Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Air Tenang Menghanyutkan


__ADS_3

...Ada kalanya sayapku rapuh, terbang perlahan menyapu angin. Ingin menghirup aroma kehidupan....


...Ulat kecil, menginginkan sayapnya, hanya untuk bertemu denganmu. Ingin menjadi yang tercantik untuk menghampirimu....


...Tapi ragu apa yang akan aku katakan saat bertemu denganmu. Terkadang aku ingin menjadi kepompong saja selamanya. Bermimpi, menyimpan angan yang indah untuk hidup denganmu....


...Tapi pada akhirnya aku menjadi kupu-kupu karena merindukanmu. Bertemu dalam kecanggungan....


...Memiliki keturunan, kemudian terjatuh bersama dalam rengkuhan tanah, di hidup yang mungkin singkat ini....


...Itulah impianku....


Fabian.


Memijit pelipisnya sendiri. Tidak tahu ini ulah siapa, apa mungkin Derrick? Mengingat hanya pemuda itu yang ada di villa ini ketika dirinya mengambil beberapa pakaian Zeyan.


Tapi tidak mungkin, pemuda itu memiliki perasaan pada Sesilia. Tidak mungkin dengan sengaja menguncinya bersama Sesilia.


Tunggu dulu! Ini bukan situasi yang buruk bukan? Ini malah menguntungkannya? Bayangkan bagaimana seekor predator dikurung bersama kelinci tidak bersalah.


Fabian membulatkan matanya, mengacak-acak rambutnya frustasi. Dirinya memang makhluk buas 6 tahun yang lalu, tapi itu karena pengaruh obat.


Bingung harus bagaimana, pada akhirnya sedikit melirik tentang apa yang ada di fikiran Sesilia saat ini.


Wanita itu terlihat tanpa pertahanan atau kewaspadaan sama sekali. Wanita yang hanya fokus membaca buku di tangannya. Buku dengan sampul yang dibalut kertas berwarna coklat. Seharian ini memang Sesilia selalu membawanya.


Wanita itu bahkan tidak memiliki fikiran kotor sama sekali. Pada akhirnya Fabian menghubungi Cakra. Meminta segera membawa tukang kunci ke villa.


Duduk berada di jarak yang lumayan jauh dengan Sesilia. Jantungnya berdegup cepat, kala wanita itu tiba-tiba menatap ke arahnya, tersenyum seperti biasanya.


Tidak ada hal aneh tentang ini. Kamar Zeyan memang cukup luas, tempat tidur berukuran king size, mengingat mereka sering kali menginap kala Zeyan sakit.


Menghela napas berkali-kali, memikirkan domba kecil melompat-lompat. Tidak ingin memikirkan Sesilia yang tengah duduk di tepi tempat tidur, bahkan berbaring sembari membaca buku yang diyakininya sebagai novel.


Wanita itu benar-benar cantik, mengundang hasrat untuk melindungi, sekaligus melukai. Bagaimana dirinya dapat seliar ini!? Membayangkan Sesilia berbaring dan menjerit 6 tahun lalu?


Wanita itu mengenyitkan keningnya, kembali tersenyum ke arahnya sembari memeluk bantal. Lagi-lagi membaca novel, bagaikan tidak ingin bicara dengannya. Suasana yang canggung sekaligus menegangkan.


"Sesilia, setelah Zeyan keluar dari rumah sakit sebaiknya kita memindahkannya ke sekolah yang lebih baik." Ucap Fabian mengalihkan fikirannya. Haruskah dirinya ke kamar mandi untuk membang bakal calon adik Zeyan?

__ADS_1


"Baik, nanti akan aku pilihkan." Lagi-lagi wanita itu tersenyum ke arahnya. Senyuman mematikan bagaikan mengundang dirinya untuk datang.


Tapi tetap saja tidak bisa. Wanita sialan itu lagi-lagi fokus pada novel. Membuat dirinya semakin tegang saja. Kenapa tidak membicarakan lebih spesifik tentang sekolah? Itulah yang ada di fikiran Fabian.


"Sekolah yang memiliki kolam renang, sarana laboratorium, ada juga banyak ekstrakurikuler yang bisa diikuti olehnya. Tapi bukan SD negeri. Tidak apa-apa kan?" Tanya Fabian lagi.


"Tidak apa-apa..." Hanya itulah jawaban Sesilia mengigit bagian bawah bibirnya sendiri sambil tertawa. Entah apa yang dibacanya.


Apa dirinya boleh melahap wanita ini? Tidak! Tidak boleh dirinya bukan b*jingan kasar. Sesilia dapat mengalami trauma yang sama seperti 6 tahun lalu.


Hanya keheningan selama beberapa menit. Wanita itu masih membaca dengan fokus. Entah kenapa sesekali melirik dirinya.


Sedangkan Fabian hanya mematung di tempat, menelan ludahnya kasar. Tubuhnya bereaksi di saat-saat seperti ini, dirinya benar-benar sial.


Ini hanya imajinasinya saja, bagaimana menggigit bahu itu perlahan? Bagaimana jika membuat Sesilia menjerit menginginkannya? Apa dirinya sudah gila?


