
“Gan, ngak papa kita makan di kantin ajah sama Kak Meice” Ucap Erick.
Selama 3 tahun ini Erick sama sekali tidak menginjakkan kaki di kantin Setelah kematian Eldrick Kakaknya. Bayang-bayang Kakak yang Sok cuek di depan umum itu selalu saja menari dipikirannya. (hal itu membuatnya terbebani dengan nasihat yang diucapkan kak Eldrick dulu untuk hidup takut Tuhan serta Jadi kebanggan ke-dua orantuanya dengan sikapnya sekarang).
Ting …
Pintu lift terbuka Regan, Erick dan Meice keluar dari Lift bersamaan dengan Cilla dan Cendana masuk lift menuju ruangan HRD di lift yang lain (hingga mereka tak bertemu)
Cilla bisa saja tidak perluh datang sendiri membawah Surat Magang karena dikantor ini, Abangnya Aditya Erlangga bekerja sebagai Direktur Ardana Group, tetapi ia tak mau mendapatkan sesuatu dengan cara yang tidak baik.
Setelah bertemu langsung dengan HRD Cendana dan Cilla akhirnya pulang dan Minggu depan akan mulai magang.
✍️✍️✍️
#Mobil
“Apakah aku harus bilang ke Non kalau kak Titan mengajak aku untuk serius dalam suatu hubungan?" batin Cendana
“Apakah waktunya tepat jika aku curhat sama Nana soal perjodohanku dengan Erick” Cilla menghembuskan nafas dalam.
Keduanya saling diam dengan pikiran masing-masing.
“Non”
“Na”
Saat akan bicara mereka bersamaan.
“Kamu ajah yang duluan” Cilla memberi waktu Cendana bicara terlebih dahulu.
“Hmm, baiklah. Bdw kamu tahu kan aku sangat mencintai kak Titan dari dulu” hufff… Cendana akhirnya berucap.
“Hmm, terus???”
“Kak Titan mau kenal aku lebih bukan cuma sekedar teman adiknya, kamu tahu maksudnya kan?" Cendana memandang sahabatnya itu seakan meminta pertimbangan.
Na, degarin aku dulu” Cilla merasa sangat bersalah mendengar kakaknya yang tiba-tiba minta sahabatnya sendiri untuk mengenal lebih dekat. Ia berfikir itu semua karena rencana tidak masuk akalnya.
“Kenapa non? apa aku nggak pantas untuk kak Titan? Cendana merasa was-was dengan pendapat Cilla.
__ADS_1
“Bukan itu maksudku, jangan sampai kak Titan minta kamu seperti itu hanya jarena ide konyol yang aku berikan untuk mereka.” ucap Cilla merasa bersalah
“Maksud non?” Cendana bingung
“Gini, Erick Ardana senior kita dulu kamu kenal kan? Erick yang teman SMA Kita? kami di jodohkan. Dan syarat konyol yang keluar dari mulutku saat itu kalau semua Kakak-kakak ku juga menikah atau setidaknya tunangan dulu baru aku mau menikah” Jelas Cilla menitikkan air mata.
“Tapi aku melihat kesungguhan kak Titan saat mengatakan itu padaku, dan aku percaya kak Titan sepenuhnya” balas Nana memeluk Sahabatnya itu.
“Ikuti saja alurnya non, siapa tahu jawaban doaku selama ini minta kak Titan mencintai aku dengan cara seperti ini kan, tidak ada yang tahu” lanjutnya.
“Ya, dan nanti jika kak Titan menyakitimu beritahu kami ya, aku akan menghajarnya” ucapnya tersenyum disela air mata yang masih berlinang.
“Uhmm, pasti” Cendana melepas pelukannya.
Mereka singgah di kampus untuk menurunkan Cilla Karena pak Sapto supirnya menunggu disana.
“Non, aku duluan ya, kak Titan ada janji denganku” ucapnya melambaikan tangan pada Cilla
“Siap, semoga lancar date nya” Ucapnya menuju parkiran dimana pak sapto menunggunya.
