Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Kejujuran


__ADS_3

Tamparan yang cukup keras mengagetkan semua orang. Wanita itu mengenyitkan keningnya menatap ke arah putranya. Masih memakai sepatu hak tinggi, dengan pakaian formal berwarna hitam.


Brug!


Dengan tiga gerakan Fabian dibantingnya tanpa perlawanan."I...ibu hentikan..." Ucap Fabian, tidak mungkin dirinya melawan ibunya bukan?


"Kamu menghamili wanita, bahkan memiliki anak sebesar ini!? Kamu tau apa yang paling ibu benci!? Seorang predator seperti ayahmu yang tertangkap berselingkuh dengan dua wanita bayaran sekaligus." Bukan kalimat bentakan tapi wanita keji itu berbisik di samping telinga putranya, sembari tersenyum. Senyuman yang benar-benar mengerikan, mungkin sifat Fabian diturunkan dari ibunya, Mulyasari.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya wanita paruh baya itu berusaha untuk tenang. Seseorang yang baru pulang dari luar negeri, lebih tepatnya pemilik rumah sakit ini.


"Ibu, sebenarnya aku menjadi anak yang berbakti dan memberikanmu cucu." Fabian kali ini tersenyum, seorang anak yang memang hanya takut pada ibunya.


"Aku tidak bertanya padamu. Mengingat darah ayahmu mengalir di dagingmu saja membuatku muak." Mulyasari menghela napas kasar kali ini menatap ke arah Sesilia dengan Zeyan yang ada di gendongannya.


Anak manis dengan mata berkaca-kaca terlihat hampir menangis. Kali ini memakai pakaian ala pangeran abad pertengahan di kerajaan Inggris. Turun dari dekapan ibunya, siapa yang akan tahan dengan lumeran karamel kasih sayang yang diberikan Zeyan.


"Nenek!" Mulut kecil yang bagaikan terdapat lelehan madu di pinggirnya. Wajah rupawan yang mengingatkannya pada masa kecil putranya. Hanya saja anak ini lebih manis dan rapuh, sedangkan Fabian terlalu nakal dan merepotkan di masa kecilnya. Jiwa melindungi sang nenek tentu saja tiba-tiba bangkit.


Dekapan dari tubuh kecil yang rapuh dari anak berusia lima tahun. Anak itu benar-benar menitikkan air matanya."A...aku tidak tau aku juga punya nenek. Teman-temanku punya nenek yang katanya sering memasak makanan manis untuk mereka. A...aku cuma punya ibu..."


Benar-benar mengharukan, anak yang dari kecilnya hidup kekurangan. Air mata anak itu bahkan mengalir, kulit putih yang rapuh bagaikan kertas, lebih tepatnya tubuhnya yang lembut dan dingin bagaikan kelopak bunga lotus. Rasanya seperti jatuh cinta, jiwa protektif itu bangkit.


"Cucuku... nenek juga tidak tau kamu ada di dunia ini. Andaikan nenek tau lebih awal kamu tidak perlu hidup menderita. Pasti sulit hanya dengan ibumu kan? Ki...kita tinggal bersama ya...?" Ucap Mulyasari, menghapus air mata di pipi chubby cucunya. Cucunya terlihat begitu malang dan kurus dimatanya. Mungkin saja selama ini, kehidupan penuh siksaan dan penderitaan dijalani cucunya.


Zeyan kembali memeluk neneknya yang memang berlutut menyesuaikan tinggi badan dengannya. Tapi ada yang aneh, kala menunduk menyembunyikan wajahnya di bahu sang nenek, anak genius itu tersenyum, benar-benar tersenyum keji, tatapan matanya yang bagaikan kelinci putih malang, sejenak bagaikan elang yang tajam.


Ingat! Jika ini adalah serial kerajaan yang harus diketahui adalah yang mana kaisar, putra mahkota, pangeran, adipati, prajurit, atau pelayan. Orang ini adalah kaisar, karena ditakuti oleh putra mahkota. Satu kesimpulan yang diambilnya. Menguasai neneknya berarti menguasai segalanya. Ingin rasanya Zeyan tertawa jahat setelah memastikan sang kaisar (Mulyasari) jatuh hati padanya. Tapi tetap saja, dirinya adalah cucu yang rapuh. Jadi satu hal yang harus dilakukannya.


"Nenek, A...aku ingin pipis..." ucapnya, benar-benar malu. Tapi dirinya memang tidak mengetahui letak kamar mandi.

