Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Tidak Apa


__ADS_3

Pertanyaan yang membuat Sesilia tertegun sejenak. Dirinya tertawa kecil dengan air mata yang mengalir."Dari hari kamu melakukannya, perasaan itu sudah pudar. A...aku bertahan karena Zeyan mengatakan menyayangi dan merindukanmu. Zeyan tidak menginginkanmu lagi..." Jawaban darinya pada akhirnya, melepaskan jemari tangan Fabian yang mendekap tubuhnya dari belakang.


Tidak ada rasa yang tersisa, bahkan jika jantungnya berdegup cepat. Rasanya adalah rasa Zeyan. Tidak ada cinta untuk Fabian dari putranya, dirinya juga akan sama.


Tidak menyadari seorang anak memakai pakaian hangat bagaikan dinosaurus kecil menatap ke arah mereka. Pandangan yang kosong, Fabian tengah tertunduk sembari berlutut, tidak memiliki hak dan kuasa untuk menyusul atau menghentikan Sesilia lagi.


Sedangkan Sesilia? Kaki kecil itu kembali melangkah, menapaki jalan dengan dedaunan kecil menutupi tanah. Sang anak yang membulatkan matanya, menatap ibunya menangis menepuk-nepuk dadanya sendiri.


Berusaha menghapus Fabian dari hidupnya? Apa yang terjadi? Apa ini tentang kebahagiaan Sesilia? Pemuda yang sering mendatanginya ketika Sesilia tidak dapat melihat adalah kebahagiaannya.


"I...itu tidak masuk akal..." Gumam Zeyan membulatkan matanya melangkah mundur. Air matanya mengalir, dirinya menatap ke arah Sesilia dari jauh. Apa itu perasaan cinta? Kenapa harus saling melukai? Itulah yang ada dalam dirinya. Berusaha untuk tersenyum, dirinya lah yang menjadi alasan mengapa Sesilia kembali mengingat Fabian. Dan karena dirinya juga, Sesilia berusaha menghapusnya kembali.


Anak itu melangkah mundur. Berjalan ke tempat lain, wajahnya benar-benar pucat, tanpa disadarinya darah mengalir dari hidungnya lagi. Keegoisannya lah yang mencoba mengatur hidup Sesilia adalah masalah. Dirinya yang menyakiti hati Sesilia jika difikirkannya lagi.


Sebagai Triton...andai saja dirinya saat itu menemui Fabian kemudian berbicara baik-baik dengannya. Bahkan sebagian Zeyan, dirinya lah yang menarik kembali Sesilia ke hadapan Fabian. Tapi dirinya juga yang kini ingin memisahkan mereka.


Anak itu tetap berjalan, menatap ke arah cahaya matahari yang menembus pepohonan. Apa dirinya pernah memikirkan kebahagiaan Sesilia? Itu hanya fatamorgananya saja, dirinya lah yang menghancurkan Sesilia sebagai Triton maupun Zeyan.


Air mata mengalir tanpa disadarinya, kala dirinya menonggakkan kepalanya merasakan hembusan angin yang membelai wajah kecilnya.


Tapi hanya sejenak, anak itu menatap ke arah lain. Disisi yang berbeda kini Fabian terdiam seorang diri di pinggir danau.


"Aku akan memberikanmu satu kesempatan lagi. Jika menyia-nyiakan Sesilia, aku akan mencarimu, walau ke neraka sekalipun..." Gumamnya penuh senyuman.


*


Fikirannya kosong, masa depan impiannya apa dapat terwujud. Hanya ingin keselamatan putranya, itulah yang utama baginya.


Menatap ke arah danau seorang diri, duduk di tempat yang benar-benar tenang. Bolehkah impiannya menjadi nyata? Mungkin itulah yang ada di benaknya saat ini.


"Tolong!"

__ADS_1


"Tolong!"


Suara teriakan anak kecil terdengar di dekatnya. Matanya menelisik, pakaian dinosaurus kecil. Ada dinosaurus kecil yang tercebur ke danau? Bagaimana bisa?


Tidak! Dasar bodoh! Itu putranya sendiri tidak memikirkan apapun. Sepatu kulit dilempar asal olehnya. Mempermudah gerakannya menyelamatkan Zeyan.


Tidak bisa berenang? Siapa bilang? Senyuman menyungging di wajah Zeyan yang berpura-pura tenggelam.


Waktu yang tepat semuanya diukur olehnya. Sesilia datang, segera setelah Fabian berenang mendekatinya.


Kala sang ayah ingin menyelamatkannya.


Brak!


Sang anak memukul bahu ayahnya di tengah cipratan air. Tidak ingin Sesilia mengetahuinya.


"Kenapa?" Itulah yang ada dalam fikiran Fabian, menatap putranya berenang ke tepian.


