
Brak!
Pemuda itu menatap tajam pada pria di hadapannya. Seorang pria yang hanya dapat duduk di kursi rodanya. Kaki dan salah satu tangannya terkena luka tembakan.
"Nomor polisi mobilnya?" Fabian mengenyitkan keningnya, duduk di kursi ruang kerjanya.
"Sa...saya menghafalnya. Tapi itu seperti pancingan. Dia ingin menghabisi anda jika bertemu dengannya." Jawaban pria itu tergagap.
"Berikan nomor polisi mobilnya. Aku akan menyewa detektif lain..." Senyuman menyungging di wajah Fabian. Pemuda yang mulai bangkit, setelah melempar amplop coklat yang cukup tebal, berisikan uang tunai.
"Tapi orang itu berbahaya. Dia sengaja, lebih baik anda---" Kalimat sang detektif disela.
"Biarkan saja, tugasmu hanya memberikan informasi." Hanya itulah jawaban dari Fabian, menatap ke arah jendela besar di ruang kerjanya. Memikirkan langkah selanjutnya, ini menjadi semakin sulit saja. Seseorang yang bahkan bertindak lebih berani.
*
Alamat yang pada akhirnya diketahui olehnya dari beberapa informan dan detektif sewaannya. Sebuah villa tenang yang terletak di luar kota.
Mobil miliknya mulai melaju membelah jalan perkotaan. Datang seorang diri menjadi pilihannya, setidaknya orang yang bersama Sesilia dan Zeyan tidak akan melukai mereka.
Membawa parcel dan beberapa paper bag, mungkin untuk menunjukkan ketulusannya. Walaupun itu hanya kepura-puraan semata. Wajahnya tersenyum, seseorang yang menghalanginya untuk bertemu istri dan anaknya? Tidak ada yang boleh menentang Fabian.
Namun, mobil miliknya terhenti sejenak di depan sebuah warung kecil. Guna menanyakan alamat sekaligus membeli minuman.
Seperti berjodoh mereka kembali bertemu. Motor bebek yang tidak asing, kacamata, beserta setelan berwarna putih. Membeli bensin eceran di warung yang sama. Motor bebek dan mobil mewah itu kembali bertemu.
"Mau apa kamu kesini? Mengikutiku?" Geram Fabian, menduga-duga orang ini suruhan Anjani.
"Aku? Mengikutimu? Ada yang lebih penting bagiku dari pada mengikutimu. Ada orang-orang yang aku kasihi tinggal di tempat ini." Derrick berusaha tersenyum, menyodorkan uang untuk membayar bensinnya pada penjaga warung.
__ADS_1
"Orang gila sepertimu ada yang menyukai? Bahkan menyumpahi orang yang baru pertama kali ditemuinya?" Suara tawa Fabian terdengar.
"Pria yang ditinggalkan istrinya sepertimu tidak pantas bicara begitu. Aku yakin mungkin istrimu sedang membuat adik untuk anakmu dengan pria lain." Kali ini Derrick yang tersenyum, untuk pertama kalinya bertengkar sengit dengan seseorang. Aura kebencian yang tidak biasa dari seorang pemuda baik hati dan pria kejam mendominasi.
Ini sudah biasa! Plot yang dapat ditebak! Sudah pasti ini hubungan benci menjadi cinta.
Dua orang yang menatap penuh keangkuhan. Pemuda yang melajukan motornya setelah mengisi bensin. Dirinya bertemu dengan pria sinis bak iblis itu lagi.
Sedangkan Fabian masih menatap dari jauh. Apa karena terpesona atau merindukannya? Tentu saja tidak, dirinya membenci orang itu. Untuk pertama kalinya membenci seseorang tanpa alasan. Sialnya dirinya tidak dapat membalas atau menghancurkannya. Benar-benar menatap tajam."Aku berharap dia mata-mata Anjani." Gumamnya ingin memiliki alasan untuk menghajar pemuda kurang ajar itu.
Beberapa belas menit telah berlalu dari saat dirinya bertemu dengan siluman jadi-jadian. Maaf salah, Derrick yang manis. Menenangkan fikirannya, kemungkinan besar di tempat yang saat ini ditujunya terdapat keberadaan Zeyan dan Sesilia.
Bukan pria yang dicemaskan sang detektif ada di fikirannya. Tapi apa yang akan dikatakannya jika bertemu lagi dengan istri dan anaknya. Maaf, salah calon istri dan anaknya tercinta.
