Always Him

Always Him
61


__ADS_3

Gadis POV


Hari telah berganti, hari ini adalah hari pernikahanku dengan Arga.


Aku tidak pernah membayangkan hari ini terjadi secepat ini dalam hidupku.


Dengan Arga yang segera menjadi suamiku, membayangkannya membuat pipiku merona seketika.


Persiapan pernikahan yang sudah disiapkan oleh Mama dan Ibu sungguh jauh dari kesan sederhana yang ku inginkan. Aku sudah memprotesnya, tapi kedua wanita yang ku cintai itu berdalih bahwa tidak ada salahnya merayakan sesuatu yang hanya terjadi sekali seumur hidup.


Gaun pernikahan yang mereka pilihkan, dekorasi, gedung, makanan, semuanya terasa berlebihan. Tapi aku menyukainya.


Benar kata mereka, tidak ada salahnya merayakannya.


Bicara soal Arga, bolehkan aku sedikit bernostalgia?


Mungkin kalian akan sedikit bosan atau mungkin malas mendengarnya, tapi bolehkah?


Tidak ada salahnya bukan membicarakan hal yang sama berulang kali?


Aku yakin kalian juga pernah melakukannya meskipun tidak sesering diriku.


Arga Pramudya, dia adalah sosok yang dari dulu aku idamkan.


Dulu aku pernah bilang bahwa aku tidak mengingatnya adalah kebohongan yang sengaja aku ciptakan.


Mana bisa aku melupakan dia yang selalu menemaniku bermain boneka di taman, membantuku mengerjakan PR yang kupunya saat dia datang kerumah, mengingat dia adalah teman Kak Bebe.


Setelah berjalannya waktu, secara tidak sadar aku selalu menunggu kedatangannya baik di rumah maupun di taman.


Melihat Arga, aku seperti melihat sosok pangeran yang selalu ada di buku ceritaku yang dibacakan Ibu sebelum aku tidur.

__ADS_1


Lalu tiba-tiba Arga menyatakan perasaannya padaku, saat itu aku masih tidak tau apa maksudnya, tapi aku langsung mengiyakan saat dia bilang akan menjadi sosok pangeran dan aku adalah seorang putri.


Semuanya berjalan begitu menyenangkan seperti yang kuinginkan.


Tapi, semua berubah saat kita menemukan Kak Bebe marah padaku dan juga Arga.


Pertama kalinya Kak Bebe berteriak dan menangis di hadapanku.


Aku merasa bingung dan takut waktu itu. Aku juga tidak mengerti di mana kesalahanku.


Tetapi saat Kak Bebe bilang bahwa dia mencintai Arga dan menyalahkanku karena sudah berhubungan dengan Arga, duniaku seakan runtuh.


Semua kebahagiaanku langsung menghilang.


Apalagi saat aku melihat Kak Bebe memutuskan meninggalkan kita semua dengan cara seperti itu, aku langsung menyalahkan diriku.


Seandainya aku tau kalau Kak Bebe memiliki perasaan lebih ke Arga, mungkin aku tidak akan berhubungan dengan Arga.


Dan melihat orang yang kita sukai lebih memilih orang terdekat kita, mungkin akan medapat rasa kecewa setelahnya.


Mungkin itu yang dirasakan Kak Bebe.


Aku menyalahkan diriku saat itu, dan aku juga marah pada Arga saat mengetahui kalau ternyata dia tahu Kak Bebe memiliki perasaan lebih padanya.


Aku menghukumnya dan menghukum diriku sendiri.


Aku tidak mau lagi melihat wajahnya sejak hari itu.


Seakan semesta mendukung kemauanku, Ayah dan Ibu memutuskan untuk pindah dari rumah yang sudah memberi kenangan buruk bagi kita.


Tidak lama kita pindah dan memulai kehidupan baru setelahnya.

__ADS_1


Semua juga berjalan normal dan menyenangkan. Kita juga sudah mengikhlaskan kepergian Kak Bebe dan berharap dia sudah bahagia di Surga.


Dan akhirnya aku dipertemukan lagi dengan Arga, jantungku serasa tidak berjalan baik saat itu.


Saat pertemuan kita lagi untuk kesekian kalinya, tapi dia tidak mengenaliku.


Apa dia lupa?


Tapi, di pertemuan kita selanjutnya, ternyata dia tidak melupakanku dan aku tetap bersandiwara dan mengelak kehadirannya.


Tapi pesona Arga sangat sulit untuk ku tolak.


Dia selalu ada di dalam hatiku dan pikiranku.


Tok tok tok..


Ketukan pintu kamarku mengembalikanku ke dunia nyata.


"Sudah siap?" Tanya Ibu


"Iya" Jawabku sambil tersenyum


Aku sangat gugup saat menuruni tangga menuju kerumunan orang di bawah.


Lalu mataku menemukan sepasang mata elang yang juga menatapku di sana, aku kembali menampilkan senyuman terbaikku.


Aku juga melihatnya melempar senyuman terbaiknya.


Setelah aku sampai di sampingnya, dia langsung menggenggam erat tanganku.


Upacara pernikahanpun dilaksanakan, aku dan Arga sekarang sudah sah menjadi sepasang suami istri.

__ADS_1


"Hi, wifey!" Sapa Arga


__ADS_2