
Derrick membulatkan matanya, dirinya bukan tipikal orang yang ambisius. Harus memiliki segalanya, tapi kedua orang yang baru datang ini bagaikan memaksanya untuk maju.
"Derrick sayang, perkenalkan dirimu pada Fabian. Selaku calon menantu kami." Kalimat dari Flo, kembali membawa Derrick masuk, bersama dengan Asnee.
"A...aku..." Derrick menelan ludahnya kasar. Menghentikan kata-katanya sejenak. Matanya menelisik mengamati Sesilia yang menatap ke arah lain. Sejenak kemudian terlihat gerakan bagaikan menyeka air matanya.
Wanita itu menangis, apa dia benar-benar mencintai Fabian? Ada rasa terluka dalam dirinya. Bibirnya bergetar berusaha untuk tersenyum."Aku pulang saja." Ucapnya tiba-tiba.
Tapi tentu saja tidak akan dibiarkan begitu saja oleh Asnee dan Flo. Walaupun tidak setampan dan sepintar putra mereka Triton. Tapi cara menyayangi Sesilia yang sama. Tidak ada obsesi atau apapun yang mengancam semuanya benar-benar tulus.
"Jadi untuk apa kamu berada di sini lagi?" Asnee menatap sinis pada pemuda yang masih berlutut di hadapan Zeyan.
"Aku kemari untuk menyelamatkan nyawa putraku." Tegas Fabian, mengalihkan pandangannya pada Asnee. Pria yang bangkit pada akhirnya.
"Menyelamatkan nyawa putramu? Dari mana saja? Cucu kami sempat kritis. Kamu tidak terlihat disana." Flo mengenyitkan keningnya tersenyum sinis pada orang di hadapannya.
Citra buruk yang terlanjur terukir. Seseorang yang melecehkan putrinya hingga harus hamil di luar nikah. Bahkan membuat putrinya menjadi singgel parents. Apa yang terjadi jika Triton tidak menyumbangkan kornea matanya pada Sesilia?
Mungkin hal yang lebih buruk, akan terjadi pada putri tercinta dan cucunya.
"Aku tidak tahu..." Fabian tertunduk dengan tatapan mata kosong. Tidak ada pembelaan sama sekali darinya. Tidak ada, ini semua memang merupakan kesalahannya.
Asnee menghela napas kasar berjalan mendekati Zeyan."Sayang, kakek berjanji akan mencarikan donor untukmu secepatnya. Bahkan jika harus menggunakan jalan terburuk. Tapi sekarang saatnya kamu memilih. Akan tetap menunggu kakek atau menerima bantuan ayahmu."
"A...aku ingin hidup." Batin Zeyan penuh senyuman, tapi yang terucap olehnya berbeda."Dia ayahku sekarang!" Kalimat darinya menunjuk ke arah Derrick.
__ADS_1
"Ze... Zeyan, ayahmu...dia..." Kalimat Derrick lagi-lagi disela.
"Sesilia fikirkan baik-baik dengan siapa kamu akan lebih bahagia. Derrick atau Fabian!?" Pertanyaan terang-terangan dari Flo.
Sesilia mengenyitkan keningnya, semakin mirip saja dengan seseorang yang paling ada di hatinya. Karena itulah Sesilia kerap melarikan diri melihatnya. Sifat dan cara bicara yang menyerupai seseorang yang sudah banyak berkorban demi nya.
Orang bilang cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Namun, Sesilia berbeda cinta pertamanya bukan Asnee. Tapi tentu saja, kakaknya tersayang Triton. Dengan sifat dasar dan wajah yang lumayan. Tentu saja dirinya akan memilih jalan yang membuatnya nyaman."Jika bisa memilih aku lebih memilih Derrick."
Derrick membulatkan matanya. Ini tidak benar! Ada yang aneh dengan keluarga ini, termasuk aura kebencian tingkat tinggi yang keluar dari pemuda di hadapannya.
Keluarga ini ingin menjadikan dirinya tumbal hidup. Jemari tangannya mengepal, dirinya harus mengurai semua ini terlebih dahulu.
Zeyan terdiam, menatap ke arah lain. Sementara Sesilia begitu yakin jika mereka adalah jodoh. Calon mertua yang merestui. Jadi apa yang kurang?
Sejatinya tidak ada yang kurang. Hanya saja, dirinya terdiam sejenak. Andai saja pemuda ini tidak muncul, mungkin hati Sesilia akan menjadi miliknya. Tapi saat ini bukan miliknya, hanya ada perasaan nyaman. Wanita itu tidak mencintainya.
Matanya menatap iba pada Fabian. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa benar hanya salah paham semata? Entahlah, dirinya hanya ingin memperjelas sebenarnya.
