Amora

Amora
masa lalu


__ADS_3

Aval sungguh tidak bisa berkonsentrasi saat ini. beberapa menit yang lalu Bu Ani guru Fisika kelas Aval membagikan kertas ulangan yang memang rutin dilakukan sehabis materi per bab. namun kali ini berbeda, bu Ani tidak memberi tahu akan diadakannya ulangan hari ini lebih tepatnya mendadak


Ditambah hari ini Amora tidak masuk. Aval tidak mengetahui kenapa gadis itu tidak masuk tetapi katanya Amora sakit. Padahal, malam tadi Amora terlihat biasa saja. Tapi siapa yang tahu jika penyakit akan datang bukan? Aval terpaksa mengajak Abay untuk duduk bersamanya agar dia tidak pusing sendirian. lima menit berlalu, kertas jawaban Aval masih kosong tanpa lecek sedikitpun. Aval melirik sejenak pada Abay, lalu menyikut lengan cowok itu. Abay menoleh dengan dahi berkerut


"buka google" ucap Aval, agar Abay mencari jawaban pada google dan mereka akan mendapatkan jawaban dari sana.


lawan bicara malah semakin mengerutkan keningnya. tidak mengerti akan maksud Aval.


Aval ingin sekali memukuli kepala Abay yang kurang itu. Aval mengubah duduknya dan berdehem sebentar


"hp loo" ucapnya pelan


Abay mengangguk mengerti lalu tersenyum simpul pada Aval.


"gak ada kuotanya" Abay menaruh tangannya berlipat pada dada dan meyenderkan bahunya pada kursi


Aval kembali mengubah posisi duduknya sedikit menyerong kesamping melirik kertas jawaban Agung yang sudah penuh dengan tulisan. laki-laki berkacamata itu sesekali membenari kaca matanya yang menurun, Aval melihat bu Ani yang sibuk dengan laptop di depannya, bagus! kesempatan Aval untuk meminta jawaban Agung akan berjalan dengan mudah jika seperti ini.


"syutttt" Aval berdehem sebentar sembari menutupi mulutnya agar dehemannya tidak terlaku didengar dengan semua orang.


Aval kembali melirik Agung yang sama sekali tidak terganggu dari fokusnya pada soal. Aval mengusap ramputnya gusar, ia tidak mengerti dengan si kacamata itu, lantaran dia tuli atau berpura-pura tuli?


Tersisah sepuluh menit lagi, Aval masih setia mengetukan penanya pada meja dari lima menit belakangan.


"cepetan jing!" seru Abay setelah menaruh lembar jawabannya fi meja Aval, Aval mengerutkan dahinya heran melihat lembar jawaban yang telah terisi penuh.


Aval menatap Abay yang juga sedang menatapnya "cepetan atau lo bakal remed lagi di ulangan kali ini!" Ujar Abay yang berhasil membuat mulut Aval terkatup lagi, baru saja Aval ingin berbicara namun nampaknya ia harus segera menyalin dahulu baru nanti meminta penjelasan dengan Abay.


...


"ohh, ******* lo ya! gak bagi-bagi lagi lo!"


Abay terkekeh "tapi gue bagi kan sama lo?" ia menaruh minumannya "untung punya gebetan pinter gue"


Aval mangut-mangut mengerti, barusan Abay menjelaskan tentang jawaban yang diberikannya pada Aval tadi. bukan hasil menyontek tetapi Abay telah mengetahui soal ulangan hari ini dari salah satu cewek yang Abay php-in alhasil Abay dikirimin jawaban dengan cewek itu dan Abay menyalinnya dirumah sehingga tadi Abay hanya perlu memasang wajah mikir agar aksinya berjalan dengan lancar, setelah menit-menit akhir barulah Abay menukar lembar jawabannya yang kosong dengan kertas yang telah ia siapkan dari rumah. cerdik sekali!


