
Menghela napas kasar, dirinya mulai kembali duduk di samping Fabian yang juga mendengarkannya."Tentang Zeyan?" Tanya pemuda itu.
Sesilia mengangguk ragu."Dia sakit---"
"Sakit? IQ tinggi bukan sebuah penyakit, Jesseline mengatakannya padaku. Awalnya aku tidak percaya tapi---" Kalimat Fabian yang memuji dengan antusias disela.
Wanita itu menggeleng."Zeyan benar-benar sakit. Putra kita memerlukanmu, dia mengidap---"
"Sebentar." Fabian mengangkat tangannya. Pertanda agar Sesilia menghentikan kata-katanya. Handphonenya berbunyi dengan nama pemanggil Cakra.
Wanita yang tertunduk mengepalkan tangannya. Menunggu dengan sabar, sang pemuda yang mengangkat panggilan. Wajah Fabian tiba-tiba pucat pasi, matanya sedikit melirik ke arah Sesilia.
"Aku akan segera ke rumah sakit," ucapnya pada seseorang di seberang sana, kemudian mematikan panggilannya.
"Sesilia kita harus pulang." Kalimat yang diucapkan Fabian tergesa-gesa, mengambil kunci mobil dan phonecellnya.
"Tidak! Dengarkan dulu kata-kataku! Karena jika tidak sekarang mungkin aku tidak dapat mengatakannya lagi." Sesilia memeluk pemuda itu dari belakang. Benar-benar menjatuhkan harga dirinya."Putra kita sakit, dia perlu pengobatan, operasi. Jadi---"
Namun, apa yang didapatkannya? Fabian melepaskan pelukan Sesilia."Kita bicarakan ini nanti. Ada nyawa yang harus diselamatkan. Kita harus pulang."
"Aku akan disini," hanya itulah jawaban dari Sesilia. Telah memikirkan segalanya, ini tentang perusahaan lagi. Perusahaan memang lebih penting bagi Fabian. Tidak ada tempat untuk ibu dan anak ini, tidak ada sama sekali.
"Tapi ini sudah malam." Fabian kembali menatap ke arah phonecellnya. Panggilan kembali masuk, disertai beberapa pesan."Aku akan mengirim supir."
Pada akhirnya pemuda itu menyerah. Keadaan yang sulit membuatnya harus bergegas, menaiki mobil dengan cepat. Kejadian yang berlangsung benar-benar cepat, membuat Sesilia tertegun.
"Anak kita sakit, memerlukan perawatan dan operasi. Apa kamu tidak cemas?" Tanyanya menitikkan air matanya. Bahkan kala dirinya berusaha memaafkan Fabian. Menjatuhkan harga dirinya, untuk memohon padanya. Namun, tidak ada yang lebih berharga daripada perusahaan. Dengan ribuan karyawan di dalamnya.
__ADS_1
Alasan Fabian meninggalkannya 6 tahun lalu, mungkin sama seperti alasan kepergiannya saat ini. Dapatkah pemuda itu menyayangi dirinya dan Zeyan, apa perlu menemui dokter dan membawa dokumen pemeriksaan baru pemuda itu akan percaya anaknya sekarat?
Terdiam seorang diri dalam tangisan. Kunang-kunang terbang di sekitarnya, dirinya sudah berusaha menjadi seorang ibu yang tegar. Andai Triton masih ada, mungkin kakaknya akan memeluk dan mencari cara apapun untuk melindungi dirinya dan Zeyan.
"Sesilia?" Suara seseorang terdengar, seorang pemuda yang mengenakan kacamata. Derrick itulah namanya, tukang bersih-bersih rumah sakit tempat Zeyan biasa dirawat.
Wanita itu menonggakkan kepalanya. Wajah cantik dengan air mata yang terus mengalir. Derrick menghela napas kasar."Kenapa menangis disini seperti kuntilanak?" tanyanya datar.
Tidak ada jawaban, Sesilia tetap diam tertegun dengan air mata mengalir."Patah hati? Atau memikirkan masa depan anakmu?" tanyanya kembali, pemuda yang berwajah lembut yang duduk di samping Sesilia.
"Keduanya." Kali ini Sesilia menjawab, tidak ada teman bicara untuknya. Menghilangkan sedikit beban di dadanya.
Pemuda yang hanya mengenalnya sekilas di rumah sakit itu tersenyum."Menyakitkan kan? Ketika orang yang dicintai memiliki kemungkinan untuk mati, karena penyakit parah. Sebenarnya ada dua kemungkinan, hidup dalam penderitaan atau mati dalam pelukan Tuhan. Jika Tuhan memberikannya waktu lebih banyak, sayangi dia, berusahalah melindunginya dari penderitaan. Tapi jika Tuhan memanggilnya, ingatlah dia akan damai tanpa merasa sakit dalam pelukan-Nya. Agar kamu dapat ikhlas walaupun itu sulit."
