
Keluar dari ruangan Erick, Cilla segera turun ke lantai 13 ruangan accounting.
"Hei Non dari mana terus perginya tadi kok buru - buru bangat?" tegur Nana setelah, Cilla duduk di kursinya
"Oh maaf, sarapan buat kak Erick tadi ketinggalan di mobil jadi aku harus balik ngambil, terus balik langsung di suruh keruangannya ya udah nie baru balik" jelas Cilla
"Oh kirain ada masala gitu, ternyata urusan rumah tangga, ceritanya jadi calon istri yang baik ni" goda Nana
"Apaan sih Na, kalau ada yang minta makanan masah kamu tega nggak ngasi?" balas Cilla bercanda
'Hahahahahaha, para juga loh ...ingat itu calon suami kamu" timpal Nana
"Ssust, kerja sudah...kita disini magang bukan ngegosip" ujar cilla mengakhiri candaan mereka
Cilla dan Nana akhirnya tenggelam dalam pekerjaan masing - masing tanpa mereka rasakan tiba makan siang.
"Hai anak magang, tidak lapar ya?" tanya karyawan lainnya
"Astaga sudah waktunya istirhat?" tanya mereka balik sambil melirik jam
"Non... makan yuck! ajak Nana
"Yuck!" ujar Cilla segera berjalan menyusul yang Nana dan karyawan lainnya menuju kantin kantor.
__ADS_1
Dan disaat bersamaan Adit dan Meice pun ke kantin seperti biasanya. Adit memang selalu makan siang di kantin karyawan ketika tidak janji dengan client, sedangkan Meice hanya ikut Adit to makanan di kantin itu enak dan pastinya berbahan segar karena itu prinsip perusahaan karyawan sehat kerja pun bagus, bahkan pak Ardana sendiri sering makan bersama karyawan, tapi sayang Erick lebih suka makan diluar kantor.
"Pak , ibu" sapa Nana dan cilla dengan sopan, bahkan beberapa karyawan lainnya pun ikut nyapa saat Adit dan Meice ikut mengantri makanan
"Hei... Non gabung yuck!, Nana juga sekalian!" ajak Meice terseyum rama mengajak calon adik iparnya
"Nggak papa Bang?" tanya Cilla lirih menatap kakaknya
Adit melirik Meice dan melihat Meice memohon supaya Cilla gabung dengan mereka. Adit tidak tega padahal sebenarnya Cilla pun tidak mau gabung. karena Cilla tidak mau orang lain mengetahui statusnya.
"Nggak papa Non, mala abang senang bisa ramai - ramai jadi nggak jadi pusat perhatian" ujar Adit terseyum sambil melangkah menuju meja biasa dia tempati disusul yang lainnya.
"Oh my God... Pak Adit cakep sekali apalagi saat senyum gitu" bisik salah seorang karyawan pada temannya
"Ia...tapi sayang kita di salib sama ibu Meice, apalah daya kita sebatas pengagum " tanggap karyawan lainya dengan berbisik pula.
"Biaslah itu cewek gatal ma gitu" tamba yang lain
"Untuk apa cantik kalau j**l diri" timpal yang lain tak kalah sinis
"hei makan sudah tidak usah iri sama yang lain, lagian kalian kan tidak tahu kebenarannya, tidak usah negatif tingking" tegur Limbong salah seorang karyawan yang sempat bercakap sebentar dengan Cilla tadi pagi
"Nggak usah sok suci, bilang ajah kalau loh sok menj***t kan" timpal karyawan yang lain menatap sinis ke Limbong
__ADS_1
"Dasar para sinting, cakep - cakep hati iblis" gumam Limbong menuju dan kembali fokus ke makanannya.
"Kalian curang bangat, makan nggak ajak" tiba - tiba Erick mendekati mereka dan tentunya Regan mengekor dibelakangnya
"Pak Erick" sapa mereka kompak dan berdiri menyambut terkecuali Meice yang tetap santai menikmati makanannya
"Aiiis, apaan sih kalian ...duduklah!" ucap Erick canggung tak enak dengan Adit kakak iparnya dan langsung duduk disamping Cilla
"Suapin aku" bisiknya
"Haaaa?" ucap Cilla tanpa sadar
"Kenapa Non?" tanya Adit dan Nana kompak sedangkan Regan dan Meice hanya menatap heran
Cilla hanga cegir sambil mengelengkan kepala menahan malu
"Bukannya adek alergi ke kantin?" Ledek Meice pada Erick
"Chiii..kan anti alerginya sudah ada jadi nggak papa sering kesini" ujar Erick santai samping mengusap lembut puncak kepala Cilla
"Aaau... jiwa jomblo aku memberontak" goda Regan
Cilla tertunduk dan semakin malu dengan tingkah Erick.
__ADS_1
"Jombloh apaan, bukannya..." ucapan Erick terhenti
"Cepat ambil makanan kalau mau makan, terus pesan seperti biasanya untuk saya kalau nggak kamu puasa ajah!" lanjut Erick