Always Him

Always Him
44


__ADS_3

"Pergi!" Teriak ku


"Ga akan!" Jawabnya


"Biarin gue pergi!" Lirih ku


"Ga!"


"Kumohon" Mohon ku sambil menangis


Dia berusaha meraihku tapi aku berhasil menghindarinya.


"Ku bilang berhenti menyentuhku!" Teriak ku sambil menangis


"Apa salah ku, Ga?" Seru ku lagi


"Kumohon, berhenti!"


"Aku sangat membencimu!"


"Kenapa lo berubah?" Tanya ku


"I want u!" Serunya


"Tapi aku tidak. Kenapa tidak mengerti?!" Jawab ku


"Gadis" Panggilnya sambil berusaha memegang pundakku


"Ku bilang berhenti menyentuhku!" Teriak ku


Setelah teriakanku, aku di kagetkan dengan pintu toilet yang terbuka.


"Gadis!" Seru seseorang di depan pintu


"Gaga!" Panggilku sambil menangis.


Aku langsung terduduk di tempatku. Entah aku merasa lega atau apa.


Rasanya kaki ku tidak mampu lagi menopang berat badanku sekarang.


Aku belum bisa berhenti menangis saat ini.


Aku sangat bersyukur kak Arga segera datang.


Kalau tidak aku tidak tau lagi apa yang akan terjadi padaku?!

__ADS_1


"Apa yang lo lakuin?" Tanya kak Arga


"Lo masih tanya? Mata lo uda burem?" Jawab cowo itu


"Berhenti main-main" Seru kak Arga dengan wajah dinginnya


"Kenapa? Bukannya lo juga pernah lakuin ini ke Gadis?" Tanyanya


"Berhenti bicara omong kosong"


"Apa?"


"Jangan pernah ganggu Gadis lagi" Ancam kak Arga


"Lo takut? Gue juga udah ngerasain bibir manis Gadis beberapa menit lalu. Pantes aja lo ketagihan" Jawabnya


"Sialan!" Teriak kak Arga


Kak Arga langsung melayangkan pukulannya tepat di hidung mancung Raga.


Benar! Laki-laki brengsek itu Raga Pramudya.


Entah apa yang merasukinya sampai dia menjadi seorang brengsek.


Aku sangat membencinya.


Di saat Raga sudah berwajah berantakan sekarang, wajah kak Arga malah terlihat baik.


Apa kak Arga sejago itu?


Aku harus menghentikan mereka sebelum keributan ini mengundang perhatian banyak orang.


"Kak Arga berhenti!" Seru ku


Aku berusaha bangun dari posisi ku tetapi sangat sulit.


"Kak Arga!" Panggilku


Namun kak Arga tetap saja melanyangkan pukulannya.


Kak Arga semakin tak terkendali.


Aku takut terjadi apa-apa pada Raga meskipun aku membencinya.


"Gaga, berhenti!" Lirihku sambil memeluk kak Arga dari belakang

__ADS_1


Kak Arga otomatis menghentikan pukulannya.


Aku melihat ke arah Raga yang sudah tergeletak di sana.


Entah dia masih hidup atau tidak sekarang?


"Berhenti" Lirihku sambil menangis


"Berhenti menangis" Seru kak Arga


Aku hanya diam dan terus menangis.


Kak Arga menyeretku keluar dari sana dan membawaku ke atap sekolah.


"Apa ada yang sakit?" Tanya kak Arga


Aku hanya diam tanpa menjawab.


"Gadis!" Seru kak Arga


"Aku takut" Cicit ku


"Jangan takut, aku di sini" Jawab kak Arga


Mendengar jawaban kak Arga aku semakin menangis.


"Kenapa makin kenceng nangisnya? Udah ya, nanti ga cantik!"


Kak Arga mengusap air mataku dan menatapku lekat.


"Aku sangat takut padanya. Kenapa dia jadi seperti itu? Apa salahku? Kenapa dia jahat sekali padaku? Dia sudah berani menyentuhku!" Lirihku sambil sesenggukan


"Dimana saja dia menyentumu?" Tanya kak Arga dingin


Aku hanya diam sambil menatap kak Arga.


"Jawab!" Desak kak Arga


"Di sini" Jawab ku sambil menunjuk bibirku


"Shit!" Umpat kak Arga


Aku hanya diam dan menggigit bibir bawahku sambil menundukkan kepala.


"Aku akan membantumu membersihkan jejak Raga sialan itu dari tubuhmu" Seru kak Arga

__ADS_1


Aku langsung mendongak dan bingung apa maksudnya.


Sebelum aku sempat bertanya, kak Arga sudah meraih leherku dan mencium bibir bawahku.


__ADS_2