
Tidak datang tepat pada waktunya. Ini aneh baginya, seorang anak yang terlalu protektif pada ibunya. Jemari tangannya yang kecil menari indah di atas keyboard. Melacak keberadaan ibunya adalah prioritasnya saat ini. Siapa yang dapat mengalahkannya? Dirinya sejatinya lebih mirip dengan almarhum Triton daripada Fabian. Apa dia adalah anak kandung Triton? Tentu saja bukan, ingat ini bukan cerita tentang inses.
Pada akhirnya tempat lokasi ibunya didapatkan melalui GPS phonecell. Wajahnya terlihat pucat, menghela napas kasar meminum beberapa butir obat sekaligus. Tanpa pisang hanya dengan segelas air tenggorokannya dapat menelan obat yang sejatinya begitu pahit.
Kembali fokus pada komputer di hadapannya. Ingin mengetahui, ada apa di lokasi tempat ibunya berada. Tidak mungkin hubungan Fabian dan Sesilia dapat sedekat ini dalam waktu singkat hingga memutuskan untuk pergi ke hotel bukan?
"Ada pesta pernikahan..." gumamnya menyadari segalanya.
Pada akhirnya taksi dipesannya, menunju ke tempat sang ibu berada. Tentu saja menggunakan taksi online, dengan dalih dirinya dipesankan taksi ke tempat orang tuanya oleh kerabatnya.
Anak yang cukup pintar bukan? Tapi sekali lagi kondisi tubuhnya semakin hari semakin lemah saja. Tangan kecil yang pucat itu mengambil sehelai tissue, menyadari dirinya mimisan lagi. Tidak ada yang dapat dilakukannya, menatap ke arah langit malam yang gelap dari dalam taksi yang melaju.
"Tuhan, tolong jadikan aku sebagai sayap pelindung bagi ibuku, hingga ibuku bahagia. Jika tidak memberikan kebahagiaan padanya, tolong biarkan aku hidup lebih lama untuk menjaganya..." doanya dalam hati, mengambil beberapa helai tissue lagi, dengan cepat membersihkan mimisan dari hidungnya.
Kebahagiaan Sesilia adalah segalanya untuknya. Dirinya akan membela Sesilia apapun yang akan terjadi. Rasa kasih sebagai seorang anak yang terlalu dalam. Apa ini adalah malaikat yang dikirim untuk menggantikan Triton? Atau...
*
Kembali ke area ballroom.
Anjani menghela napas kasar, mengecup pipi pasangan yang datang bersamanya."Kamu bilang ingin membicarakan bisnis dengan Fabian. Lebih baik lakukan di lantai dua agar lebih tenang," bisiknya pada salah satu pemilik perusahaan yang terkenal mesum.
Pria itu mengangguk, berjalan mendekati Fabian. Seperti dugaan Anjani, Fabian benar-benar terpancing hingga pada akhirnya meninggalkan Sesilia seorang diri, menuju meeting room di lantai dua. Mengapa? Tentu saja Fabian tidak ingin Sesilia menjadi incaran dari pengusaha mesum yang ingin bicara dengannya.
Wanita itu menurut, benar-benar menurut.
"Anak baik..." gumam Anjani menatap dari jauh Sesilia yang kini berada seorang diri, berjalan mendekati seorang pelayan. Melepaskan cincin miliknya kemudian memberikan beberapa lembar uang pada sang pelayan.
Pelayan yang segera menyanggupi, tidak dalam mata uang rupiah. Tapi sekitar 300 dollar diberikannya. Berjalan dengan cepat, mengamati situasi, meletakkan cincin milik Anjani ke dalam tas milik Sesilia.
Wanita yang tidak waspada sama sekali, benar-benar tidak mengetahui apapun. Tidak mengetahui senyuman menyungging di wajah Anjani yang melihatnya dari jauh.
Semua orang masih duduk di dekat meja perjamuan masing-masing. Pada akhirnya suara tepukan tangan terdengar, kedua mempelai sudah memasuki ballroom.
Pengantin pria yang terlihat sedikit melirik acuh pada pengantin wanita. Sedangkan sang pengantin wanita, lebih cenderung menempel pada pengantin pria. Dua orang yang terlihat sebaya, memberi kata sambutan.
Segera setelahnya kala kue pengantin akan dipotong, saat itulah kericuhan terjadi.
Bingung, suasana tiba-tiba menjadi kacau. Beberapa orang petugas kepolisian datang. Seorang tamu undangan menitikkan air matanya, setelah menghubungi petugas kepolisian beberapa menit yang lalu.
"Aku tidak tahu, tapi tiba-tiba saja saat saya menggunakannya menjadi bandul kalung cincin itu hilang." Ucap Anjani pada petugas kepolisian.
Petugas kepolisian yang mendapatkan laporan dari Anjani bergerak cepat ditemani petugas keamanan hotel. Semua orang diperiksa satu persatu. Termasuk kedua mempelai.