"Aku salah. Aku mencintai kalian... tidak! Tidak!" Gumamnya merasa itu terlalu blak-blakan.
"Zeyan kamu masih menyayangi ayah kan?" Lagi-lagi dirinya berlatih, sesaat kemudian menggaruk-garuk bagian belakang kepalanya sendiri. Mungkin Sesilia akan merasa dirinya memanfaatkan Zeyan.
Pada akhirnya memberanikan diri kembali melajukan mobilnya. Jalan yang sudah dikatakan penjaga warung, sesuai alamat, oleh-oleh, satu buket bunga mawar juga sudah, tidak ada yang kurang sama sekali.
Pemuda berambut pirang itu melajukan mobilnya. Menghela napas berkali-kali, menatap jalanan di sekitarnya. Hutan yang damai, tempat yang tenang, ini semakin mendekati tempat tujuannya.
Siapa yang membawa Sesilia dan Zeyan? Sesuatu yang belum pasti. Namun, mungkin seseorang yang memiliki jumlah uang dan kekuasaan setara atau melebihi dirinya.
Dirinya tersenyum, mencintai Sesilia dari awal. Bukan mencintai tubuhnya, tapi hatinya. Seseorang yang tersenyum padanya kala dirinya putus asa, saat dirinya terpuruk. Perasaan yang menyelamatkan hidupnya, merebutnya dengan cara apapun? Tentu saja itu akan dilakukan Fabian. Tiga tahun dirinya hanya mengenal Sesilia sebagai Veron. Datang sebagai pembeli, hanya untuk dapat bicara dengannya. Seseorang yang tidak berani didekati olehnya, bagaikan es yang rapuh akan hangat tubuh manusia.
Tidak! Sesilia dan Zeyan adalah bagian dari hidupnya. Karena itu, kala pintu gerbang villa itu terlihat. Mobil ditepikannya sejenak, guna mengisi amunisi pada senjatanya. Wajahnya tersenyum, bagaikan ini akan menjadi tauran.
Seorang security membukakan gerbang, bagaikan seseorang sudah menantikan kedatangannya.
__ADS_1
"Berani-beraninya menyembunyikan Sesilia dan Zeyan..." gumamnya, dengan senyuman keji menyeringai.
Tidak ada pengaman atau penjagaan yang ketat. Tapi kala matanya menelisik terdapat beberapa CCTV di tempat ini. Tempat yang benar-benar aneh.
Bug!
Kala dirinya menutup pintu mobil, hal yang benar-benar ajaib terlihat. Motor bebek sialan itu, lengkap dengan helmnya. Mengapa tujuan orang gila itu di tempat ini?
Namun, perhatiannya terpecah kala seseorang berpakaian rapi keluar. Memakai setelan jas, dari usia diperkirakan sekitar 40 tahun, memakai sarung tangan putih, lengkap dengan aksesoris rantai yang mungkin terhubung dengan kacamatanya. Benar-benar gaya yang aneh. Seorang kepala pelayan profesional, mungkin saja.
"Tuan besar sudah menunggu anda," ucapnya bagaikan sudah mengetahui identitas Fabian.
Hanya mengikuti langkah orang ini. Sembari membawa bunga, serta beberapa paper bag. Senjata api masih disembunyikan olehnya dalam jas yang dipakainya. Untuk berjaga-jaga siapa tau anak SMK sebelah ingin membuat masalah dengan SMUnya. Maaf salah, maksudnya untuk berjaga-jaga siapa tahu ada orang berbahaya yang harus dihadapi olehnya.
Matanya menelisik, tempat yang luas. Dapat dikatakan sebagai tempat peristirahatan.
Tak!
Tak!
Tak!
Langkah demi langkah, pada akhirnya terhenti sejenak mendengar suara tawa Zeyan dan Sesilia. Wajahnya kembali tersenyum cerah, tapi apa yang terjadi di lima langkah selanjutnya?
Aura membunuh tingkat tinggi, senyuman yang sebelumnya tulus menjadi senyuman dipaksakan.
Ternyata benar! Instingnya benar dirinya memang harus membenci pria ini. Pria yang tersenyum memangku Zeyan. Mata yang benar-benar tulus, bibirnya tersenyum layaknya ayah kandung.
Sejenak melirik ke arahnya."Kamu mengikutiku?" tanya Derrick menatap tidak suka.
__ADS_1
"Tidak, yang ada di pangkuanmu adalah putraku."