Amora

Amora
"iya mantan, karena kita saudaraan"


__ADS_3

"Gue dianterin dia ke dokter Val, karena dirumah rame saudara dateng gak mungkin mama ninggalin rumah. Jadi mama minta tolong sama Akram" Amora mengucapkan hal itu setelah lima menit hening tanpa suara. Amora menunduk menatap rerumputan hijau menunggu balasan Aval


"Hmm"Aval membalas dengan bersedekap tangan pada tubuhnya yang polos tanpa baju


"He's my family" Amora berucap lagi, setelahnya ia menghela nafas mendengar balasan Aval yang sangat singkat itu


Aval menatap Amora "And your exboyfriend" lalu memutar bola matanya


"And I your girlfriend now!" Sahut Amora menatap Aval


"You dont care about this"


Amora terdiam. Aval membalasnya dengan suara yang datar


"udah?" Aval menatap Amora. Amora mengangguk. lalu ia menunduk.


Aval mengubah posisi kakinya menjadi bertumpuh satu sama lain "gue gak marah kok, gue pacar lo dan dia saudara lo, otomatis derajat dia diatas gue di hidup lo atau mungkin dihati lo juga"


Amora meringis pedih mendengarnya. meski dirinya tidak terluka tapi rasanya lebih tajam dari yang ia bayangkan.


Aval menghela nafasnya memegang bahu Amora mengajak gadis itu berdiri, Aval mengelus bahu Amora "udah malem Ra, lo sakit. pulang yuk!" Aval mengandeng Amora berjalan memasuki lingkungan rumah Amora.


"kamu mar--"


"enggak!" potong Aval cepat lalu ia menatap mata Amora yang sangat sendu. Aval merengkuh tubuh Amora menghirup shampo yang Amora kenakan sebentar "kamu gak usah khawatirin aku yang, aku gak marah. stop thinking about this! aku sayang kamu, remember that and always" dia melepas pelukannya lalu mengacak rambut Amora.


"masuk gih"


Amora terdiam, the firts time. Aval se sweet ini, Amora mengangguk dan masuk kedalam rumah. Aval melangkah menjauh dari rumah Amora dan hilang dari pandangan Amora ketika pintu putih itu rapat kembali.


...


Aval menaruh basing stik psnya dan menyenderkan kepalanya pada pinggiran ranjang. Entah kenapa setelah bicara dengan Amora kepalanya jadi pusing melebihi ulangan fisika waktu itu. Aval kembali teringat percakapan antar dirinya dan Amora tadi


"Gue dianterin dia ke dokter Val, karena dirumah rame saudara dateng gak mungkin mama ninggalin rumah. Jadi mama minta tolong sama Akram"


"Hmm"


"He's my family"


"And your exboyfriend"


"And I your girlfriend now!"


"You dont care about this"


Kepala Aval cenat-cenut mengingat percapakan singkat itu. Dia tidak marah, Akram saudara Amora jadi apa yang mesti Aval takuti?


Aval memencet tombol mati disana dan memakai baju yang semulanya terkapar tak teranggap. Aval membuka pintu dan menuruni tangga mencari Bunda.


"Hyy, my love" Aval mencium pipi bundanya yang sedang menonton televisi.


"Ehh, mau kemana kamu?"


Aval menoleh " ke luar bentar bund" tanpa mendengar balasan bundanya Aval telah menutup pintu rumah dan berjalan menuju motornya berada.


Pintu rumah Amora terbuka, kamar gadis itu masih menyala. Tampak juga banyak kendaraan yang terparkir disana. Pasti ada keluarga Amora dan Akram disana.


Aval menghela nafas dan menjalankan motornya melaju meninggalkan kawasan perumahan rumahnya.


...


Amora mendengus melihat Aval mengagandeng perempuan berjalan pada koridor sekolah dan mendekati dirinya. Lelaki itu tidak pernah berubah, selalu seperti ini.


Aval berhenti tepat di depan Amora dan memberikan senyuman termanisnya pada perempuan yang ia gandeng tadi. Perempuan itu senyum-senyum malu dan melenggang pergi. Amora kesal setengah mati melihat hal itu, terkadang ia berfikir untuk menjambak setiap perempuan yang Aval perlakuin seperti tadi, tapi ia sadar yang salah disini justru kekasihnya


"Dianya baper baru tahu rasa" ujar Amora melanggang pergi dari hadapan Aval.


Aval mengejar Amora dan mensejejerkan langkahnya dengan Amora "cemburu?"tanya Aval

__ADS_1


Amora melihat kearah Aval sejenak lalu memutar bola matanya jengah "the second I see you like that"


Aval terkekeh "yang lo liat cuma dua kali, tapi gue sering kok kayak gitu" timpal Aval hanya ingin berkata jujur


"Yahh, up to you"


Amora duduk pada kursinya dan diikuti oleh Aval. Aval masih memperhatikan Amora yang sama sekali tidak melihat dirinya, tampaknya benar jika Amora tidak menyukai tindakan dirinya pada perempuan yang ia gandeng.


