
Fabian menghela napas kasar menatap ke arah wanita di hadapannya. Bibirnya terasa kelu untuk berucap sesaat. Tapi ini harus dikatakan olehnya."Tidak bisakah kita memperbaiki hubungan?" tanyanya ragu.
Sedangkan Sesilia mengenyitkan keningnya."Tidak..."
Sudah diduga olehnya hanya satu jawaban yang akan keluar dari mulut wanita itu. Wanita yang segera bangkit setelah pembicaraan singkat. Hingga satu kalimat yang terucap dari bibir Fabian."Jangan pergi, aku tidak bisa..."
"Tidak bisa?" Sesilia sedikit berbalik langkahnya terhenti.
"Jangan membangun dinding pembatas. Aku menyukaimu, tapi terlalu canggung untuk mengatakannya. Saat kekasihmu ada, aku hanya bisa melihatmu dari jauh, menerima perjodohan dengan ayahku." Fabian tertunduk diam, sejenak berusaha menjelaskan pun tidak mungkin wanita ini akan percaya.
"Lalu apa!? Br*ngsek! Kamu menerimanya! Itu artinya---" Kalimat Sesilia disela, pemuda itu memeluknya erat. Wanita yang berusaha melawan, namun hanya terdiam kala bahu pemuda itu bergetar. Pemuda ini menangis? Tapi kenapa?
"Maaf, aku kira dapat melupakanmu dengan tidur bersamanya. Membiarkan dia menjeratku malam itu. Tapi terlalu risih bagiku... hingga aku menjadi gila dan menemuimu. Maaf..." Lirihnya masih mendekap tubuh wanita itu. Wanita yang tidak bergerak lagi, hanya terdiam dalam kebisuan. Tidak ingin mengatakan apapun.
"Aku mencintaimu, dari hari pertama kita bertemu. Aku terlalu takut..." Lanjut Fabian, mengeratkan pelukannya.
Mengingat kala hujan yang bagaikan keajaiban turun saat itu. Membasahi tubuhnya, hingga dirinya harus berteduh di tempat itu. Pemuda putus asa yang tidak memiliki uang hanya untuk membeli setangkai bunga.
Berbicara dan berbincang hingga hujan reda bersama malaikatnya. Hingga harus melepaskannya hingga mengetahui hati malaikatnya telah dimiliki pria lain."Aku memang tidak sebaik Triton. Tapi aku..."
"Tapi kamu melecehkanku! Kakakku harus bekerja keras untukku! Menjual toko! Membawaku ke psikiater! Kamu tau bagaimana menyakitkan setiap semua orang menghina Zeyan sebagai anak di luar nikah!? Hanya kakakku yang baik padaku di dunia ini dan dia juga harus mati... harus mati..." Gumam Sesilia berusaha melepaskan pelukan Fabian.
"Triton harus mati..." lirihnya bagaikan mempertanyakan pada Tuhan. Mengapa mengambil seorang kakak yang begitu berarti baginya.
Fabian tertegun sejenak, melepaskan pelukannya. Jemari tangannya terangkat menghapus air mata Sesilia. Menyadari segalanya, bukalah kekasih. Pemuda yang membuatnya merelakan Sesilia adalah kakak kandung wanita ini. Rasa bersalah yang ada dalam dirinya."Jangan menangis, aku akan mencari cara menghancurkan orang yang membunuh kakakmu. A...aku akan melindungimu, bukan dengan sayap malaikat. Tapi dengan pedang..." gumamnya menghapus air mata Sesilia.
Wanita itu hanya terdiam tidak melawan kali ini, tubuhnya terlalu lemah setiap mengingat sang kakak yang telah tiada. Wanita yang menjerit menangis lebih kencang bagaikan anak kecil."A...aku menyayanginya. Tubuhnya remuk, tubuhnya remuk, a...ada puluhan luka tembakan dan pedang yang menebus tubuhnya." Ceritanya untuk pertama kalinya pada seseorang, mengatakan keadaan tubuh Triton yang diceritakan semua orang.
Untuk pertama kalinya Sesilia terus terang dengan rasa sakitnya. Wanita yang pada akhirnya terduduk di lantai."Aku hanya mencintainya. Mencintai kakakku lebih dari nyawaku sendiri."
__ADS_1
Sementara Fabian terdiam, dirinya benar-benar mengetahui siapa pembunuh Triton. Chan, dialah orangnya. Masih teringat di benaknya, bagaimana frustasinya Chan saat itu. Pembicaraan Chan dengan ayah Fabian, mengenai telah menyingkirkan tikus bernama Triton. Menyingkirkan tikus? Sejatinya dirinya mengira tidak mungkin pemuda itu tertangkap begitu saja.
Apa ini kenyataannya? Apa Sesilia akan kecewa jika mengetahui ayah Fabian terlibat dalam kematian Triton?
