Amora

Amora
Dia adek gue oon


__ADS_3

"Amora." Teriak Mama Ara dari lantai bawah.


Amora yang sedang Streaming movie pun terhenti. "Iya Ma." Balas Amora sembari berdiri dan mengikat rambut coklatnya.


"Ada temen kamu, ee.. Eros namanya." Teriak Mama Ara, lagi.


Amora seketika mematung mendengar penuturan Mamanya.


"Si Eros main datang aja, jam berapa emang? Ah bomat." Gumam Amora sembari turun kebawah melihat 'Eros' tentu saja.


45 menit kemudian, taman belakang rumah Amora.


"Lah, si anying main nyerosot aja. Yang kanan tu Yas." Celoteh Vio yang sedang memainkan Game Online yang sedang masa bersama Abangnya.


"Eh kutu kupret, gue Abang lo. ABANG!!!" Teriak Teo di telinga Vio, seketika mereka pun saling bogem antara satu sama lain.


"Hmm, Bia kamu kalo ketawa tambah cantik aja sih." Goda Gean kepada Bia yang tengah tertawa melihat keuwwuan Vio dan Teo. Bia yang mendengar itu pun tersenyum malu.


"Si akang jago gombal yee." Dumel Amora tak terima dengan kedatangan rombongan besar itu. Memang Eros juga datang, tapi ga sendiri. Dia bawa satu kampung!


Taman belakang rumah Amora memiliki gazebo, ada kolam renang dan beberapa tumbuhan di sana. Dilengkapi dengan sebuah pondok kecil, dan beberapa sofa nyaman berwarna cerah. Sedikit ditanami rumput, dengan lantai keramik bermodel kerikil, pagar kayu dan beberapa ornament pendukung yang pas. Membuat taman belakang rumah Amora, terlihat elegan namun nyaman.


"Amora, beneran ini rumah lo? Dan emak-emak Cuantik itu Mama lo?" Tanya Teo memegang keningnya yang berdenyut akibat pukulan yang dilayangkan Vio. Amora memelototinya, Eros yang melihat itupun terkekeh. "Kamu cantik deh." Amora dan semua yang ada pun seketika melihat Eros, Eros pun segera memberhentikan tawanya. Ia tersenyum canggung.


Mulut sialan lo. Batin Eros seraya menggaruk tengguknya yang tak gatal.


Perhatian mereka teralihkan dengan datangnya Dea yang membawa salad buah dan beberapa jus.


"Gue rasa, ini rumah si Dea bukan Amora." Seru Teo yang dibalas anggukan yang lain. Amora yang melihat itu geleng-geleng kepala. "Si Dea? Siapa tuh?" Tanya Dea, entah pada siapa dia bertanya. Teo yang melihat itupun langsung mencubit pipi Dea, yang membuat sang empu terbatuk-batuk dengan jus yang diminumnya. "Si brengsek, oon lu?" Ciri khas seorang Deandra Ethandy, ketika sedang kesal, marah, terkejut, kata-kata kasar selalu terlontar keluar dari mulut manisnya itu.


"Nih, nih makan biarin si butoijo kek gitu." Bisik Bia kepada Dea seraya memberikannya salad.


Dea dan Amora saling pandang. "Amora, adek lo mana?" Tanya Dea memerhatikan sekitar.


"Lagi di familyroom mungkin." Balas Amora. Mereka pun memulai 'kegiatan belajar'.


"Rumah lo bikin betah tau ga, furniture nya kebanyakan kayu. Sama banyak tanaman juga. Sejuk disini, enak." Seru Zizi membuka percakapan.


"Ah iya ya. Taman belakang rumah lo juga luas, enak deh. bikin betah." Copas Dea.


"Ih Teo jangan pilih-pilih, sendokin aja ******." Geram Vio melihat Abangnya sangat jorok. Bagaimana tidak, ia menyedokkan salad buah tetapi beberapa buah yang tak mau dia makan dia keluarkan menggunakan tangan.


Amora menatap Teo jengkel. "Amora." Panggil Mama Ara. Mereka yang di situpun lantas tertuju pada Mama Ara.

__ADS_1


"Ajak adek." Seru Mama Ara lembut. Memang Ayah dan Mama Amora memakai peraturan sehari hanya memainkan ponsel, dan perangkat elektronik lainnya yang bisa merusak mata 6 jam sehari.


Amora mengangguk paham seraya, "Gue ajak adek gue?" Tanyanya kemudian di balas anggukan semangat mereka.


Familyroom, dilengkapi berbagai perangkat multimedia, TV LCD, video player, music player, dan game player. Juga dilengkapi dengan beberapa lemari, sofa-sofa berbagai macam bentuk yang didesain sedemikian rupa. Serta beberapa rak buku disamping lemari, dan beberapa furniture bergaya klasik.


"Dek, ayo kakak kenalin ke teman-teman kakak." Seru Amora melihat Kiano yang tengah rebahan di sofa.


"Ada laki?" Tanya Kiano sembari duduk menatap kakak perempuannya ini.


"Ada kok." Balas Amora sembari menjulurkan tangannya.


Mereka berdua pun berjalan menuju taman belakang. Baru membuka pintu dan semua mata tertuju pada kakak beradik itu. "Eh kampret." Tanpa sadar Dea mengucapkan kata itu ketika melihat Adik Amora yang sangat Kinclong. Mereka pun menertawakan Dea.


"Adek gue, Kiano. Adelard Kiano Zorya." Katanya mengenalkan pemuda tampan ini.