Tangan mempelai pria mengepal menghela napas kasar, menatap resepsi pernikahannya yang hancur. Tapi benar-benar tidak ada yang dapat dilakukannya. Siapa yang tidak tahu Chan (ayah Anjani)? Tidak ada satupun orang di ruangan ini yang mau menyinggung putri tunggal pria itu.
__ADS_1
"Warna permatanya merah darah, ada berlian putih yang dijejer berbentuk seperti akar di sekitarnya." Anjani menyebutkan ciri-ciri dari cincinnya yang hilang. Cincin senilai 2 juta dollar, tidak tanggung-tanggung akan digunakan untuk mempermalukan Sesilia.
Satu persatu tamu undangan berbaris diperiksa. Sesilia menghela napas kasar, yakin dirinya tidak terlibat sama sekali, jadi tidak ada yang perlu ditakutinya. Membawa tas kecil berwarna dark blue berpadu hitam. Melangkah dengan pasti mendekati petugas kepolisian.
Sedangkan senyuman Anjani menyungging diam-diam dibalik tangisan palsunya masih berpura-pura kehilangan cincinnya yang berharga. Matanya menelisik, satu antrian lagi, giliran Sesilia yang diperiksa.
Sedikit lagi, maka wanita ini akan dipermalukan di depan umum. Tidak hanya itu saja, wanita murahan yang akan mendekam di penjara, selamanya tidak akan menggangu dirinya dan Fabian.
Tak!
Tiba-tiba lampu mati, tapi hanya sesaat. Beberapa menit kemudian kembali menyala. Entah apa yang terjadi, namun kali ini giliran Sesilia yang diperiksa. Senyuman tidak henti-hentinya menyungging di bibir Anjani.
Setelah ini bagaimana Fabian akan membela orang ini?
Beberapa benda dikeluarkan petugas kepolisian dari dalam tas. Jantung Anjani berdegup cepat, adrenalinnya terpacu. Bersiap untuk mempermalukan wanita ini.
"Aman!" Ucap petugas kepolisian dan seorang polwan yang memeriksa Sesilia.
Anjani membulatkan matanya."Bagaimana bisa! Kalian pasti tidak memeriksanya dengan teliti! Sudah pasti dia pencurinya!" teriaknya murka, merebut tas milik Sesilia. Namun, sayangnya cincin itu tidak ada sama sekali. Tidak dapat ditemukannya, sebuah cincin yang didesain khusus senilai 2 juta dollar.
"Kamu kemanakan cincinku!" bentak Anjani menggeledah tubuh Sesilia.
"Hentikan! Kapan aku mengambil cincinmu! Kamu sudah gila!" Dengan cepat Sesilia menepis Anjani mendorong wanita itu.
"Tidak ada pencuri yang akan mengaku dengan mudah. Kembalikan cincinku!" Kali ini lebih beringas lagi, bagaikan harimau kelaparan, wanita itu mencoba menyerang Sesilia. Bahkan mengambil segelas wine menyiram tubuh wanita itu.
"Ibuku pencuri?" Seorang anak yang membawa tas ransel mengenyitkan keningnya. Wajahnya tiba-tiba saja tersenyum, memasuki ruangan mengenakan pakaian berwarna putih.
"Anak setan! Kamu sama seperti ibumu. Tidak hanya mencuri pria tapi kini juga mencuri cincinku!" Geramnya, hendak menarik tubuh Zeyan.
Tapi petugas kepolisian menghalanginya dengan cepat.
"Baik! Dimulai dari mana dulu ya?" Zeyan mengambil tissue, mengelap tangannya yang sempat di sentuh Anjani. Benar-benar pandai menghina anak ini. Entah sifatnya dia muncul darimana.
Anak yang menatap ke arah Anjani."Logikanya jika ibuku yang mencuri tempat kalian seharusnya berdekatan kan?" tanyanya.
"Tau apa kamu!? Anak setan sepertimu---" kalimat Anjani disela.
"Yang pastinya lebih banyak dari bibi yang bodoh..." kalimat dari mulut kecilnya, penuh senyuman.
"Zeyan," Sesilia ingin meraih putranya. Tidak ingin putranya ketakutan.
"Nanti saja, sekarang aku akan membuktikan jika aku sering membantu skripsi anak tetangga," ucapnya, berusaha naik keatas kursi, benar-benar manis saat ini. Hingga membuat seorang polwan membantunya sekaligus mencubit pipinya.
Semua orang terdiam, kala anak itu membuka ranselnya. Sebuah laptop berada di sana."Ijinkan saya meretas rekaman CCTV area ballroom." Terlihat benar-benar dewasa, terlihat benar-benar sopan orang ini. Padahal seorang anak berusia lima tahun.
__ADS_1
"Baik, jangan menunjukkan skor gamemu ya..." Celetuk seorang polwan, memaksa untuk memangkunya. Hingga terpaksa Zeyan melakukan tugasnya dalam pangkuan sang polwan.
