Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Percuma


__ADS_3

Alat-alat medis terpasang di tubuh kecilnya. Pakaian dinosaurusnya sudah berada dalam tempat sampah kali ini. Memakai alat bantu pernapasan. Apa Zeyan akan meninggalkannya? Itulah yang ada di fikiran Sesilia saat ini, duduk di kursi depan Unit Gawat Darurat.


Fikirannya benar-benar kosong. Tidak ada yang dapat dikatakannya, sedangkan Flo menggenggam erat jemari tangannya. Semua orang tertunduk dan menunggu.


Beberapa orang terlihat dihubungi oleh Asnee dan Fabian. Benar-benar gila rasanya melihat alat medis sebanyak itu terpasang di tubuh anak yang hampir menginjak usia 6 tahun.


Bibir Sesilia bergetar, tidak ingin kehilangan senyuman putranya. Haruskah dirinya memohon? Wanita yang tiba-tiba melangkah. Wajahnya tersenyum dipaksakan."Tolong selamatkan putraku. Aku akan melakukan apapun." Itulah yang dikatakannya pada Fabian.


Tidak ada jalan lagi, putranya kembali ada dalam situasi hidup dan mati. Andai saja mereka tidak mengikuti keinginan Zeyan untuk menghabiskan waktu bersama. Andai saja Zeyan tidak terjatuh ke danau, hingga kondisi kesehatannya kembali memburuk.


Tapi yang lebih penting dari itu. Andai saja dirinya memaksa Zeyan menerima donor dari ayah kandungnya.


"Dia putraku juga! Kamu gila ya!? Kamu tidak perlu melakukan apa-apa! A...aku mencintai kalian dari awal. Lebih baik aku yang mati daripada kalian!" Tegas Fabian saat itu, memeluk Sesilia yang menangis tanpa ekspresi."A...aku memang egois dan terlalu lamban. Tapi aku tidak pernah membohongimu. Aku mencintai kalian, jangan berfikir aku menginginkan imbalan."


Asnee menghela napas kasar. Berjalan mendekati Fabian."Sudah beberapa hari ini aku mengamatimu. Pergi sana! Lakukan operasi! Tapi setelah ini jangan pernah mengecewakan Sesilia dan Zeyan lagi!"


Kalimat yang membuat Fabian membulatkan matanya. Pandangan matanya beralih ke arah pria paruh baya itu.


"Setiap malam kamu mengamati Zeyan, apa dia disiplin untuk tidur lebih cepat atau tidak. Mencoba menjadi ayah yang baik, walaupun mereka membangun dinding pembatas. Dan yang terakhir..." Asnee tiba-tiba menendang bahu Fabian, membuat pemuda yang telah melepaskan pelukannya dari Sesilia itu meringis.


"Zeyan memukulmu dengan pipa besi kan? Dia ingin Sesilia menyelamatkanmu. Artinya dia memberikanmu kesempatan, karena itu aku juga. Aku tidak akan meminta maaf, karena mempertimbangkan ini kesalahanmu dari awal yang melecehkan putriku." Asnee menghela napas kasar. Dirinya harus menerima memiliki menantu gila yang keji. Tidak ada menantu normal, seorang dokter baik hati seperti impiannya.


Pemuda yang mengangguk, tiba-tiba saja beralih memeluk tubuh Asnee."Ayah mertua, aku akan menyelamatkan cucumu kemudian membuatkan satu lagi cucu untukmu!" Kalimat darinya membuat Asnee benar-benar kesal.


"Pergi sana!" Geramnya, ingin Fabian segera mempersiapkan dirinya.


*


Tik!


Tik!


Tik!

__ADS_1


Infus mengalir perlahan, seorang anak tengah tidak sadarkan diri. Terpaku dalam kedamaian.


Tidak ada di tempat ini, dirinya tidak ada. Siluet dirinya yang kembali menjadi Triton bagaikan mimpi untuknya.


Pemuda rupawan itu terdiam menatap air hujan yang turun. Dirinya akan mati lagi, benar-benar mati kali ini.


Terdiam di tempat bagaikan balkon. Ini dimana? Entahlah, mungkin mimpi sebelum kematiannya.


"Hah... semua orang akhirnya akan bahagia..." Gumam pemuda itu memikirkan senyuman Sesilia yang akan kembali terukir. Keluarganya yang berkumpul, segalanya benar-benar terasa hangat, inilah akhir kehidupannya kali ini sebagai anak kecil bernama Zeyan.


Cahaya kecil mengitari tubuhnya, menghapus tubuh pemuda rupawan itu. Dirinya kembali menjadi Zeyan, anak berusia lima tahun. Dalam wujud apapun hatinya tetap sama. Seseorang yang haus akan kasih sayang keluarganya. Tidak ada yang dicintainya di dunia ini. Jadi tidak ada yang perlu dicemaskan olehnya.