Tapi dirinya ingin tetap menjaga Sesilia, melepaskan duri dalam hatinya."Jangan menangis, dia (Triton) menyayangimu tidak akan rela melihatmu menangis."
Sesilia hanya terdiam, kali ini membiarkan Fabian menghapus air matanya. Apa ini pertanda hubungan yang membaik? Entahlah, apa yang akan terjadi jika segalanya diketahui oleh Sesilia.
*
Hari ini Sesilia terdiam menatap ke arah sinar matahari yang memasuki sekat kaca. Dirinya kini berada di dalam ruangan Fabian. Menghela napas kasar, menjelaskan memang lebih baik. Setidaknya dirinya mengetahui pemuda ini tidak seliar dalam ingatannya.
Membuka hati untuk Fabian demi Zeyan? Apa bisa? Apa bisa mempercayai pemuda pembohong ini? Kembali terlarut dalam pekerjaannya. Tidak menyadari sang pemuda menyipitkan matanya. Wajahnya tersenyum menatap ke Sesilia.
Pemuda yang bagaikan anak SMU jatuh cinta itu tersenyum malu-malu. Tapi hanya sesaat, segera berpura-pura mengerjakan beberapa berkas. Jantungnya berdegup cepat, apalagi mengetahui Triton bukan kekasih Sesilia.
Menghela napas berkali-kali."Mau makan siang bersama?" tanyanya dingin tanpa ekspresi, berusaha sedingin mungkin. Padahal aslinya ingin berlari ke pelukan Sesilia.
"Semua karyawan kan memang terbiasa makan bersama di cafetaria." Senyuman terukir di Sesilia, ini kencan dirinya berusaha membuka hatinya. Tapi harus hemat, mengingat biaya pengobatan Zeyan yang tidak sedikit.
"I...iya..." Fabian berusaha keras untuk tersenyum. Dirinya ditolak, benar-benar ditolak lagi. Tapi tidak boleh menyerah, dari awal ini salahnya karena meninggalkan Sesilia tanpa penjelasan. Pemuda yang membenturkan kepalanya ke meja beberapa kali, menyesali tindakan bodohnya 6 tahun lalu.
"Kenapa membenturkan kepalamu ke meja?" Sesilia mengenyitkan keningnya.
"A...aku hanya berusaha mencari ide untuk proyek baru." Jawaban darinya.
"Ide untuk proyek membuat anak kedua..." batinnya ingin menangis rasanya. Dirinya ditolak, benar-benar ditolak. Tidak terbayang rasanya.
"Oh..." hanya itulah jawaban dari Sesilia kembali konsentrasi pada pekerjaan. Walaupun sesekali melirik ke arah Fabian yang terlihat suram. Apa pemuda itu tidak suka berkencan dengannya di cafetaria kantor?
__ADS_1
"Kalau kamu keberatan makan bersamaku kita bisa---" Kalimat Sesilia disela dengan cepat.
"A...aku tidak keberatan! Benar-benar tidak keberatan!" tegasnya dengan aura mengintimidasi bagaikan tentara yang akan pergi berperang.
*
"Itu pak Fabian kan? A...aku tidak jadi makan!"
"Tampan, tapi kalau berbuat salah sedikit saja jika bertemu dengannya. Kita bisa dimutasi."
"Siapa karyawati yang duduk dengannya? Tidakkah dia tau pak Fabian itu ladang ranjau?"
"Itu asistennya yang baru kan?"
"Ada ya orang gila yang bertahan dengan bos mengerikan?"
"Ta...tapi aku lapar."
Beberapa karyawan berbincang ketakutan. Tidak berani memasuki area cafetaria. Melihat keadaan dari luar, cafetaria yang biasanya dapat memuat ratusan karyawan kantor pusat di waktu makan siang kini hanya dihuni oleh dua orang.
Mengapa tidak ada yang masuk? Mereka bahkan enggan bertemu dengan bos mereka yang sudah seperti tiran.
Menelan ludah kasar mengamati karyawati yang mungkin akan dipecat setelah ini. Wanita yang menjadi asisten Fabian, pria kejam itu pasti akan mengusirnya sebagai satu-satu orang yang berani duduk dan bertindak tidak sopan di hadapan bos-nya.
Wanita yang tiba-tiba menjatuhkan alat makannya.
"Pakai punyaku saja, kamu harus makan lebih banyak daging..." Ucap pemuda itu meletakkan daging di atas piring Sesilia. Mengganti garpu Sesilia yang jatuh dengan garpunya. Bahkan menyuapi wanita ini.
"Astaga! Kiamat sudah dekat!"
__ADS_1
"Aku tidak mimpi kan? Bos setan itu menyuapi wanita!"
Beberapa karyawan yang mengintip menelan ludah mereka. Ini gila! Sebuah kegilaan yang hakiki.