Semua orang tertegun, tamu undangan yang terdiam menyaksikan segalanya bagaimana jemari tangan kecil itu melakukan keajaiban. Kala tombol terakhir ditekan, rekaman CCTV berputar dengan akurat di lokasi kejadian. Zoom dilakukan olehnya, terlihat jelas Anjani memberikan cincinnya pada seorang pelayan. Sedangkan sang pelayan mendekati Sesilia. Tapi tidak terlihat jelas, apa cincinnya diletakkan dalam tas atau tidak.
"Titik buta, tidak terlihat CCTV. Tapi yang jelas kalian sudah memeriksa ibuku dan tidak ada cincin padanya. Dengan kata lain, ini jebakan yang gagal, entah pelayan itu melarikan cincinnya atau cincinnya jatuh yang jelas ibuku bukan pencuri. Wanita s*alan ini yang menjerat ibuku. Kalau cincinnya hilang apa itu salah ibuku?" Pertanyaan dari seorang anak manis. Tapi kata-kata benar-benar penuh jeratan.
Semua orang memandang kagum padanya. Dari pakaiannya terlihat dari keluarga berada. Sudah pasti anak ini putra salah satu pengusaha. Anak genius yang mungkin akan menjadi pengusaha besar nantinya.
"Zeyan, ke... kenapa kamu bisa..." Kalimat Sesilia terhenti.
Kala Anjani mendekati Zeyan membanting laptopnya hingga pecah berkeping-keping."Apa yang kamu lakukan anak setan!?" teriaknya murka.
Tubuh anak itu hendak dihempaskannya. Namun, Sesilia melindungi putranya dengan cepat.
"Jangan menyakiti putraku." Tegas Sesilia memeluk putranya erat. Bagaikan takut akan kehilangannya.
"Kalian itu pencuri! Wanita murahan! Setan!" Suara Anjani benar-benar menggelegar. Cincin seharga 2 juta dollar entah raip kemana.
"Wanita murahan? Sebaiknya fikirkan baik-baik siapa orang gila yang menghancurkan pesta pernikahan orang lain." Kalimat dari Zeyan membuat semua orang mulai berbisik-bisik membenarkan. Itu kesalahan Anjani jika cincinnya hilang.
Namun, anak pintar sekejam iblis lebih menarik perhatian mereka.
Hingga seseorang yang datang memasuki ruangan, baru turun dari meeting room lantai dua. Memasuki area ballroom.
"Fabian! Wanita ini dan anak setannya mencuri---" kalimat Anjani terhenti kala, mendengar suara anak itu.
"Ayah!" Ucapnya menangis, lepaskan pelukan Sesilia. Kemudian berlari ke arah Fabian, bahkan sempat terjatuh, kemudian bangkit lagi. Berlari ke arah ayahnya.
Benar-benar manis, bagaimana bisa anak semanis itu terjatuh. Tidak ada yang tega melihatnya menangis. Seakan melupakan sosok mengerikan yang sebelumnya membalas hinaan Anjani.
Setelan putih bagaikan malaikat, membuat sang ayah iba. Bagaimana bisa malaikat kecilnya yang rapuh kembali menangis."Ayah! Aku takut! Orang itu menghina aku dan ibu! Mengatakan aku anak setan! A...apa aku sudah nakal ayah?"
Mata Fabian menatap tajam ke arah Anjani yang kali ini gemetar. Menelan ludahnya, untuk pertama kalinya melihat Fabian yang biasanya menahan dirinya emosi.
*
Dibelakang layar, beberapa belas menit yang lalu, sebelum Zeyan memasuki ballroom...
Tidak menyadari satu hal, jauh di luar ruangan seorang anak terbatuk-batuk mengeluarkan darah dari mulutnya."It's show time..." gumamnya dengan wajah yang pucat pasi, menutup matanya. Berusaha mengimbangi matanya agar terbiasa dengan keadaan minim cahaya.
Bersamaan dengan itu lampu di seluruh hotel padam. Benar! Anak itu mengambil alih segalanya, bergerak dengan cepat memasuki celah-celah orang dewasa. Usai memastikan dengan betul tempat ibunya berada sebelum lampu padam.
Wajahnya tersenyum menyelinap bagaikan pencopet. Mengambil cincin milik Anjani dalam tas ibunya, kemudian pergi secepat mungkin dari ruangan.
Benar-benar bagaikan agen mata-mata atau pencuri profesional. Wajahnya tersenyum cincin ini cukup mahal maka lebih baik dijual di pasar gelap saja.
__ADS_1
Tapi sebelum itu, menurut ibunya buah apapun yang ditanam pasti akan menjadi pohon. Karena itu Zeyan menggali di pot tanaman dalam ruangan.
"Menanam cincin di kebun kita. Cangkul! Cangkul! Cangkul yang dalam, tanahnya ronggang cincin ku tanam." Nyanyiannya berharap cincin Anjani akan tumbuh menjadi pohon cincin."Cincin sayang cepat tumbuh ya? Kalau tidak tumbuh kamu aku jual!" Ucap anak manis itu berjongkok di depan pot.