
"Sial!" batin Fabian menyadari bianglala sudah turun. Kala itulah mereka kembali canggung seperti semula. Seorang petugas hendak membukakan pintu untuk mereka.
"Ini! Aku ingin naik 30 kali lagi! Jangan ganggu kami!" Ucap Fabian mengeluarkan black card-nya.
Apa yang mau dirinya lakukan di dalam bianglala? Entahlah tapi yang jelas Sesilia hanya dapat memijit pelipisnya sendiri melihat kelakuan orang ini.
"Ta...tapi 5 menit lagi taman hiburan tutup." Ucap sang petugas.
"Sudah! Jangan dengarkan dia!" Sesilia mengambil kartu kredit milik Fabian, kemudian menarik pria itu pergi.
Bukan hal yang besar seperti makan di restauran Itali dengan menyewa seluruh restauran. Hanya berkunjung ke taman hiburan, sebagai pengunjung biasa. Namun, mengapa hatinya seperti ini? Mungkin itulah yang ada di benak pemuda ini.
*
Mobil yang mulai kembali melaju, saat ini hampir tengah malam. Wanita yang hanya menatap fokus pada jalan raya. Apa yang ada di fikirannya? Entahlah.
Berfikir keras, tentang Fabian yang harus menikahinya. Pria ini tidak akan bersedia menyelamatkan Zeyan dengan cuma-cuma, pria yang meninggalkan pergi setelah menidurinya 6 tahun lalu.
Karena itu jemari tangan Fabian dipegangnya. Pemuda yang membulatkan matanya, menepikan mobilnya segera. Ada apa dengan Sesilia hari ini? Mungkin itulah yang ada dalam fikirannya.
Jantungnya berdegup cepat, menyadari wanita itu melepas safety beltnya. Menangkup pipinya menggunakan kedua jemari tangannya.
Ini gila! Apa ini hanya mimpi? Tapi entahlah dirinya terasa kaku untuk bergerak. Wanita itu kembali melakukan hal yang sama, bibir mereka kembali bersentuhan. Wanita yang benar-benar kaku menggerakkan bibirnya. Jemari tangannya gemetar, bergerak turun berusaha melepaskan dasi yang dipakai Fabian.
Ini begitu indah, tapi terlalu indah. Fabian mendorong pelan tubuh Sesilia.
"Kenapa?" tanya wanita itu menatapnya. Wanita itu masih ragu dan ketakutan sejatinya, namun jantungnya yang ikut berdegup cepat, serta fikiran yang berusaha untuk menyelamatkan hidup putranya membuatnya memberanikan diri. Namun, mengapa pemuda ini mencegahnya?
__ADS_1
"Tidak boleh..." Hanya itulah yang diucapkan Fabian tersenyum lembut.
"Kamu tidak ingin menikah denganku?" Pertanyaan dari Sesilia lagi, berjanji dalam hatinya. Jika Fabian benar-benar dapat dan bisa menyelamatkan hidup Zeyan dirinya akan menjadi istri yang baik.
"Tidak sekarang." Hanya itulah jawaban dari Fabian dalam keraguan.
Suasana kembali hening dua orang yang ada dalam satu mobil namun terhanyut dalam fikiran mereka masing-masing. Radio yang menyala, memutar beberapa lagu. Tapi suasana tetap hening.
Hingga Fabian bernyanyi sembari menyetir, berharap dapat mencairkan suasana. Perlahan Sesilia berusaha tersenyum ikut bernyanyi.
Pernikahan? Fabian menginginkannya. Tapi tidak dapat dilakukannya saat ini. Chan mengawasi pergerakannya, seakan perusahaan yang semakin berkembang di tangannya. Mungkin, hanya menahan Zeyan dan Sesilia untuk melindungi mereka sudah cukup untuk saat ini. Itulah yang ada dalam fikirannya.
Namun, yang ada dalam fikiran Sesilia berbeda. Seperti yang dikatakan Zeyan, Fabian tidak akan memiliki rasa simpati, bahkan untuk dirinya dan putranya.
Jemari tangannya mengepal, berusaha tersenyum baik-baik saja. Jika...jika ini penolakan ini berlangsung lebih lama. Dirinya akan pergi bersama Zeyan, mencari jalan lain agar dapat hidup dengan putranya.
Mencintai? Dirinya sudah pernah disakiti sekali oleh satu-satunya pria yang dicintainya ini. Mengapa tidak dapat disakiti lagi? Yang berarti dalam hidupnya hanya Zeyan. Hanya putranya, jika cinta buta pada pria ini tidak dapat menyelamatkan putranya. Dirinya lebih rela, untuk menjadi istri ke tiga pengusaha kaya yang pernah melamarnya. Pengusaha yang sempat mengucapkan janji akan membawa Zeyan bersekolah di luar negeri.
