Always Him

Always Him
19


__ADS_3

Setelah istirahat tadi, kita anak baru melanjutkan kegiatan MOS di dalam kelas.


Aku sangat bersyukur tidak berpanas-panasan di lapangan karna harus duduk berdesakan dengan yang lainnya.


Setelah kegiatan semuanya selesai, akhirnya yang di tunggu-tunggu datang. Bel pulang sekolah.


Aku dengan semangat menuju gerbang sekolah dan pulang untuk tidur.


Tapi rencana hanya tinggal rencana.


Raga terus saja menggikutiku dari kelas tadi sampai sekarang.


Sungguh aku sangat tidak suka seperti ini.


Mungkin kalau aku masih menyukainya seperti dulu, aku akan dengan senang hati menerima keberadaannya yang selalu ada di dekatku. Tapi sekarang, lihatlah! Perhatikan baik-baik!


Dia sudah seperti anak ayam warna kuning yang selalu mengikuti langkah induknya. Bedanya, anak ayam mengikuti induknya di belakangnya kalau Raga ada di sebelahku.


Sangat mengganggu!


Belum lagi tatapan orang-orang yang ada seperti melihat apalah itu, aku sangat tidak nyaman dengan itu.


"Bisakah kamu menjauh?"


"Kenapa?"


"Aku tidak suka. Lihatlah banyak yang memperhatikan!"


"Memangnya kenapa? Kita satu kelas, satu sekolah juga waktu smp, kita teman bukan? Jadi tidak masalah kalau jalan bareng sampai gerbang sekolah"


Demi keberuntunganku hari ini yang entah masih ada atau sudah habis karna kesialanku hari ini, kenapa dia tidak peka sekali kalau aku mengusirnya?


Haruskah aku berterus terang dengannya? Tapi itu terlalu kasar.


Entahlah tiba-tiba aku pusing memikirkan kelakuan Raga.

__ADS_1


Kenapa dia jadi aneh?


Kenapa dia tidak bersikap seperti Raga yang ku kenal dulu?


Dia sangat mengganggu dengan sifatnya yang sekarang.


Aku jadi ingin memberitau bu Sarah tentang kondisi Raga. Aku hanya takut di benar-benar salah ambil resep obat.


Akhirnya aku memutuskan untuk mengabaikannya dan terus berjalan ke gerbang sekolah.


Setelah sampai di gerbang sekolah, ku kira Raga akan berhenti disana dan menunggu jemputannya. Tapi aku salah, dia malah mengikutiku berjalan ke halte.


"Kamu yakin tidak ingin menyingkir?" Kesabaranku sudah lenyap.


"Kamu mengusirku?"


"Jawabannya ada dalam pertanyaanmu"


"Aku hanya akan naik bus, aku tidak mengikutimu"


"Terserah"


Bodoamat, aku tidak ingin memikirkannya.


Lama menunggu bus yang tak kunjung datang, aku mulai malas melihat Raga yang masih setia di sampingku.


Apakah aku lari saja dan naik taksi?


Tapi aku sayang duit, mending aku beli cilok mang Didin di depan komplek nanti.


Kalau aku nekat lari, pasti capek dan kaki ku sangat sakit.


Aku benci hari ini yang berhasil membuatku kesal bukan main.


Belum selesai kekesalanku, ada lagi yang membuatku darah tinggi nantinya.

__ADS_1


"Sedang apa di sini Dis?" Tanya orang itu


"Kamu tidak lihat aku dimana?" Dengusku


"Tidak"


Lihatlah sungguh menyebalkan. Dan lebih menyebalkan lagi, dia sudah duduk dengan anteng di sebelahku.


Sial!


Situasi apa ini?


Aku diapit oleh para Pramudya sialan ini.


Ada apa sebenarnya dengan mereka?


Kenapa mereka selalu dekat-dekat denganku?


Tidak takutkah mereka kalau aku akan membawa wabah yang siap mematikan mereka berdua?


Raga yang dulu ku kagumi akan sifatnya dan sekaligus menyandang mantan cinta pertamaku, sekarang sudah menjelma sebagai orang lain yang aku tidak kenali sifatnya.


Kak Arga yang pertama kali bertemu sangat dingin dan datar mulai bersikap menyebalkan sekarang.


Persetan dengan mereka berdua.


Selamat pagi sobat ambyarnya Gadis!


Semoga cerita Gadis membuat weekend kalian berhasil menambah satu senyuman di dalamnya!


Btw, kalian team Raga, Arga atau Gadis?


Atau mau jadi sekutu ku saja?😁


Terima kasih gaeeesssss

__ADS_1


Sincerely,


Didi


__ADS_2