Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Kucing Hitam Dalam Pelukan


__ADS_3

Banyak hal yang terjadi hari ini termasuk kedatangan Pohan. Pria blasteran Indonesia-Australia itu tidak berhenti bicara tentang seberapa mengerikannya Zeyan setelah dirinya menyelidikinya.


Bahkan memesan senjata api jarak jauh yang biasa dipakai oleh penembak jitu, senjata api dengan jenis yang tidak terlalu berat untuk jarak dekat juga. Berkata dengan serius kala mengatakan tim detektif dan tim IT yang dibuat keluarganya menyelidiki orang yang membocorkan informasinya ke publik.


Tapi sekali lagi mereka tidak punya bukti, selain rekaman CCTV anak itu yang pergi ke warnet. Cerita yang benar-benar menarik, khayalan tingkat tinggi, hingga Fabian berusaha tersenyum, mendengarkan. Salah satu alisnya terangkat kala, dengan antusias Pohan menceritakan situs itu menjual antivirus pada perusahaan terkemuka di luar negeri.


"Orang gila!" batinnya.


Sedangkan Sesilia yang memang lebih sering bekerja di luar kota juga hanya dapat menghela napasnya. Memegang prinsip dalam hati."Yang waras harus banyak-banyak bersabar dan mengalah."


"Benarkah? Jika begitu seharusnya aku merekrut Zeyan masuk ke perusahaan." Ucap Fabian ingin terdengar antusias membicarakan omong kosong ini. Padahal dirinya selalu melirik ke arah jam tangan. Ingin segera makan siang ini berakhir.


"Tidak! Itu terlalu berbahaya, anak itu seperti Chucky atau Anabelle tidak mudah untuk ditangani. Aku berencana akan mengawasinya secara ketat dan mempertemukannya dengan psikiater, setelah menikah dengan Sesilia nanti.


Pyur!


Sesilia menyemburkan air dari mulutnya terbatuk-batuk. Setelah mendengarkan omong kosong ini bercandaan itu kembali di bahas. Tidak mungkin mereka yang berteman menikah bukan?


Aura mengerikan.


Krak!


Gelas di tangan Fabian tiba-tiba retak. Pemuda itu menatap sadis penuh intimidasi, mengiris daging sapi bagaikan mengiris daging musuhnya di area perang."Menikah?" tanyanya.


"Bercanda!" Ucap Pohan terkekeh, membuat mood dua orang itu benar-benar buruk. Sebenarnya beberapa detik yang lalu Sesilia sedikit berfikir. Mungkin cukup cocok dengan dirinya jika itu Pohan, mungkin juga Zeyan tidak akan mengharapkan ayahnya lagi.


Tapi hanya candaan? Dari dulu Pohan memang tidak berubah.


"Pergi! Tekanan darahku naik karenamu! Lama-lama aku bisa terserang stroke!" Fabian berteriak murka.


*


Hari sudah menjelang sore, seorang anak yang kali ini mengenakan setelan berwarna hitam, dengan topi kucing berwarna hitam senada berjalan pulang. Alasan? Dirinya selalu memiliki alasan yaitu berkunjung ke rumah temannya yang mempunyai mainan robot-robotan baru. Anak berusia lima tahun yang polos, berjalan pulang seorang diri sembari bernyanyi.


Namun, langkahnya terhenti kala itu. Ini sudah pukul setengah enam sore. Saat ini mungkin ibunya sudah tiba di rumah. Berjalan masuk dengan ragu pasalnya ada mobil asing yang terparkir.


Dua orang wanita duduk di ruang tamu. Wanita yang terlihat masih muda, satunya lagi, wanita yang mungkin seumuran dengan ibunya.


Tidak peduli, anak itu tidak ingin menebarkan pesonanya yang bagaikan gula hari ini, alasannya sudah terlalu kenyang. Kaki kecilnya yang masih menggunakan sepatu hitam melangkah.


"Kamu siapa? Apa anak pembantu baru? Suruh ibumu buatkan kami minuman." Ucap wanita yang terlihat lebih tua, Anjani itulah namanya mantan tunangan Fabian.


"Aku? Aku majikan disini. Bisa dikatakan putra mahkota. Jadi apapun status kalian, kalian lebih rendah dibandingkan denganku." Ucap mulut kecil itu dingin. Dirinya sudah cukup lelah hari ini, apalagi dengan kondisi tubuhnya yang semakin hari semakin lemah.