Jalan mana yang akan dipilihnya di masa depan? Yang pasti dirinya hanya memikirkan jalan untuk menyelamatkan putranya.
Ada kalanya suatu penyesalan dapat terjadi lebih dari sekali. Pemuda yang tersenyum bernyanyi mengira segalanya akan baik-baik saja.
Tidakkah dirinya belajar dari pengalaman? Karena bimbang, dan berada dalam kebingungan dirinya meninggalkan Sesilia 6 tahun lalu. Benar-benar kehilangan Sesilia.
"Fabian, jika kamu menyukai bunga anggrek, tapi di bunga anggrek itu terdapat serangga beracun yang dapat membahayakan nyawamu. Apa yang akan kamu lakukan? Apa kamu akan mempertaruhkan nyawamu untuk menyingkirkan serangganya, agar bunga anggreknya tidak mati. Atau memilih membuang tanamannya?" Tanya Sesilia ragu.
"Tentu saja membuang tanamannya. Untuk apa mempedulikan tanaman yang akan mati. Tanaman cacat yang akan mati di makan serangga. Tidak ada gunanya mempertaruhkan nyawa untuk tanaman cacat yang akan mati." Jawaban dari Fabian menurut logikanya.
__ADS_1
"Begitu?" Bibir Sesilia bergetar memaksakan dirinya untuk tersenyum. Jawaban yang cepat, anggrek yang seperti Zeyan dan serangga beracun bagaikan penyakit kankernya. Jawaban yang dingin, mirip seperti kalimat yang diucapkan putranya.
Fabian akan segera membuangnya jika mengetahui penyakit yang diidapnya. Karena itu jalan satu-satunya hanya menikah, agar Fabian bersedia menyelamatkan Zeyan.
Tapi tidak ada yang tersisa. Pemuda ini menolak untuk menikah. Apa yang ditunggunya? Rasanya tidak ada.
"Aku akan mencintaimu. Hingga tidak dapat menunggu lagi. Jika keadaan Zeyan lebih buruk dari sekarang, aku akan pergi dan mencari jalan lain." Itulah yang ada dalam fikiran Sesilia.
"Aku mencintaimu." Kalimat sampah itu kembali diucapkan Fabian, tersenyum.
Kalimat yang sejatinya tidak begitu diindahkan Sesilia tidak mempercayai perasaan pemuda ini.
Namun satu hal yang diketahuinya tentang perasaannya sendiri yang tulus padanya."Aku juga mencintaimu."
Fabian tersenyum, perasaannya pada Sesilia berbalas bagaikan memiliki dunia. Apakah ini kebahagiaan perasaan cinta? Lebih menyenangkan daripada menenangkan tender proyek besar.
*
Tapi ada beberapa hal yang tidak diketahuinya sebelum badai itu tiba. Seorang pria baru saja turun dari pesawat pribadi miliknya. Beberapa pengawal berjejer menyambut kedatangannya.
Pria paruh baya dengan sedikit bekas luka di bagian dagunya. Kulitnya sedikit coklat, memiliki postur tinggi tegap, berjalan mendekati wanita di hadapannya.
Wanita yang segera berjalan mendekati sang ayah."Ayah... Fabian memiliki anak dengan wanita lain. Aku---"
"Kamu gagal menggodanya itulah intinya. Jika kita tidak bisa memilikinya tekan perusahaannya. Hancurkan citra perusahaannya, itu bukan hal yang sulit. Jika sudah ada dalam ancaman, manusia biasanya akan berbuat gegabah." Chan mulai menyalakan cerutunya, berjalan diikuti oleh putrinya.
"Ta...tapi bagaimana? Jika perusahaan hancur, percuma aku mendekati Fabian. Aku ingin calon suami dalam kesempurnaan yang utuh, tampan dan mapan." Ucap Anjani.
__ADS_1
"Perusahaannya baru saja mencoba peruntungan di bisnis waralaba kuliner. Bayar beberapa pegawai untuk menaruh racun di beberapa outlet. Citra perusahaan akan hancur dengan sedikit kerugian. Ucapkan kata-kata sarkas padanya seolah-olah kamu akan membakar beberapa pabrik miliknya. Dia akan menjadi anak anj*ng penurut. Bahkan akan bersedia menikah denganmu saat ini juga." Pria yang menghembuskan asap dari cerutunya. Berjalan masuk ke dalam mobil miliknya.
Tidak peduli dengan nyawa orang-orang yang keracunan. Asalkan tujuannya tercapai tidak masalah. Hanya beberapa nyawa saja.