"Malem tadi kemana?"


Amora kaku, tampaknya Aval melihat dirinya dan Akram malam tadi " kenapa?" Amora menoleh


"Bareng Akram sehabis gue anter lo pulang" timpal Aval kembali kejalur perbincangan ketika Amora malah mengalihkan pembicaraan


"Ohh, ke cafe"


Aval menoleh pada lelaki yang memasuki kelas dengan wajah rungam sehabis bangun tidur. Berjalan menuju meja dan menuntaskan tidurnya disana, Abay menjijikkan. Lalu dia kembali menatap Amora "katanya sakit, kenapa pergi malem-malem?"


Amora menelan ludahnya gugup "udah mendingan"


Aval terkekeh "bisa gitu ya? Sembuh dalam waktu yang singkat. Padahal mama bilang kalo lo panes banget" Aval menaiki alisnya "ohh iya, kan ada obat yang paling ampuh. Mangkanya kamu sembuh "


Damn! Amora terdiam tanpa suara, Aval begitu membuat dirinya kehabisan kata-kata. Ia menghembuskan nafas sebentar "jadi waktu itu lo tahu gue pergi sama Akram buat berobat?"


Aval mengangguk, selama dirinya menunggu Amora malam itu dirinya berbincang-bincang dengan Anis- mamanya Amora


"Kenapa lo kayak marah gitu waktu gue turun dari mobil?"


"Pacar mana sih yang gak marah, pacarnya digandeng orang lain" Aval menggelengkan kepalanya "maksud gue mantan lo, saudara lo itu"


"tahu gitu gak penting banget gue nyamperin lo"


"Pentingan jalan sama Akram aja langsung? Gitu?" Aval bersedekap


"Lo ngajak ribut nih?"


Tak lama lamunan Amora buyar karena bunyi notif pada ponselnya. Gadis itu meraih benda pipih itu dan membuka notif yang baru masuk


Aval


Gue mau reuni smp hari ini.


Amora menutup ponselnya tak berniat membalas pesan lelaki itu, karena guru yang mengajar telah duduk pada meja


...


"Gak bisa juga gitu sih Ra, Aval tahunya dia itu mantan pacar lo"


"Tapi Bay, apa sih yang bakal Aval takutin atau cemburuin dari Akram? Dia itu saudara gue"


Abay mengangguk mengerti "dulu dia mantan lo! Dan sebagai Aval yang sekarang pacar lo dia punya sudut pandang yang berbeda Ra" jelas Abay pada Amora


"Apa? Gue bakal bisa balikan lagi sama Akram?"


Abay mengendikan bahunya "maybe"


Amora menghela nafas "gak mungkin banget, kenapa gue putus sama dia kalo bukan karena gue dan dia gak bisa sama-sama. Dari pada nyakitin satu sama lain, jadi kita milih putus" jelasnya menutup buku novel pada tangannya dengan kesal lalu menatap Abay di depannya


"Lo masih suka sama Akram?"


Amora menunduk, dirinya berusaha untuk mengontrol sesuatu yang sekarang menjerit sakit


"udah gue duga" ucap Abay menganggukan kepalanya seolah mengerti akan jawaban Amora


"Bukan hal yang mudah buat ngilangin rasa itu seutuhnya Bay, apalagi kita putus bukan karena dari diri gue atau pun Akram. Kita putus karena keadaan"


Abay memegang bahu Amora "jangan sakitin sahabat gue ya Ra, he is important for me"


Amora mengangguk "mending sekarang lo cari tahu, Aval dimana" usul Abay. Amora menyetujuinya dia membuka ponsel untuk menghubungi Aval "terakhir tadi sih, dia bilang kalo dia reunian hari ini"

__ADS_1


"Coba lo chat apa kek, jangan sampe masalah kalian tambah rumit"


Dimana?


Setelah mengirim pesan itu, Amora membuka aplikasi lain agar menghilangkan jenuh, tapi ia teringat akan satu hal "Ohh, iya. Mau minum apa Bay?"


Amora sampai lupa untuk menawarkan Abay yang telah mengantar dirinya pulang karena mamanya tidak bisa jemput


"Gak usah deh Ra, gue langsung pulang aja" Abay menghidupkan motornya dan berlalu dari pandangan mata Amora.