✍️✍️✍️
“Baiklah, dimana?” tanya Adit tanpa menoleh dari monitor laptopnya.
“Di kantin Pak, mereka sedang menunggu bapak!” ucap Rama
“Segera ia menggeser laptop lalu mangambil jas di sofa kemudian pergi.
“Ram, kasih tahu pada siapaun untuk tidak memindahkan apapun diruangan saya” Perintah Adit.
“Siap pak” Rama kemudian menuju sekertaris yang lain di samping ruangan Direktur.
“Bu Rita, tolong sampaikan pada siapapun untuk tidak masuk keruangan pak Adit atau memindahkan apapun disana” ucap Rama tegas pada perempuan paruh baya itu.
“Baik, Ram” balasnya tersenyum.
✍️✍️✍️
#Cafetaria
__ADS_1
“Selamat siang Tuan, Reghan, bu Meice” Adit menghampiri mereka dan menyapa dengan sopan.
“Selamat Siang pak” ucap Meice dan Regan bersamaan.
“Siang, duduklah!” Erick tersenyum pada Adit. (Aditya Erlangga adalah orang pertama kepercayaan Ardana ayahnya, dan sosok yang sangat dikagumi Erick tapi sangat gengsi untuk mengakuinya).
“Terimaksih” Adit kemudian duduk dikursi kosong yang berhadapan dengan Meice.
“Hmm, kalian sudah saling kenal kan?" Erick memecah kesunyian.
“Iya Tuan Muda, Tuan besar sudah memperkenalkannya padaku” ucap Adit.
“Kakak sudah kenal dengannya Rick, Ayah sudah memperkenalkannya denganku bahkan saat aku masih diluar negeri” Ucap Meice acuh tanpa mengalihkan pandang dari HPnya.
“Baiklah ayo makan!” Erick mengajak makan setelah pelayan membawah pesanan mereka.
Erick sudah memesan makanan untuk Adit, ia tahu makanan kesukaan Erick. (sosok Eldrick ada dalam diri Adit itu kenapa Ayah Ardana juga menyukai Adit).
“Tuan Muda, ada panggilan dari Nyonya Besar, Kita harus menemuinya di Mension Grandma” Regan memberitahu Erick.
“Ayo, tolong sampaikan pada Rion atau Ricard untuk mengambilkan flashdisk di laci kerjaku” perintahnya
“Kami duluan pak, kak Meice” Pamit Regan.
“Hmm, beritahu mama, Kakak nggak pulang ke Mension utama” pintah Meice. Dirinya tak bisa bertemu ke dua orangtua angkatnya dulu, ketika Ayah Ardana memberitahu dirinya untuk menikah dengan Pria sedingin es yang ada didepannya ini. Dan kelemahannya dirinya tak bisa menolak kemauan mereka.
Sikap dingin Adit, membuat Meice sebenarnya tidak betah berada lama-lama dekat Adit.
“Hmm, aku duluan Pak” ucap Meice dengan formal.
“Panggil Adit saja, Kita seumuran dan masih ada yang ingin kubicarakan” Adit akhirnya bicara juga.
“Hmmm, bicaralah” balasnnya kembali duduk dengan tatapan yang tak bisa diartikan.
“Apakah, Tuan Ardana sudah mengatakan padamu tentang lamaranku?" Adit tak berbasa basi.
“Apa kamu masih waras? Kita tidak saling mengenal dengan baik dan lagi aku tak pernah berfikir untuk menikah??” ucapnya dengan penekanan ada nada tak suka disana.
“Aku masih sangat waras nona, dan aku hanya mengikuti kemauan Tuan Ardana untuk melamarmu, akupun tak berniat untuk menikah, jika mau menolak sampaikan sendiri pada Tuan Ardana” ucapnya meninggalkan Meice.
__ADS_1
“Ya Tuhan, menikah dengan laki-laki dingin tak berperasaan itu? Bagaimana Kehidupanku nanti?” batin Meice dongkol dengan sikap acuh Adit.