__ADS_1


"Biar nenek antar ya?" Kalimat yang diucapkan Mulyasari. Sang wanita keji, yang kini baru saja resmi menjadi budak cucu. Mencium gemas pipi anak yang bahkan tidak diketahui namanya, pipi yang dinginnya mengalahkan kelopak bunga teratai.


"Sakit! Kapan aku tumbuh dewasanya! Agar tidak perlu selalu dicium seperti ini!" Geram Zeyan berusaha tersenyum. Tapi satu senjata pamungkas untuk memastikan nenek yang tengah menggendong dirinya jatuh cinta padanya. Tangan mungil itu menangkup pipi sang nenek, mengecup kening dari wanita tua itu.


"A....aaa!" Sang nenek berteriak kegirangan. Meresmikan cucu tersayangnya sebagai pemilik hatinya. Pintar, tampan, manis, penyayang, lugu. Siapa yang tidak ingin memiliki cucu seperti ini?


*


Pada akhirnya ruangan kepala rumah sakit menjadi tempat mereka bicara dengan tenang saat ini. Mulyasari menghela napas kasar, meminum secangkir teh yang terhidang, sambil sesekali menyuapi cucunya yang kala makan selucu hamster.


"Aku tidak sanggup makan lagi..." Keluh Zeyan dalam hati. Ingin muntah rasanya, entah kenapa mungkin karena penyakitnya belakangan ini dirinya terkadang mual. Atau juga mengalami demam tiba-tiba. Segalanya ditahan olehnya, meminum obat yang diberikan ibunya semalam. Sang ibu yang sempat berpesan agar untuk sementara waktu merahasiakan penyakitnya. Sang ibu yang takut jika Zeyan diambil paksa dengan alasan leukimia yang dideritanya.


Tapi tujuan Zeyan berbeda sejatinya. Dirinya ingin memastikan jika tulang sumsum ayahnya cocok. Walaupun ada kemungkinan tidak cocok. Satu-satunya harapan hidupnya mungkin sang ayah yang meninggalkan ibunya. Seorang ayah yang tidak bertanggung jawab sama sekali.


Selain itu wajahnya tersenyum, ada misi yang harus dijalankannya. Menangkap pembunuh Triton, sekaligus menyelamatkan orang-orang yang akan menjadi objek penjualan manusia maupun organ. Hanya 20 orang yang saat itu sanggup di selamatkan Triton. Misinya adalah menghancurkan organisasi mafia, dengan cangkang sebuah perusahaan besar itu sampai ke akar-akarnya. Matanya menelisik, masih mencurigai Fabian terlibat dalam hal ini. Apa benar? Tapi tetap saja dirinya saat ini adalah pangeran tampan yang imut. Terhanyut dalam karakternya sendiri, kue ini benar-benar manis, walaupun dirinya sudah lumayan mual.


"Apa yang terjadi? Kelihatannya dari usia Zeyan kamu dulu berselingkuh dari Anjani (mantan tunangan Fabian)?" Satu pertanyaan dari Mulyasari.


"Ibu bukan seperti itu hanya---" Kalimat Fabian disela.


Sesilia menunduk bagaikan meminta maaf."Pertama saya ingin minta maaf, karena putra saya melarikan diri. Kemudian menyusahkan putra anda." Wanita itu kemudian bangkit, senyuman merekah di wajahnya."Hanya itu saja..."


"Hanya itu saja?" Mulyasari menatap benar-benar angkuh. Dirinya diselingkuhi suaminya, hingga pada akhirnya bercerai. Wanita ini mungkin sama dengan wanita yang menggoda mantan suaminya.


"Tentu saja, apa lagi? Bukan saya yang menggoda. Tapi putra anda yang datang kemudian melecehkan seorang wanita buta. Melarikan diri, tidak ada maksud untuk bertanggung jawab sama sekali. Setelah memaksa seorang wanita buta yang bahkan tidak melihat wajahnya. Anda tau berapa kali saya mendatangi psikiater untuk menghilangkan rasa trauma?" Pertanyaan menusuk penuh kemarahan, tapi tanpa bentakan sama sekali. Bukan wanita lemah yang hanya dapat pergi sambil menangis, itulah Sesilia saat ini. Harus menjaga dirinya dan putranya setelah kematian Triton.


Srak!


Prang!

__ADS_1


Sedikit lagi satu centimeter lagi, cangkir itu akan mengenai wajah Fabian. Cangkir yang pada akhirnya pecah membentuk dinding dilemparkan oleh Mulyasari."Kamu mau mati?" pertanyaan dari sang ibu pada putranya.