__ADS_1


Putra mahkota? Tentu saja, karena otoritas tertinggi saat ini dipegang oleh Mulyasari. Ayah dan neneknya sudah resmi menjadi budak cucu.


"Rendah! Tidak tahu sopan santun!" Ucap Anjani melempar fas bunga padanya.


Srak!


Prang!


Dalam satu tendangan, vas bunga itu kembali pada mereka. Hampir saja kena, hingga pada akhirnya memecahkan lemari kaca yang ada di belakang mereka.


Kegaduhan yang terjadi membuat semua orang keluar. Termasuk Mulyasari dan Sesilia, serta beberapa orang pelayan.


"Ibu! Siapa anak berandal ini!?" Teriak Jesseline (adik Fabian) yang memang baru datang dari berlibur bersama Anjani.


"Nenek..." Drama dimulai mata berkaca-kaca yang berusaha tidak menangis beberapa saat. Pada akhirnya air mata buaya itu keluar juga. Benar-benar terlihat imut, kulit putih pucatnya berpadu dengan setelan hitam dan topi kucing berwarna hitam. Tubuhnya benar-benar terlihat rapuh.


Tidak merentangkan tangan. Tapi tertunduk mengundang simpati. Hanya berucap lirih."Nenek..." satu kata yang membuat jantung sang nenek berdegup cepat. Panggilan darurat dari sang putra mahkota pada sang kaisar. Dengan segala otoritasnya tubuh Zeyan diraih dan digendong sang nenek.


"Jangan menangis ya? Nanti nenek akan memberikan Zeyan tambahan uang jajan kalau berhenti menangis. Terserah mau dipergunakan untuk top up game atau untuk apapun. Jangan menangis ya...?" Ucap sang nenek mendekap cucunya erat.


"Ibu! Anak itu---" Kalimat Jesseline disela.


"Ne...nenek, mereka mengatakan aku anak pelayan. Setelah aku mengatakan aku anak ayah mereka malah mengatakan aku anak haram pembawa sial. A...apa itu anak haram? Apa itu jahat sehingga menjadi pembawa sial? Jika itu hal jahat. Ja...jangan buang Zeyan." Pertanyaan polos penuh air mata dengan mata berkaca-kaca, tangan kecil itu membelai pipi sang nenek. Tangan dingin bagaikan kelopak bunga teratai, astaga! Nenek mana yang tidak akan menjadi budaknya.


"Apa yang kalian lakukan!? Dia ini masih kecil!" teriak Mulyasari murka pada akhirnya.


"Dia keponakanmu! Anak Fabian dan ini ibunya Sesilia, mereka akan menginap sementara disini." Tegas Mulyasari menunjukkan otoritasnya.


Bagaikan sambaran petir wajah Jesseline dan Anjani pucat pasi mendengar semua kenyataan memuakkan ini.


"Aku juga tidak ingin terlahir menjadi anak dari ayah durhaka. Tapi mau bagaimana lagi..." batin Zeyan tersenyum diam-diam dalam pelukan Mulyasari.


"Orang ini anak Fabian?" Pertanyaan dari Anjani mengenyitkan keningnya, senyuman menghina tiba-tiba terlihat di wajahnya."Dia hanya wanita penghibur, apa bibi akan percaya dengan penipu ini?"


"Aku bukan wanita penghibur. Dan jaga ucapanmu di depan anakku, dia masih terlalu muda untuk mendengar kata-kata kasar." Geram Sesilia, menghela napas kasar sedikit melirik pada Mulyasari."Nyonya, bisa tolong bawa Zeyan ke kamar? Saya takut dia syok..."


Mulyasari mengangguk, mental cucunya yang terpenting saat ini. Apalagi kala dirinya melihat lemari kaca yang dipenuhi pajangan pecah. Ini sudah pasti perbuatan Anjani yang memang tempramental. Mendekap cucunya yang rapuh erat, ingin menangis rasanya, lebih baik dirinya yang dihina daripada cucunya.


"Aku ingin bersama ibu. Tidak ada yang melindungi ibu." Ucap Zeyan dalam gendongan neneknya. Berharap dirinya dapat melawan kedua orang arogan itu.


"Tidak, Zeyan di kamar ya? Zeyan masih terlalu kecil untuk melihat orang dewasa berkelahi." Pinta sang nenek kala meletakkan cucunya di tepian tempat tidur.


*

__ADS_1


Hal yang terjadi di ruang tamu.