Anak itu atau Triton sudah melepaskan segalanya."Aku sudah siap untuk pergi..." gumamnya sebagai anak kecil yang mengangkat koper besar. Bersiap untuk kehidupannya yang lain.


Namun terkadang ada hal yang tidak terduga. Seseorang muncul, seseorang yang tidak dikenalnya sama sekali."Apa tugasmu sudah selesai? Anak sialan!" Ucap pria itu tersenyum, mungkin ada hal yang tertinggal.


"Anda siapa?" Satu pertanyaan dari Zeyan.


Pria yang tiba-tiba mengangkat tubuhnya.


"Apa yang kamu lakukan!?" teriak Zeyan ketakutan.


Pria itu kemudian membantingnya hingga jatuh dari balkon."A....aaaa!" teriak sang anak.


Mimpi aneh itu pada akhirnya berakhir. Bukan mimpi yang panjang, tapi wajah puas penuh senyuman pria aneh itu terlihat di balkon. Orang yang tidak dikenalnya sama sekali.


Mata Zeyan terbuka tiba-tiba, tempat yang benar-benar terang. Ini rumah sakit? Jadi dirinya belum mati. Matanya menelisik menatap ke arah semua orang yang menatap bahagia padanya. Mereka semua cemas, benar-benar cemas.


Seorang dokter masuk dengan terburu-buru. Memeriksa keadaannya secara menyeluruh.


"Pasien sudah melewati masa kritis. Kita tinggal menunggu perkembangannya pasca operasi." Kalimat samar yang didengarkan oleh Zeyan.


Dirinya tidak leluasa bergerak, beberapa alat medis masih terpasang. Bicara pun rasanya sulit, tapi hanya kelegaan yang ada di hatinya. Menyaksikan keluarganya kembali tersenyum.

__ADS_1


"Jadi ayah durhaka itu pada akhirnya menyelamatkan putranya?" Batin Zeyan, menitikkan air matanya.


Orang yang paling berharga baginya, selamanya Sesilia. Wanita itu menangis dengan wajah tersenyum, kesulitan mengendalikan perasaannya.


Berapa hari dirinya tertidur, hingga suasana telah berubah? Entahlah... cairan infus masih menetes. Dirinya tidak membeku di kamar mayat pada akhirnya.


Tidak, dirinya bukan lagi Triton. Tapi Zeyan yang menerima banyak kasih sayang. Zeyan yang memiliki ingatan Triton. Memiliki cangkang serta keluarga yang harus dijaganya.


"Aku hidup..." batinnya terus meneteskan air mata. Benar-benar takut akan kematian.


*


Beberapa hari pasca operasi mereka semua datang. Seperti biasanya, semuanya tidak memperhatikan betapa kecil perutnya. Bahkan suster senior yang disewa khusus untuk merawatnya di ruangan VVIP.


Ruangan yang luas, dipenuhi dengan bertumpuk-tumpuk buket bunga. Kolega ayahnya datang silih berganti, walaupun pada akhirnya Cakra mengusir mereka dengan sopan. Apa hanya itu saja? Tidak karyawan dan petinggi perusahaan, ditambah dengan beberapa pengelola usaha milik Mulyasari.


Semuanya datang, selalu terjadi keributan di luar ruangan. Tidak ada yang diperbolehkan masuk.


Belum lagi, kolega bisnis Asnee dan Flo. Apa ini toko bunga? Bahkan toko bunga yang dulu dimiliki Sesilia tidak menampung bunga sebanyak ini?


Anak yang memakan buah-buahan dari Derrick. Pemuda itu tetap ada disampingnya, menyuapi dirinya.


"Makan yang banyak, katanya jeruk bagus untuk daya tahan tubuh." Derrick menghela napas kasar.


"Paman tidak diusir oleh ayahku?" tanya Zeyan mengenyitkan keningnya.


"Aku punya strategi tersendiri..." Jawaban paman yang bagaikan malaikat itu. Dirinya tidak berniat merebut Sesilia. Tidak sama sekali, tapi karena Fabian yang protektif terlanjur berburuk sangka. Ini harus terjadi, jujur saja Derrick hanya merasa dekat dengan keluarga ini. Mengangumi Sesilia tanpa ada obsesi untuk memilikinya.


*


"Buka pintunya br*ngsek!" Teriak Fabian, menggedor-gedor pintu kamar Zeyan di villa milik Asnee. Dirinya dikunci ketika mengambil pakaian di kamar Zeyan, entah oleh siapa.


"Percuma..." Sesilia yang juga tidak sengaja terkunci di dalam hanya dapat menghela napas kasar.

__ADS_1


__ADS_2