sambil memegang erat pergelangan tanganku


"Lepasin!" Seru ku


"Jangan pernah pergi!" Seru Arga


"Jangan pernah pergi lagi" Seru Arga


"Jangan ninggalin aku lagi"


"Ku mohon! Maafin aku!" Gumam Arga sambil memelukku erat


"Lepasin!" Ucapku sambil berusaha melepas pelukannya namun gagal


"Kenapa?" Tanya Arga


"Kenapa kamu selalu pergi?" Tanya Arga lagi


"Apa karna Mia? Aku tidak ada hubungan dengannya" Jelas Arga


"Kumohon, percaya ya?!" Mohon Arga sambil mendongakkan kepalanya


"Kamu mabuk" Jawabku


"Aku cukup sadar untuk bicara sama kamu" Jawab Arga sambil menenggelamkan kepalanya di perutku


"Ayo pulang!" Ajakku


"Gamau pulang"


"Kalau begitu, lepaskan aku"


"Mau ikut aku pulang?" Tanya Arga


"Ga!"


"Ikut ya?"


"Gamau"


"Kenapa kamu selalu menolakku? Apa benar tidak ada kesempatan untukku?"


"Bukan seperti itu"


"Lalu?"


"Karna Arga yang sekarang bukan Gaga yang ku kenal dulu"


"Aku masih yang dulu"


"Dengan mabuk seperti ini? Apakah ini kamu yang sebenarnya?"

__ADS_1


"Apa kalau aku seperti dulu, akan ada kesempatan untukku?"


__ADS_2