"Hai kak, jaga kakak gue yang jorok ini yah." Canda Kiano yang membuat mereka tertawa keras, dan mengejek Amora.


"Si cipit ngelanturnya banyak." Kata Amora sembari duduk disamping Teo. Eros yang melihat itu memincingkan matanya.


"Kiano yah? Gue dea." Ucap Dea melambaikan tangannya.


"Kak Dea cantik." Puji Kiano, Adelard Kiano Zorya. Anak lelaki bermulut manis ini seringkali bermasalah dengan perkataannya yang kadang kelewat jujur dan kadang kelewatan.


"Si Dea suka sama yang bocil yah?" Kata Teo sembari mengunyah. Mereka kemudian menjitak Teo, melemparinya dengan semua yang ada disitu. Dea menatap Teo dingin. "Eh tante cantik." Seru Teo yang membuat mereka berdua kejar-kejaran ditaman belakang itu.


Mereka terkekeh melihat Teo dan Dea berlarian seperti itu. "Padahal Dea sama Abang gue pernah dekat. Tapi ga tau kenapa mereka berdua ga jadian, eh malah putus kontak." Kata Vio melihat Abangnya yang terlihat bahagia bersama Deandra.


"Ha? Mereka berdua pernah dekat?" Tanya Amora tak mengerti.


"Iya, keknya waktu kelas satu deh. Deket banget malah. Tapi ga tau kenapa, eh tiba-tiba Abang gua mulai menjauh dari Dea. Sama gue juga kek gitu sih. Baru-baru ini lagi gue akrab sama dia." Jelas Vio.


"Dua orang yang berbeda sifat. Pelengkap kekurangan masing-masing dari mereka. Gue juga pengen punya seseorang yang bakal ngertiin. Mau nerima semuanya." Kata Amora. Dapat mereka rasakan ada gurat kesedihan pada ucapan Amora.


Amora menyendokkan salad kepiring dan memberikannya pada Kiano.


"Wah wah wah, Amora jadi lo suka sama yang bocil? Seharusnya lo bilang, udah terlanjur 20 cm gua." Teriak Dion dari pagar belakang rumah Amora. Semua yang disitu menatap Dion kemudian tertawa besar. Amora kesal.


Si Dion ga ada akhlak, ada adek gue ni. Batin Amora.


"Lo tu yah, udah gue bilang jaga mata lo hati lo juga. Lo suka main-main yah." Teriak Dion di balik pagar kayu itu.


"Woy Dion, datang-datang malah bikin rusuh. Siapa sih yang ngundang lo?" Ucap Eros, kesal dengan kedatangan makhluk halus itu.

__ADS_1


Dion kemudian membuka pagar dan melangkah masuk. "Gue kenal sama lo?" Tanya Dion kepada Eros, yang dibalas pelototan tajam dari Eros. "Hehehe, Gue mau nyelesein masalah gue dulu, jan ikut campur kalian pada." Jelas Dion kemudian berdiri disamping pot bunga besar itu.


"Gue ga nyangka Amora, lo bisa setega itu. Gue itu udah terlanjur 20cm, eh malah lo cari yang... ahh." Dramatis Dion kemudian membuat gurat wajah kecewa.


Amora buka suara, "Dia itu.."


"Alah basiii."


"Denge..."


"Bacot"


"Tap.."


"Malas gue denger penjelasan dari cewe kek lo." Ketus Dion, Amora kemudian berdiri menghampiri Dion dan menghantamnya. Satu bogeman mendarat sempurna dipipi Dion. Yang melihat itu pun seketika berdiri, mematung.


"Huh, jan bikin gue emosi. Gue ga tahan. Dan, Dia Adek Gue Oon." Teriak Amora ketika wajahnya dekat dengan wajah Dion.


Amora pun kembali. Mereka tak dapat berkata-kata. Dion berdiri dibantu Teo. Mereka menatap Amora dengan tanda tanya besar.


"Lo siapa sih Amora?" Tanya Eros yang kemudian dibalas anggukan mereka semua.


Kiano angkat bicara, "Dia kakak gue, anak kedua. Perempuan satu-satunya. Cucu kesayangan Oma Opa gue. Anak Mama Kyara dan Papa Arya."


Mereka menatap Kiano, kesal.


"Duh perih banget lagi." Kata Dion, yang membuat semua mata tertuju padanya.


"Gigi gue sakit bener." Darah segar pun keluar dari bibir kanannya. Amora yang melihat itu pun segera berlari memasuki rumah dan mengambil kotak P3K.


"Mau tau sesuatu ga?" Dan dibalas anggukan mereka, Eros pun ikut menganggukkan kepalanya. Ia penasaran dengan siapa Amora.


"Pukulan dia itu berat banget. Abang gue yang tingkat 5 di Jiujitsu aja bisa memar gara-gara satu pukulan dia. Ga berani gue bikin dia emosi. Makanya tadi gue liat si dia bikin Unnie kek gitu. Gue tebak dia ga bakal hidup lebih lama lagi. Tapi Unnie gue masih sadar kayaknya." Kata Kiano yang membuat perempuan disitu bergidik ngeri. Mereka berteman dengan orang yang luar binasa.


Eros kemudian tersenyum, salah Amora sendiri yang membuat Eros semakin penasaran dengannya.


Amora pun berlari mengampiri mereka membawa kotak P3K.


"Lo siapa sih Amora?"


( Unnie )= Kakak perempuan. Dalam Bahasa Korea.


Diketik dengan 1262 kata

__ADS_1


Selanjutnya......


__ADS_2