"Zeyan akan hidup! Dia satu-satunya tujuan hidupku!" bentak Sesilia tiba-tiba.
Derrick mengangguk."Putramu akan hidup. Bersemangatlah untuk membahagiakannya, dan kurangi penderitaannya."
"Maaf, aku hanya bermaksud menegarkanmu." Ucap Derrick menggenggam jemari tangan Sesilia.
"Aku tau..." hanya itulah jawaban dari Sesilia, menangis lebih kencang. Dirinya memang ingin menumpahkan rasa sakitnya pada Fabian hari ini. Namun, tetap tidak bisa, sama sekali tidak bisa. Dirinya dan Zeyan sama sekali tidak berharga.
Pemuda yang pendiam, menatap ke arah sungai. Sembari menghela napas kasar.
"Apa yang kamu lakukan disini? Kamu penguntit ya?" Ucap Sesilia baru menyadari, ini benar-benar tempat sepi. Tidak mungkin ada orang yang kebetulan lewat.
"Rumahku ada di sana. Rumah semi permanen, penghuni liar bantaran sungai. Kamu yang sedang apa ada disini? Aku hanya turun untuk buang air kecil. Lalu mendengar suara kuntilanak menangis. Melihatmu disini, aku takut kamu akan dimakan buaya penangkaran yang lepas kemarin." Jelas Derrick, menunjuk ke arah rumah yang dindingnya dari bambu dan kayu bekas.
__ADS_1
"Ada buaya?" Sesilia membulatkan matanya. Dengan cepat Derrick mengangguk.
*
"Hah..." pada akhirnya wanita itu hanya dapat menghela napas kasar. Meminum segelas teh di warung dekat bantaran sungai sembari menunggu taksi onlinenya datang.
Pemuda itu terlihat acuh, berbeda dengan pemuda lain yang agresif mendekati dirinya. Pemuda dengan kaos pemilu mengambilkan gorengan untuknya."Kamu yang bayar sendiri. Keuanganku sedang kurang bagus."
Sesilia mengangguk, menghela napasnya berkali-kali. Dirinya sudah jauh lebih tenang saat ini, memang lega rasanya jika sudah mengatakan isi hati. Seperti isi tahu goreng yang sedang dimakannya, berharap isinya sayur-sayuran ternyata isinya bihun. Kekecewaan terlihat di raut wajahnya saat memakan gorengan.
"Kamu tinggal sendiri?" Sesilia mengenyitkan keningnya.
Pemuda itu mengangguk, meminum kopi."Aku tinggal sendiri. Masih berusaha untuk membayar kuliah. Sebentar lagi aku wisuda. Calon dokter." Pemuda yang sudah menabung bertahun-tahun itu membanggakan dirinya.
"Iya! Calon dokter!" Sesilia menghela napas kasar tertawa kecil."Setelah lulus apa rencanamu?" tanyanya lagi pada seseorang yang hanya dikenalnya sekilas.
"Aku? Tentu saja menjadi dokter, kembali kuliah dan bekerja sebagai dokter spesialis. Setelah mempunyai rumah sederhana dan mobil murah, tinggal melamar seorang singgel parents." Ujarnya terkekeh dengan imajinasinya sendiri.
"Singgel parents? Lebih baik yang perawan!" Sesilia tersenyum memakan gorengan yang tidak enak baginya.
"Janda lebih berpengalaman. Jadi saat malam pertama bukan aku yang unboxing, tapi dia yang unboxing. Melepaskan keperjakaanku..." Selera humor yang benar-benar lucu membuat Sesilia tertawa hingga memegangi perutnya.
Segalanya stabil dan penuh rencana dalam hidupnya. Hingga taksi online hampir sampai, tiba-tiba phonecell Sesilia berdering, nomor tidak dikenal menghubunginya.
"Ini benar dengan ibu Sesilia?" tanya seseorang di seberang sana terdengar panik.
"Benar! Ini siapa ya?" Tanya Sesilia pada seseorang di seberang sana.
__ADS_1
"Saya penjaga warnet. Anak ibu tadi mimisan. Sekarang badannya masih lemas, dia menyuruh saya menghubungi ibu." Jawaban dari orang di seberang sana menbuat Sesilia tertegun sejenak.
Phonecell beralih tangan, suara Zeyan terdengar kini."Ibu jemput aku di warnet jalan Cempaka. Jangan beritahu pada nenek dan ayah. Kita akan pergi, aku tidak akan keras kepala lagi. Aku tidak ingin pulang ke rumah itu."