"ehh, Mora sakit ya?" Tanya Abay menaiki satu kakinya "kok lo gak tahu si Val?"

__ADS_1


"lu kira gue cenayang yang tahu semua?"


"tapi lo kan pacarnya? masa iya lo kayak terkejut gitu sih waktu di absen keterangan Amora sakit? lo pacarnya tapi kayak gak dianggep ya" setelahnya Abay terkekeh sendirian, dia jadi prihati dengan temannya ini.


"gue pacarnya, dan itu bener! sekarang gue tanya definisi pacar itu apasih menurut lo?" tanya Aval mungkin saja pemahaman dirinya dan Abay berbeda.


"gini deh, menurut lo pacaran itu apa?" ralat Aval setelah dia melihat kening Abay yang berkerut "lo kan susah mikir jadi gue ulangin nih, pacaran itu kalo yang ada dalam otak lo tu apa?"


"yang negatif atau positifnya nih?"


"ohh, iya, iya. gue lupa lagi, otak lo kan isinya negatif mulu kan ya? Aval memutar otaknya agar kalimatnya mudah dicerna dengan Abay "pacaran itu apa sih?"


"emm, status!" balas Abay sembari meminun ice yang ia beli tadi


"emang kalo dasarnya udah ****, mau digimanain tetap aja sama" kelu Aval, pasalnya Abay sangat menguras emosinya hari ini. Aval memperbaiki duduknya menatap Abay kembali


"okey, disini gue mau kasih tahu sama lo, kalo pacaran itu, yah, lo bener pacaran itu status yang dimana dua orang yang memiliki rasa yang sama saling terikat. bukan terikat dengan hal yang luas maksudnya terikat disini itu, lo udah nyatain perasaan lo sama seseorang dan kalo orang itu juga balas perasaan lo dan secara otomatis lo udah beri satu komitmen sama orang itu, tapi disini gue mau ngasih tahu tentang bagaimana gue dan Amora menjalin suatu hubungan pacaran. gue pacar Amora dan sebaliknya. gue dan Amora itu bukan pacaran yang mesti banget ngasih kabar telfonan atau hal yang lainnya. karena kita tetanggaan dan lo bayangin lah seberapa bosen gue kalo buka pintu rumah selalu liat wajah dia secara rumah kita depanan"


"to the point aja sih Val" Abay menggaruk kepalanya "pusing gue"


Aval mengepalkan tangannya, mengumpat dalam hati "intinya gue gak mesti orang yang paling apdate tentang pacar gue, gue pacarnya bukan lambe turah"


"yaudah bukan jodoh gue berarti" Aval acuh


Abay mangut mengerti, jujur dia tidak mengerti seperti yang ia tampakan pada Aval. tetapi biar lelaki itu tidak marah, maka Abay bersikap seolah mengerti saja.


...


Aval menatap arlojinya, lalu teralih ketika deru mobil terdengar ditelinganya. kaki Aval yang semulanya bergerak bosan menunggu sekarang terhenti. dia seketika berdiri ketika melihat sang empu turun dari mobil. mendekat kearahnya.


"ehh, Val. sudah berapa lama nunggu?"


Aval terdiam dengan tangan yang mengepal meredam api cemburu. tangan Amora digandeng Akram dan lelaki itu hanya datar ikut menatap Aval dalam diam


"sehabis pulang sekolah tadi langsung kesini. hampir mati bosen juga sih, hhe" Aval menatap Amora yang pucat serta melirik genggaman tangan Akram yang tak terlepas "emm, cepat sembuh ya, gue pulang dulu" Aval mendekat kearah keduanya dan berjalan ditengah mereka sehingga tangan Amora dan Aval yang semulanya bergandeng terlepas. Amora tersentak sadar jika dirinya masih digandeng Akram dan Amora harap Aval tidak akan mengungkit masalah ini dalam hubungan mereka kedepannya


Akram menatap Amora yang sendu "sorry, aku gak maksud gitu tadi" ia menatap Amora lekat

