Amora

Amora
Amora Part 12


__ADS_3

#Ruang Keluarga Erlangga


Cilla sedang duduk bersama ke-dua orang tuanya di ruang keluarga saat Titan sudah siap untuk menemui Cendana seperti janjinya tadi.


“Ma, Pa, Non” Titan datang untuk pamit.


“Mau kemana kak, dandan ganteng begitu?" Mama bertanya heran melihat penampilan formal Titan biasanya keluar ia selalu berpenampilan casual.


“Mau ketemu calon besen mama papa” balasnya


“Hmmm, siapa?" Ayah Adam pun penasaran.


“Kalian sudah sangat mengenal mereka, tapi kalau sudah direstui maka akan kukenalkan” ucapnya dengan cengiran Khasnya.


“Baiklah, kami menungguh kabar baik” balas sang Mama


“Siap, Kakak berangkat ma, pa, non “ ucapnya Salim


“Hmm, Hati-hati” Nasihat ayah


“Siap komandan, Shalom semua" ucapnya kemudian mengambil kunci motor.


“Hmmm anak sama ayah sama ajah” Gumam Elisa.


“Kenapa, ma?" tanya Cilla.


Papa dulu suka naik motor, antar jemput mama… tu liat si kakak kamu lebih milik naik motor kan, padahal mau ketemu calon mertua” Jawab Elisa.


“Ya, papa dulu kan emang cuma punya motor buat jemput mama” balas Adam.


“Sekarang kan, titan ada Mobil tapi lebih milih naik motor gitu, kasian pacarnya nanti” Elisa bercelote.


“Ya udalah biarin ajah, itu urusan mereka ma” ucap papa Adam.


“Hmm, non gimana hubungan kamu dengan Erick?" tanya Mama mengalihkan pembicaraan.


“Baik, ma” balasnya tersenyum meski dia ngak baik-baik saja di depan orang tuanya.


“Erick pasti sebaik Eldrick juga sebaik papanya Ardana” ucap sang papa.


“Andai papa tahu kalau Erick itu jauh dari kata baik, pa…. dia manusia nyebelin juga playboy kelas kakap, entah berapa hati yang dipatahkan dan wanita yang dirusak” ucap Cilla tapi hanya di pukiran tak berani untuk mengatahkan terang-terangan.

__ADS_1


“Hmmm, papa mama, sampaikan saja pada keluarga Ardana aku siap untuk menikah dengan putranya” ucapnya kemudian berlalu meninggalkan papa dan mama nya.


“Kok tiba-tiba sayang?" balas binar Elisa.


“Hmmm, aku sudah bertemu dengannya dan ku pikir dia lumayan tampan dan kaya lagi” ucapnya bercanda menutupi rasa gugupnya. Padahal sebenarnya ia sangat ingin berteriak menolak.


“Tuhan, maafkan aku…aku berbohong pada Papa mama soal perasaanku ke Erick. Biarkan ini menjadi pilihan terbaik… meski bagiku cara yang salah tapi aku percaya bahwa tak ada yang salah dengan caramu” doa Cilla dalam hati.


“Baiklah, mama papa akan bertemu orang tua Erick besok” ucap Elisa sangat bahagia.


Setelah makan malam, dan ibadah rutin keluarga Erlangga Cilla minta duluan ke kamar dengan alasan ngantuk.


Sementara Papa, Mama, Aditya dan Erfan masih bercengkrama di ruang keluarga.


“Pa, ma, minggu depan aku akan melamar Megyan" ucap Erfan setelah mengumpulkan keberanian dan niat tulusnya.


“Apa kamu sudah yakin dengan pilihanmu? Pernikahan bukan ajang coba-coba nak” ucap Elisa menyelidiki kesungguhan Erfan.


“Aku sangat yakin ma” balasnya


“Biarkan, Erfan menikah untuknya belajar lebih bertanggung jawab lagi” Adam dengan nada suaranya beratnya.


“Hufff, baiklah kami akan menemuimu Nenek Megyan untuk melamar cucunya itu untukmu” ucap Elisa.


“Iya, kami tahu Ardana ke rumah menemui kami kemarin” balas Adam


“Apakah kamu, siap nak?" Mama melihat jika kau terpaksa menerima lamaran om Ardana” balas kuatir sang mama.


