
Ketiganya menatap heran ke Erick "Tumben nie Erick pamit, biasanya juga main nyelonong ajah" batin Regan sontak berdiri mengekor Erick setelah pamit pada Adit dan kakaknya.
✍️✍️✍️
Di ruang accounting
"Non pulang nanti di jemput sopir?" tanya Cendana
"Nggak udah aku batalin, soalnya kak Erick maksa, dari pada gangguin muluk saat kerja ya mendingan ikut ajah maunya" jawab Cilla
"Oh" tanggap Cendana singkat
"Emang kenapa Na?"
"Mau ngajak kamu jalan, soalnya pulang kerja kak Titan mau jemput"
"Ciiiie... makin lengket ajah ni" Goda Cilla
"Ya harus dong, aku kan udah bilang aku pacaran karena serius, lagian siapa coba yang bisa menolak pesona kak Titan, di belakang banyak yang antri Non" balas Cendana
"Iiiss..dasar bucin" omel Cilla
"Yaelah semua orang bucin kali, butuh cinta bukan budak ya" sanggah Cendana
"Yayaya... " potong Cilla dan terus fokus kerja
Karena asyik dan tenggelam dalam kerjaan mereka tak terasa ternyata jam kerja pun berakhir. Cilla dan Cendana segera merapikan meja kemudian berjalan ke lobi, diasana Titan sudah menunggu.
Titan menyambut mereka dengan senyum mempesona, semua karyawan cewek menatapnya penuh kagum, Cilla merangkul manja Titan, Titan membalas pelukan Cilla dan mengacak rambut Cilla lembut, "Jangan manja gini terus nanti di liat Erick, lagian kasian pacar kakak jadi penonton" ujar Titan merangkul Cendana dan mengecup puncak kepalanya
"Maaf sayang...maklum adek kesayangan" ujar Titan
"Ya kak apaan sih, masa ia aku harus cemburu" timpal Cendana terseyum
Cilla terseyum sangat senang menyaksikan kakak dan sahabatnya bisa bersatu, bahkan Cendana sudah seperti saudaranya sendiri.
__ADS_1
"Iiish mesranya nanti dilanjut ya, ini area public!" tegur Cilla karena tak tahan melihat tingka Titan sok romantis
"Iri??, bilang Non" ujar Cendana dan Titan bareng
"Idiii, ngapain harus iri, pulang sana!" usir Cilla
"Ngusir ni Non?" tanya Titan
"Nggak...lanjutin diluar ajah gombalnya, kasian kan yang jomblo disini" jawab Cilla seenaknya
Titan terkekeh "Siap Tuan Putri...tunggu ya calon suaminya dan hati - hati, Gbu shalom by" goda Titan
Cilla cemberut tapi tetap membalas salam kakaknya.
Sepeninggal Titan dan Cendana, Cilla menuju mobil Erick dan langsung naik setelah memastikan tak ada orang melihatnya. Cilla duduk di depan dan langsung memejamkan mata melepas penat.
Tak lama Erick tiba ke mobil membuka pintu mobil dan melihat Cilla memejamkan mata , "Cantik juga ni Bocil" Erick bermonolog
Erick masuk ke mobil dan duduk di belakang kemudi, Erick memang sering membawa mobil sendiri tanpa Regan ataupun sopir. Apalagi kali ini bersama Cilla dan entah mengapa dia ingin berdua saja dengannya.
"Hei bocil, kamu tidur?" tanya Erick mengguncang lembut bahu Cilla
"Nggak..." jawab Cilla masih memejamkan mata
"Ya,Bocil kalau orang bicara di liatin!" tegur Erick kesal
"Oh ada orang ya?" Cilla terpaksa membuka mata
Erick mencubit hidung Cilla karena gemasnya, berusaha menahan diri untuk tidak membungkam mulut Cilla dengan ciuman.
"Kak, sakit" ujar Cilla manja
Erick semakin gemas dan langsung mencium pipi Cilla bergantian
"Yaa kak..., aku dah bilang tidak ada ciuman" protes Cilla
__ADS_1
"Ini bukan ciuman, ciuman tu kalau disini" ujar Erick santai mengusap lembut bibir Cilla dengan jarinya
Cilla langsung menepis tangan Erick, " kak
kalau nggak bisa ngontrol diri, mending aku turun, aku nggak mau melakukan hal - hal yang belum bisa dilakukan" ujar Cilla serius
"Apaan sih Cil, hanya cium di pipi juga kali, nggak lebih, lagian nggak usah sok suci bangat, hidup itu dinikmati nggak usah terlalu kaku dengan aturan agamalah" timpal Erick santai
"Sok suci?, kakuh dengan aturan agama?, ini bukan sok suci apalagi aturan agama, ini soal hidup kudus, Tuhan sudah menebus aku dengan DarahNya yang mahal masa ia aku hidup murahan, aku sangat berharga jadi maaf kak aku tidak bisa mengobral diriku, sama hawa na**u" Jelas Cilla tegas dengan meneteskan air mata
"Maaf Cil....nggak usah nangis, aku nggak suka liat orang nangis" ujar Erick lembut menyadari ucapannya yang membuat Cilla menangis
"Ya makanya, itu mulut di kontrol terus otak dibersihkan sedikit biar mikirnya bersih" potong Cilla
Erick terkekeh melihat Cilla, "ya ampun ni bocah betul-betul hobby membuat aku tak sanggup mengontrol diri" batinnya
"Kenapa tertawa ada yang lucu?" tanya Cilla setelah menghapus air matanya
"Ya lucu pake bangat, kamu seperti anak kecil gampang nangis, hanya di godain sedikit ajah, pas aku manggilnya Bocil" jawab Erick sambil mengendarai mobil keluar dari area kantor dengan kecepatan sedang
"kak boleh aku nanya?" ujar Cilla tiba - tiba
"Ya... silahkan!" jawab Erick
"Emang selama ini, semua pacar kakak tidak ada yang nolak saat di cium kakak?"
"Ialah... siapa yang berani nolak Erick Ardana" jawab Erick bangga
"Astaga berarti selama ini kakak pacaran sama orang yang tidak benar" Celote Cilla tanpa sadar
"Maksudnya?" tanya Erick bingung
"Ya elah kalau cewek yang benar harusnya mereka peringatin kakak untuk tidak terjerumus ke hal yang salah, berarti mereka nggak pernah betul - betul sayang sama kakak"
"Cil, justru mereka sayang, mereka bahkan relah memberikan harta yang paling berharga buat aku, mereka wujudkan dengan tindakan"
__ADS_1
Cilla tertawa terbahak - bahak mendegarkan penjelasan Erick