__ADS_1


Amora tersenyum samar "iya, aku ngerti" balasnya lalu berjalan memasuki rumah untuk beristirahat.


pagi hari saat ingin pergi sekolah, kepala Amora tiba-tiba sakit dan merayang. Maka dari itu Anis- mama Amora menyuruhnya untuk tidak bersekolah hari ini dan menelfon pihak sekolah memberitahu jika Amora sakit.


saat siang hari Akram datang untuk bersilaturahmi bersama keluarganya kerumah Amora, bagaimana pun Akram dan Amora saudaraan. terlebih hari ini adalah hari kedatangan Akram dari bandung untuk acara malam minggu ini. Anis tidak mungkin meninggalkan rumah karena rame saudara dari bandung datang kesini jadi mamanya meminta Akram menemani dirinya kedokter, Amora tidak mau tapi apalagi yang mesti dicanggungin toh dirinya dan Akram juga saudaraan.


memang selama diperjalanan Amora dan Akram saling diam sebelum Akram memecahkan keheningan


"Ra, how are you?" Amora tegang dengan seribu pertanyaan.


"Terlihat lebih baik dari waktu itu" Amora mempererat jaketkanya ketika mereka sampai. Amora keluar mobil dan diikuti Akram disampingnya.


"kita saudaraan ya?" deg! untuk kesekian kalinya tubuh Amora bertambah lemah, beruntung nama Amora telah dipanggil ketika masuk keruangan dokter.


setelah selesai kecanggungan kembali terlibat dalam perjalanan mereka pulang kerumah.


"kangen kamu, boleh gak sih Ra?" Amora menoleh menatap Akram kesekilas


"I miss you" Amora mengucapkan tiga kata itu dalam satu tarikan nafas. dia mencoba untuk tidak munafik, dia rindu dan memang begitu keadaannya


Akram tersenyum, bukan bahagia namun sakit, mengingat perempuan di sampingnya kini berstatus sebagai saudaranya bukan kekasihnya. lima bulan yang lalu perempuan itu miliknya sebelum malam tersial itu, bahkan sekarang untuk menyentuh kulit Amora saja rasanya canggung dan berbeda


"more than you" Akram menatap Amora, tatapan Amora tidak pernah berubah, selalu hangat seperti sunset dikala senja namun Akram juga mengingat bahwa senja sesaat.


ketika ingin memasuki rumah Amora terdiam sesaat menatap lurus pada objek fokus, Aval duduk didepan rumahnya dengan ekpresi datar. ketika dia dan Akram mendekat entah kenapa ada kekuatan melalui genggaman hangat Akram, Aval tidak memperdulikan semua, tubuhnya seolah kaku.


Aval berdiri menatap Amora dengan tatapan yang tidak Amora mengerti "ehh, Val. udah berapa lama nunggu?" Amora hanya ingin mengetahuinya


"sehabis pulang sekolah tadi langsung kesini. hampir mati bosen juga sih, hhe" Aval membalas pertanyaan Amora


"emm, cepat sembuh ya, gue pulang dulu" Aval berlalu dan memutuskan genggaman tangan Amora dan Akram. Amora tersadar dan mengerutuki kebodohannya seharusnya dirinya bisa menjaga perasaan Aval sebagai pacarnya.


Amora mengacak rambutnya gusar memikiri bagaimana hubungannya setelah ini. dengan pasti Amora membuka pintu rumah dan berjalan menuju rumah Aval memastikan bahwa cowok itu tidak marah.


Amora memencet bel rumah Aval lalu mempererat jaketnya, udara malam dingin menusuk tubuhnya, pintu terbuka Amora terkesikap kala Aval muncul dengan rambut yang berantakan tidak memakai baju hanya mengenakan boxer bergambar spongeboob.


"I want to talk with you" ujar Amora dengan penuh harap

__ADS_1


♡♡♡


__ADS_2