Tidak ingin terikat dengan sesuatu yang berdasarkan keterpaksaan. Dirinya lebih nyaman melewati jalan yang lurus daripada berkelok-kelok.
"Kami benar-benar menyayangi paman." Kali ini kalimat yang diucapkan Zeyan. Jika orang ini, dirinya akan dapat dengan tenang menitipkan Sesilia.
"Aku akan tetap melakukan operasi, siapa pun yang dipilih oleh Zeyan." Fabian entah kenapa tiba-tiba memeluk putranya. Benar-benar aneh tingkah laku orang ini.
"Le...lepas!" Zeyan berusaha berontak.
__ADS_1
Tapi Fabian memeluknya semakin erat, kemudian berbisik."Zeyan sayang, ayah tau kecerdasanmu jauh diatas rata-rata karena itu ayah akan mengatakannya kali ini. Kamu berani mendatangi dan memburuku untuk mendapatkan donor cangkok tulang sumsum. Tapi kamu melupakan satu hal, siapa yang seharusnya menjadi predator saat ini. Aku sudah memburu ibumu bertahun-tahun. Ada anak semanis dan secerdas ini? Tentu saja, ke neraka pun aku akan tetap menangkap kalian."
Obsesif itulah Fabian, membuat Zeyan membulatkan matanya. Ada apa dengan orang yang beberapa bulan lalu resmi menjadi budaknya ini? Kenapa orang ini tidak menangis dan pulang setelah mendapatkan penolakan.
"Jika dikatakan tidak tau malu. Aku akan menjadi tidak tau malu. Jika dikatakan tidak mempunyai hati, aku memang tidak akan mempunyai hati. Aku akan tinggal disini." Fabian mulai bangkit tersenyum membuat keputusannya sendiri.
"Tidak bisa seperti itu. Aku akan membunuhmu, jika kamu berpura-pura tidak takut lagi." Asnee tersenyum ramah, menodongkan senjata api pada Fabian. Menarik pelatuk nya, bersiap-siap menarik pemicunya.
"Aku tidak takut dengan permainan ayah. Tau kenapa? Karena sebelum Zeyan menemukan donor lain ayah tidak akan membunuhku. Itu hanya gertakan. Lagipula apa yang akan terjadi jika Zeyan mati, aku akan memiliki Sesilia dan Zeyan walau di neraka sekalipun." Senyuman mengerikan darinya. Apa yang terjadi sebenarnya pada orang ini? Tidak kah takut sedikit saja pada Asnee.
Tentu saja tidak dirinya tidak takut sedikitpun. Mengapa? Ayahnya yang sering melakukan kekerasan dari kecil. Dirinya sudah melupakan rasa takut akan kematian sejak remaja.
Lalu mengapa tidak melawan Chan? Alasan yang cukup sulit, ada banyak hal yang harus dilindunginya terlebih dahulu. Termasuk Zeyan dan Sesilia, dirinya tidak dapat bergerak bebas. Kecuali mengatur strategi, mengalahkannya dengan satu serangan.
Pemuda yang melangkah, terlihat melihat-lihat keadaan sekitar. Kemudian berjalan mendekati Derrick."Kamu mengatakan bukan orang yang obsesif? Itu lebih baik..."
Derrick menghela napas sejenak. Menormalkan detak jantungnya yang sempat berpacu terlalu cepat. Bukan karena jatuh cinta, tapi terlibat dengan keluarga aneh ini. Satunya pengusaha asal luar negeri, satunya lagi CEO yang tidak kalah kayanya. Sedangkan dirinya seseorang yang tiba-tiba mendapatkan restu.
"Kenapa orang ini harus muncul? Tapi jika dia tidak muncul, nyawa Zeyan akan ada dalam bahaya. Berfikiran positif Derrick, aku adalah calon dokter yang berlapang dada. Mencintai tidak harus memiliki..." Batinnya ingin menangis rasanya.
"Jika Sesilia sempat menyentuhmu di ranjang. Aku akan membunuhmu..." Kalimat dari Fabian menbuat Derrick membulatkan matanya. Langsung berada di belakang Asnee, ini hanya insting dari ikan yang bertemu predator.
"Yang mana kamarku?" tanya Fabian tiba-tiba.
"Jika aku membuatmu sekarat, mungkin itu lebih baik." Asnee tersenyum memendam kekesalannya.
__ADS_1
"Mungkin, tapi jika tidak dapat mengendalikan emosi anda. Saya akan mati. Jadi, lebih baik, menyerah untuk mendapatkan donor lain. Zeyan adalah putraku, jika dia lebih memilih cacing itu aku juga tidak dapat berkata apa-apa. Tapi akan ada cara, atau aku harus menunggunya mati untuk kembali mendapatkan mereka."