Dua orang wanita yang menatap sinis ke arah wanita di hadapan mereka. Sudah pasti wanita yang menggoda Fabian. Wanita kelas bawah yang hanya ingin memanjat status sosial.


"Tidak peduli seberapa miripnya anakmu dengan kakakku di masa kecilnya. Tapi aku tidak akan tertipu, anak seperti dedemit itu tidak mungkin keponakanku!" Geram Jesseline yang melihat sendiri betapa dingin dan berbahaya keponakannya. Bagaikan psikopat kecil, yang bersembunyi di balik wajah manisnya.


"Kakakmu melecehkanku 6 tahun lalu." Hanya itulah jawaban dari Sesilia.


"Aku tidak peduli! Kamu mungkin hanya wanita murahan yang tidur dengan banyak pria. Apa yang kamu gunakan untuk menyakinkan ibuku!?" Jesseline mengepalkan tangannya, ingin rasanya menjambak wanita ini.


"Hasil tes DNA." Jawaban datar Sesilia, tidak terlihat emosi sedikit pun. Benar-benar wanita yang dapat mengontrol emosinya.


"Hasil tes DNA bisa saja dipalsukan. Dengar aku bisa saja membuat Fabian membuangmu dan anakmu yang sudah seperti iblis itu." Ancaman penuh senyuman dari Anjani. Dirinya sudah muak dengan wanita ini, wanita tidak berdaya yang akan mengemis demi cinta Fabian.


Sesilia tersenyum sembari tertawa. Matanya menatap kedua wanita di hadapannya. Sekali lagi ini tidak seperti cerita di drama-drama, film atau novel. Dimana ketika pelakor dan kakak ipar jahat datang, pemeran utama wanita akan memohon untuk tidak dipisahkan dengan pria yang melecehkannya.


Cinta!? Dirinya dulu memang pernah tertarik dengan sahabatnya yang bernama Veron. Tapi itu dulu, sebelum dirinya dilecehkan oleh pria itu! Pria yang membuat masa depannya hancur. Veron? Atau sebut saja dengan Fabian, bagaimana bisa korban pelecehan jatuh cinta dengan mudah pada pria yang sudah melecehkannya. Setampan apapun, tetap saja rasa dendam akan ada.


"Pisahkan saja! Minta Fabian untuk berkata kasar pada putraku, lalu mengusir kami. Aku akan berterima kasih padamu. Jika kamu bisa membuat putraku membenci ayahnya." Tawa Sesilia terhenti menjadi senyuman penuh penghinaan.


"Hah?"


"Hah?"


Anjani dan Jesseline saling melirik, seakan memastikan pendengaran mereka sama. Wanita ini tidak menginginkan Fabian? Apa itu maksudnya?


Tapi tidak mungkin. Ekspresi wajah Anjani yang awalnya heran menjadi berubah. Matanya menatap tidak suka ke arah wanita rendahan ini.


"Tidak mungkin! Kamu fikir dapat mengelabui kami? Pelayan!" panggil Anjani.


Dua orang pelayan datang. Sejenak kemudian perhatian Anjani beralih pada Jesseline. Seakan keduanya terhubung. Jesseline seakan mengerti maksudnya.


"Seret wanita ini pergi." Perintah dari Jesseline selaku majikan. Tapi tidak ada yang menurut sama sekali, otoritas Mulyasari lebih besar saat ini.


Dua orang wanita yang menarik Sesilia pergi. Benar-benar ditarik paksa, pergelangan tangannya bahkan terdapat bekas cakaran.


"Aku akan pergi! Tapi kembalikan anakku dulu." Ucap Sesilia meronta.


"Anak?" Anjani semakin geram mengingat anak yang berani menendang vas bunga, hingga hampir mengenai dirinya. Masih dengan Jesseline yang memegang Sesilia. Sedangkan Anjani mencakar serta menarik rambutnya.


Mata Sesilia menatap lurus ke arah seseorang yang ada di pintu masuk.


"Aku sudah muak berada di rumah ini. Aku akan membawa Zeyan pergi..." Ucap Sesilia lirih menatap ke arah seseorang yang baru datang.

__ADS_1


Anjani dan Jesseline mulai menyadari ada yang tidak beres dengan kata-kata Sesilia. Tapi sudah terlambat.


"Apa yang kalian lakukan? Kalian mau mati?" Perkataan ini, aura penuh tekanan, Fabian datang.


__ADS_2