"Terserah kalian mau hidup atau mati aku tidak peduli. Ayo Zeyan!" Panggil Sesilia, tentu saja anak itu penurut mengikuti langkah ibunya.


"Zeyan sayang nenek..." Satu kalimat dari mulut kecilnya sukses membuat Mulyasari menitikkan air matanya.


Siapa nenek yang tidak tertegun melihat mata berkaca-kaca dari cucu yang baru pertama kali ditemuinya.


"Zeyan, kamu kenapa tidak bilang ingin bertemu papa? Mama janji akan membawakan papa untukmu." Sesilia mengendong putranya mencium pipi chubby itu. Apapun keinginan putranya yang tengah sakit akan dikabulkan olehnya. Termasuk seorang ayah yang penyayang, dokter yang merawat Zeyan sejatinya sering mengirim pesan padanya. Namun, selalu diabaikan olehnya, mungkin jika dia membuka hati putranya akan bahagia menemukan sosok ayah.


Baru dua langkah, wanita itu berjalan. Adegan romantis terjadi. Mulyasari memeluk mereka, benar-benar pelukan tulus."Aku minta maaf, aku tidak tau, anak br*ngsek itu benar-benar keji. Jangan pisahkan aku dan Zeyan, aku mohon. Ki...kita sesama wanita akan saling menghormati sebagai ibu dan nenek."


"Ibu jangan pisahkan aku dan nenek..." Mata anak itu kembali berkaca-kaca.


"Baik, tapi aku tidak ingin dekat dengan pria ular itu..." Sesilia luluh pada akhirnya.


Dengan cepat sang nenek menggendong cucunya. Menciumnya beberapa kali.


*


Atas bujukan Mulyasari ibu dan anak itu kembali menginap. Dua orang yang tidur satu kamar. Sedangkan suasana tegang kini terasa, Mulyasari menatap ke arah putranya, duduk saling berhadapan di ruang keluarga.


"Kamu harus menikahinya, aku tidak ingin Zeyan memanggil orang lain sebagai nenek. Selain itu aku menyukai karakter Sesilia, dia akan menjadi nyonya rumah yang baik." Kalimat dari Mulyasari yang memang tipikal karakter tidak menyukai wanita lembut. Wanita yang mudah ditindas, hanya akan membuat banyak kesalahpahaman, serta beberapa usahanya juga memerlukan bantuan wanita bertangan besi untuk mengurusnya.


"Aku menyukainya, sebelum pertunanganku dengan Anjani. Aku setuju untuk bertunangan karena ibu mengatakan tidak menyukai wanita yang lembut. Ayah juga, mengatasnamakan permintaan ibu agar aku bersedia dijodohkan. Karena itu saat melihat seorang pemuda (Triton) memeluk Sesilia, sering menemuinya. Aku memutuskan mengubur perasaanku. Meminum wine yang Anjani berikan, meskipun aku tau dia meletakkan sesuatu di dalamnya." Fabian menghela napas kasar, menatap ke arah pemandangan kolam buatan yang ada di dekat mereka. Seakan mencoba mengingatnya kembali.


"Tapi aku tidak bisa, aku melarikan diri. Bahkan menabrak pembatas jalan, hanya untuk pergi ke toko bunga dengan cepat. Aku yang bersalah..." Kalimat dari pemuda itu tertunduk.


"Memang kesalahanmu. Kenapa tidak menemuinya setelahnya?" Mulyasari mengenyitkan keningnya.

__ADS_1


"Perusahaan kita ditekan oleh perusahaan milik ayah Anjani. Ayah juga membiarkan wanita-wanita itu menguras uang perusahaan. Sesilia? Dia tiba-tiba menghilang dengan pemuda itu (Triton). Aku tidak membuat alasan, setelah ibu dan ayah bercerai barulah aku dapat bebas bergerak. Memutuskan pertunangan dengan wanita yang setiap malam tidur dengan sahabatku. Aku mencarinya, tapi tidak ada hasil karena sudah terlalu lama, tanpa nama lengkap dan foto..." Fabian terdiam sesaat bibirnya kelu untuk berucap lebih dari ini.


"Nikahi Sesilia! Tapi harus juga bersiap untuk menghadapi Anjani." Mulyasari tersenyum, setidaknya pria memuakan ini bersedia untuk berkata jujur. Tidak seperti sebelumnya, selalu menjadi boneka suaminya.


__ADS_2