Ponselnya bergetar dan Amora langsung melihat notif yang baru masuk


Rumah


Amora ingin membalasnya namun ia urungkan ketika Aval sedang mengetik pesan


Dianter Abay pulang? Asik banget ngobrolnya


Amora mengernyit, jadi Aval sudah pulang dan melihat dirinya dan Abay tadi. Amora mendongak dan melihat kearah rumah Aval. Pantas saja lelaki itu sedang berdiri di depan jendela kamarnya mengkenakan boxer. Amora berjalan mendekat kerumah Aval


"Bund, Avalnya udah pulang dari tadi?"tanya Amora ketika dirinya masuk kerumah Aval dan menemui bunda Aval sedang menonton televisi


"Baru beberapa menit yang lalu Ra" Amora mengangguk lalu "aku keatas ya bund?" Setelah mendapat anggukan dari Aini maka dengan segera Amora menaiki tangga dan membuka pintu yang bertuliskan dunia A itu. Pernah Amora menanyai maksud dari tulisan itu dan


Aval menjawab bahwa kamarnya itu dunianya maka dari itu dunia A itu berarti dunia Aval.


Hal yang pertama Amora fikirkan adalah Aval jorok. Kamarnya penuh dengan bungkusan jajanan dimana-mana seperti anak kecil. Amora berjalan mendekati Aval yang sedang bermain ps tidak memperdulikan kehadiran dirinya


"Abay nganter karena mama gak bisa jemput. Awalnya gue mau minta jemput lo, tapi gue kira lo masih di tempat reuni" Amora duduk di samping Aval


Lelaki itu menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan permainannya. Amora mencoba untuk sabar, jika dari mereka tidak ada yang menurunkan ego masing-masing maka akan semakin rumit masalahnya "siapa aja yang dateng tadi yang? Ada Abias gak?" Amora memang mengetahui tentang masa lalu Aval termasuk teman lamanya dan juga sebaliknya


Aval mengangguk menjawab ucapan Amora dan hal itu membuat Amora mengelus dadanya sabar "selain Abias, siapa lagi?"


Aval mempouse kan gamesnya lalu menatap kekasihnya yang terus berbicara sedari tadi " ada Ari sama Agina"


"Agina yang suka sama kamu dulu itu? Temen kamu bolos itu kan? Kata kamu dia di--"


"Dia pulang ke indo dua hari yang lalu"potong Aval cepat. Jika tidak maka Amora akan terus berbicara


"Tambah cantik gak?"


Aval mengangguk Agina sangat berbeda dari dulu bahkan Aval sempat tidak mengenali gadis itu waktu di tempat gym. Amora menggenggam tangannya memberi kekuatan sendiri "dia mau ngapain ke indo?"


Aval menggeleng tidak tahu, karena dia juga tidak menanyakan hal itu kepada Agina "kayaknya mau liburan aja"


"Dia tambah cantik ya?" Aval mengangguk "kamu suka?" Amora mengecilkan intonasinya menatap Aval, mengubah lo menjadi kamu


Aval kembali mengangguk dia suka dengan Agina yang sekarang dirinya cantik dan tidak ada lelaki yang menolak pesonanya Aval jamin itu. Amora terdiam lalu tersenyum samar "yaudah, jadian aja" balasnya lagi


Aval ingin tertawa melihat ekspresi Amora namun ia tahan "dianya gak nembak aku"


Amora kembali tersenyum paksa "yah, kamu lah yang mesti nembak dia. Kamu kan cowok. Gak ada pasalnya kalo sel telur ngejar sel ******" jelas Amora


"Kamu kok bahas pencampuran sel? Mau punya anak emang?" Aval menaiki alisnya, Amora mendengus kesal membuang muka dia tidak mau melihat wajah Aval. Aval tersenyum lalu menangkup pipi Amora membuat gadis itu menatapnya


"Cemburu emm?" Amora memutar bola matanya jengah, dasar cowok gak peka.


"Kamu cemburu sama Akram?"tanya Amora balik


Aval mengangguk mantap "dia saudara aku" ucap Amora memperingati


"Aku tahu, aku bakal coba untuk hilangin rasa sesek liat kamu digandeng sama dia. Aku bakal coba hilangin" Amora tersenyum lalu memegang tangan Aval yang berada di pipinya


"Aku cemburu sama Agina, dia cantik" Aval mengelus pipi Amora "iya dia memang cantik dari kamu, badannya bagusan dia, montokan dia, dia lebih dari kamu" Aval menatap Amora lekat "tapi, sekali aku milih kamu ya memang cuma kamu, bukan karena kamu lebih dari seluruh perempuan didunia ini. Tapi karena kamu sudah terisih penuh dihati aku, gak ada ruang kosong lagi untuk mereka yang lebih segalanya dari kamu. Kamu seserakah itu dihati aku"


Senyum Amora merekah, pipinya mendadak panas. Aval mencubit gemas pipi Amora lalu merengkuh gadis itu dalam pelukannya "I more than love you" ujarnya lagi


♡♡♡

__ADS_1


__ADS_2