Tapi suasana memang hening saat itu. Hanya suara kicauan burung di luar sana yang terdengar, burung yang terkena air hujan. Hujan perlahan turun, membuat jendela berembun.


Dinginnya hawa dataran tinggi, menusuk ke dalam pakaian mereka. Hingga Sesilia mulai bergerak ke bawah selimut.


Fikiran kotor itu ada, bagaimana jika dirinya ikut masuk ke dalam selimut? Haruskah dirinya bertanya pada Sesilia?


"A...ada di lemari..." Wanita itu tertawa kecil, terlihat canggung. Menyembunyikan sesuatu, apa itu mungkin hanya perasaan Fabian saja? Entahlah, dirinya membuka lemari. Mengambil selimut tebal, menggulung tubuhnya sendiri.


Perlahan memainkan phonecellnya, guna mengalihkan fikirannya. Tapi tidak ada objek yang lebih indah dan dipujanya dibandingkan dengan Sesilia disana. Ini kesempatannya untuk melihat Sesilia dari dekat dalam waktu yang lama bukan?


Wanita itu menggeliat pelan, kala pandangan mereka bertemu dengan jarak yang cukup jauh. Hanya senyuman lembut yang terlihat dari Sesilia.


Tidak ada yang aneh sama sekali. Fabian menghela napas kasar. Dirinya akan bicara serius agar fikirannya teralih dari menerkam mangsa mudah ini.


"Tidak bisakah kita memulainya dari awal?" Pada akhirnya pertanyaan itu yang diungkapkan Fabian. Mengepalkan tangannya, masih terobsesi pada wanita ini.


"Kamu bilang apa?" tanya Sesilia tidak mendengar dengan jelas. Akibat hujan yang turun.


"A...aku ingin memulai dari awal. Bukan sebagai Veron tapi sebagai Fabian. Apa kamu bersedia?" tanya Fabian, menelan ludahnya. Ini berhasil fikirannya teralihkan.


Tapi reaksi aneh, wanita itu terlihat canggung. Kemudian tersenyum."Mungkin..." satu jawaban yang tidak pasti darinya.


Mungkin? Kalimat itu saja sudah membuat Fabian benar-benar merasa bahagia. Terserah wanita ini akan menerimanya sekarang atau lain kali. Tapi yang pasti ini semakin dekat.

__ADS_1


Berbicara... komunikasi adalah intinya. Kembali menghela napas kasar."Boleh kita tidak bicara sejauh ini?" dirinya memberanikan diri.


Sesilia mengangguk, turun dari tempat tidur. Meletakkan novel yang dibacanya.


Dua orang yang pada akhirnya duduk berhadapan menghela napas kasar. Senyuman terbit di wajah mereka.


"Dari awal! Namaku Fabian!" Fabian mengulurkan tangannya.


"Sesilia..." Sesilia tertawa kecil, membalas jabatan tangan pria itu.


Memulai dari awal, melepaskan ketakutan akan pelecehan 6 tahun lalu. Memulai dari awal, melepaskan bagaimana dirinya kehilangan arah tanpa Sesilia. Dirinya ingin bersama, memulai dari awal.


Tapi suara petir kembali terdengar, dua orang yang duduk berdekatan. Dirinya bodoh menyuruh Sesilia pindah tempat.


Menarik wanita itu hendak menciumnya.


"Kamu tidak boleh melakukan ini Fabian!" Itulah yang ada dalam otaknya. Ingin menghentikan segalanya, semakin dekat, semakin dekat saja. Ini sulit! Segalanya sulit! Wanita dengan wajah tidak berdosa ini, membuat jiwanya benar-benar seperti setan.


Brak!


Pahlawan pembela kebenaran dan keadilan, ninja Hatori datang. Maaf salah! Cakra yang membawa tukang kunci.


Sesilia berdiri dengan sopan penuh senyuman. Tidak terjadi apa-apa, memang benar tidak terjadi apa-apa. Hanya Fabian yang salah tingkah disini.


Pada akhirnya wanita itu bangkit. Mengambil pakaian Zeyan yang sudah dikemas dalam koper."Terimakasih atas bantuannya..." Ucap Sesilia penuh senyuman, berlalu menuju mobil.


Sedangkan Fabian menghela napas berkali-kali menetralkan dirinya. Tadi itu benar-benar berbahaya. Pemuda yang perlahan berjalan menuju lemari meletakkan kembali selimut.


Matanya menelisik mengamati buku yang dibaca Sesilia sebelumnya. Sebuah novel dengan sampul tertutup kertas berwarna coklat.


Hanya iseng saja, penasaran dengan novel macam apa yang dibaca wanita itu.


Namun, setelah membaca sekitar 3 halaman, dirinya menutup novel. Mengingat-ingat kembali wajah normal Sesilia ketika membacanya.


Tangan pemuda itu gemetar, novel dewasa dengan menjelaskan setiap adegan secara gamblang. Mulai dari sesi pemanasan olahraga, hingga pada akhirnya menanam jagung dengan berbagai cara.


Sesilia membaca buku seperti itu dan berada satu ruangan dengannya. Dirinya yang baru membaca beberapa halaman saja harus ke kamar mandi saat ini.


Melakukan apa di kamar mandi? Entahlah...yang jelas urusan penting pria dewasa.

__ADS_1


__ADS_2