Untuk tidak membuat orangtuanya kuatir, ia pun berusaha tersenyum ikhlas. Aneh memang jika orang Tua Perempuan yang datang melamar keluarga laki-laki tapi itulah kenyataannya. Orang Tua Meice melamar Aditya untuk Putri angkatnya itu.


“Sangat siap ma, lagian aku percaya Meice adalah wanita baik-baik mengingat Keluaraga om Ardana adalah Keluaraga Takut Tuhan” ucapnya meyakinkan.


Ya meski sperti perjodohan tapi Aditya berkomitmen untuk menganggap serius pernikahan itu. Baginya pernikahan adalah sekali seumur hidup dan merupakan acara sakral.


**


Cilla mendengar percakapan keluarganya ketika ia turun untuk mangambil air. Ia bisa saja menyuruh para Pelayan untuk membawakannya. Tapi Itulah dirinya ia akan melakukan apapun selagi ia bisa melakukannya. Hingga tanpa sengaja mendengar pembicaraan orang tuanya dan Kakak-kakaknya.


 Ia merasa sangat bersalah Karena dirinyalah, sehingga Kakak-kakaknya pun ikut terseret dalam syarat gilanya itu.


Saat akan melangkah, ia tak focus hingga menabrak  salah satu pilar lemari koleksi  Guci papa Adam.

__ADS_1


Byarrrr!!!!


Salah satu guci termahal jatuh tepat di kaki Cilla, membuatnya histeris, darah segar mulai meleleh dari kaki mulusnya putihnya itu.


Sontak seisi rumah kaget dan mendatangi asal suara.


“Ya Tuhan, putriku” ucap Elisa panik melihat Putri kesayangannya itu berdarah.


“Maaf” ucap Cilla memandang semua orang yang berkumpul terutama sang papa.


“Iya, namanya kecelakaan, yang penting kamu gak parah” balas Papa Adam menghampiri sang Putri, menggendongnya dan dengan segera Erfan mangambil P3K lalu dengan sigap membersihkan luka adiknya dengan menyiram alcohol.


“Maaf pa, guci kesayangan papa hancur” ucap Cilla merasa bersalah.


Ia menahan rasa sakitnya, saat Erfan mengobati Lukanya.


“Auh, pelan kak” ringisnya tak tahan Lagi.


Luka menganga agak besar di atas punggung kakinya, membuatnya sedikit kesulitan berjalan. Hingga Orangtuanya memutuskan untuk membelikannya kursi roda.


Aditya sendiri yang memesan Kursi Roda untuk adiknya Cilla


“Sayang, kalau jalan jangan ceroboh gini dong!” ucap sang mama mengelus kepala sang Putri.


“Itu salah satu alasan papa, kenapa papa menyarankan untuk Non menikah, biar ada yang jagain kamu” Adam duduk di dekat sang putri menggenggam tangan satu-satunya Putri keluarga Erlangga.


Cilla tak bisa berkata apapun lagi, ia hanya mengikuti dirinya yang selalu ceroboh.


Setelah membalut lukanya, ia pun digendong sang kakak menuju kamarnya di lantai 2.


“Makasih kak” ucapnya senyum setelah Erfan membantuhnya berbaring.


“Kalau bersuami nanti, jangan susahkan suaminu seperti ini ya” Erfan mencandai adiknya yang sudah memayunkan bibirnya.


“Sudahlah Erfan, jangan ganggu adikmu Lagi” mama Elisa menengahi.


“Ishh apa gunanya aku bersuami kalau tidak direpotkan” balasnya


“Iya, repotkanlah aku sesukamu” suara berat Erick yang baru sampai bersamaan dengan kursi roda yang di dorong masuk ke kamar diikuti Aditya dari belakang.


“Kak Erick, kenapa kesini?" pertanyaan Cilla

__ADS_1


“Hitung-hitung, belajar jadi calon suami yang siap di repotkan” balasnya senyum. Entah kenapa saat Aditya mengabari jika kaki Cilla terkena Guci dan butuh kursi roda, dirinya jadi kuatir dan berkeinginan untuk menemui Cilla saat itu juga, padahal bisa saja ia menyuruh para Pelayan di Rumah atau asistennya yang mengantarkan.


“Maaf nak Erick, sudah merepotkan” ucap Elisa.


__ADS_2