Bahunya benar-benar cidera, pipa besi yang digunakan oleh Zeyan telah tenggelam. Bersamaan dengan Fabian yang kesulitan berenang. Anak yang tersenyum benar-benar keji.


Kala dirinya kesulitan bergerak, telah hampir tertelan air. Wanita itu muncul, rambutnya mengapung, wajah yang dirindukannya memakai mini dress putih. Malaikat? Peri air? Dirinya ingin menganggap demikian pada wanita yang dicintainya.


Menangkup pipinya di dalam air memberikan sedikit udara dari mulut ke mulut. Menyentuh bahunya, membantunya berenang ke tepian.


Mengapa berakhir seperti ini? Apa yang terjadi? Entahlah dirinya hanya mengikuti segalanya. Kala kesadaran telah kembali. Wanita itu mengambilkan handuk untuknya.


Matanya sedikit melirik ke arah Zeyan. Apa putranya benar-benar mengharapkan kematiannya? Apa dirinya benar-benar dibenci?


"Ayah menyelamatkanku! Kakiku tadi terbelit jaring nelayan! Aku hampir tenggelam, lalu ayah memotong talinya di dalam air. Hingga kehabisan napas!" Ucap Zeyan antusias tanpa jeda.


Apa ini? Ada yang aneh dengan prilaku Zeyan. Mata Asnee sedikit melirik ke arah Fabian menghela napas kasar."Terimakasih sudah menyelamatkan Zeyan."

__ADS_1


Sesilia juga tersenyum setelah membawakan teh hangat buatan Flo untuk dirinya dan Zeyan."Terimakasih, Zeyan memang bisa berenang. Tapi jika kamu tidak membebaskan kakinya dia akan kehabisan napas..." hanya itulah ucapannya ragu.


Fabian kembali mengalihkan pandangannya pada Zeyan. Bahunya mungkin memar, masih sakit hingga kini. Anak ini yang membuat skenarionya, bahkan menyusun langkah bagaikan bidak catur. Hati semua orang dikendalikan olehnya, benar-benar manipulatif.


Berpura-pura tenggelam, membuat seolah-olah Fabian hampir mati karena menyelamatkan nyawanya. Benar-benar berjiwa setan, hingga membahayakan nyawa ayah kandungnya sendiri.


"Kamu akan menjadi pewaris perusahaan yang hebat." Ucap tertegun menatap ke arah Zeyan.


"Cita-citaku menjadi gamer!" Ucap Zeyan meminum teh hangat.


"Fabian... terimakasih sekali lagi..." Hanya itulah yang diucapkan wanita dengan pakaian yang masih basah itu. Jemari tangannya mengepal bingung harus bagaimana.


Benar-benar indah keadaan saat ini bagi Zeyan. Jikapun dirinya dipanggil, dirinya sudah siap.


Huk!


Huk!


Anak itu tiba-tiba terbatuk-batuk, darah yang cukup banyak mengalir dari hidung dan mulutnya.


"Zeyan!" Asnee memangkunya dalam kepanikan. Mengangkat tubuhnya cepat, udara yang cukup dingin. Keadaannya masih demam, apa ini akhir hidupnya.


Kala tubuh kecilnya diangkat. Wajah mungil pucat pasi itu tersenyum."Ibu, fikirkan kebahagiaanmu, bukan kebahagiaanku. Karena bahagiamu adalah bahagiaku."


"Zeyan!" Ucap Sesilia mengikuti langkah Asnee. Sedangkan Fabian berlari duluan ke dalam mobil, rasa sakit di bahunya benar-benar tidak terasa, atau dapat dikatakan ditahannya di saat seperti ini. Menghidupkan mesin mobil, menunggu mereka semua naik.


Putranya tidak boleh mati. Putranya memberikan satu kesempatan baginya lagi bukan?


Wajah kecil yang tersenyum itu selalu terbayang. Tidak pernah difikirkan olehnya putranya selemah ini. Anaknya harus hidup, jika hidup akan diperlakukannya dengan baik. Menjadi keluarga normal, benar-benar memberikan kasih sayang untuknya.


Mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi. Air mata hangat dari Asnee terasa jatuh di atas pipinya. Sesilia, Flo, semua orang juga sama. Haruskah dirinya mensyukuri kehidupannya kali ini?

__ADS_1


Bersyukur dapat dilahirkan kembali dengan ingatan yang sama. Triton... seseorang yang mati dalam kesendirian. Tidak ada yang berpihak padanya, menerima hantaman dan pukulan. Hingga tubuhnya ditancapkan pedang.


Dirinya bersyukur dapat hidup sebagai Zeyan. Anak yang dicintai semua orang. Bahkan jika dirinya mati kali ini dalam pelukan keluarganya. Dirinya tidak apa-apa, tidak akan apa-apa. Tidak ada penyesalan sedikitpun, mungkin ini tujuannya hidup kembali. Agar dapat mati dalam pelukan keluarganya.


__ADS_2