Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Mencintaimu


__ADS_3

Berusaha tersenyum dalam kekesalannya. Pria ini benar-benar menguji dirinya. Menghela napas kasar, berusaha berfikir lebih positif."Tidak apa-apa, setelah semua persiapan selesai aku akan tinggal di Beijing. Tidak ada yang mengenalku disana."


Pemuda yang pada awalnya merasa menang itu mengenyitkan keningnya. Menggenggam erat kertas di tangannya. Tidak mudah memperebutkan hak asuh. Pasalnya mereka tidak menikah ditambah dengan Zeyan yang sedari kecil berada dalam asuhan Sesilia. Kondisi ekonomi? Keluarga Sesilia cukup mampu untuk membesarkan Zeyan. Bahkan lebih dari kata mampu.


"Pergi ke Beijing? Tidak bisakah kamu memberiku satu kesempatan lagi?" tanyanya berusaha tersenyum, melunak.


"Maaf...tapi aku sudah memberikannya." Hanya itulah jawaban dari Sesilia.


Fabian terdiam sejenak, tertunduk, menghela napas kasar berusaha setegar mungkin. Beri aku kesempatan tiga hari ini saja. Setelahnya terserah padamu.


Tidak ada jawaban, Sesilia hanya berlalu melangkah pergi. Terlihat tegar dari luar? Sejatinya tidak, ada beberapa hal yang disembunyikan dalam hati manusia yang terdalam. Sesuatu yang tidak dapat diperlihatkan dengan mudah. Tidak ingin menunjukkan sisi rapuhnya.


Tangannya mulai gemetaran lagi, dirinya ketakutan. Takut akan kehilangan Zeyan dan Sesilia, hanya itulah harapannya untuk bahagia. Tidak ada harapan sama sekali.


"Tuan muda?" Cakra menghela napas kasar.


"Aku tidak apa-apa...tapi, kamu memiliki anak dan istri. Jika mereka pergi, apa yang akan terjadi padamu?" tanyanya, dengan tatapan kosong. Membayangkan masa depannya.


Tidak ada jawaban dari Cakra. Membayangkannya saja merupakan hal yang sulit baginya. Fabian bukannya tidak menyayangi Zeyan. Hanya saja lebih terpaku pada masa lalunya yang selalu mendapatkan prilaku buruk dari ayahnya. Ingin melindungi keluarganya tapi segalanya kembali tertutup oleh kesalahpahaman.


*


Hari ini hal itu terjadi lagi. Sebuah penolakan, anak yang lebih sibuk dengan dunianya sendiri. Terbaring di tempat tidur, bahkan menolak disuapi makanan oleh ayah kandungnya.


"Makan sedikit saja." Pinta Fabian.


"Apa pedulimu!? Pulang sana!" Ucap Zeyan menutup tubuhnya dengan selimut. Tepat dibaliknya anak itu menangis, ini kesempatannya untuk hidup. Tapi kenapa dirinya menolak? Hanya ingin Sesilia bahagia, hanya itulah dalam benaknya saat ini tidak ingin egois sama sekali.


"Biar aku saja." Sesilia merebut mangkok bubur dari tangan Fabian. Barulah anak itu keluar dari selimut, bersedia untuk makan.


Tidak ada celah yang dapat dimasukinya tidak seperti dulu. Kala Zeyan selalu memberikan kesempatan untuknya, kala Sesilia bahkan rela menurunkan harga dirinya.


Ayah...apa dirinya tidak bisa menjadi seorang ayah yang baik? Menjadi suami yang menjaga istrinya? Ini salahnya, dirinya tidak dapat menyalahkan Sesilia.

__ADS_1


Terdiam seorang diri di lorong. Menyaksikan Sesilia menyuapi Zeyan, mengambilkan kantong kala Zeyan merasa mual. Apa putranya akan mati? Dirinya hanya pernah bertemu beberapa bulan dengan putranya. Sedangkan Tuhan ingin mengambilnya.


Air matanya mengalir tanpa disadari olehnya. Lebih baik dirinya yang mati, jangan putranya yang masih terlalu muda. Lima tahun...apa saja yang dapat dirasakan anak berusia lima tahun?


Tidak menyadari seseorang tertegun menatapnya. Seseorang yang kembali melangkah pergi setelah mengamatinya dari jauh.


*


Hari ini pekerjaannya telah usai, merenggangkan otot-ototnya yang kaku. Pemuda itu bangkit, tapi langkahnya terhenti kala menyadari tidak ada satu orangpun dalam rumah ini.


Matanya menelisik, bahkan keberadaan Zeyan juga tidak ada. Bukankah tadi pagi putranya demam? Berjalan sepanjang lorong, hingga seorang security ditatapnya ada di area depan rumah.


"Kemana semua orang?" tanyanya.


"Tuan membawa mereka ke danau. Cucunya merengek ingin menghabiskan waktu lebih banyak dengan keluarga." Jawaban dari sang security.


"Danau? Danau dekat sini?" Fabian kembali bertanya, dijawab dengan anggukan oleh sang security.


*


Hanya firasat buruk, Fabian menghela napas kasar. Menyetir mobil dengan kecepatan tinggi menunju danau yang hanya berjarak satu kilometer dari lokasi villa.


*


Terkadang menghabiskan waktu dengan keluarga memang hal yang baik. Kehidupannya sebagai Triton hanya dihabiskan untuk menjaga Sesilia, tepat setelah terpisah dengan orang tuanya. Merindukan hari-hari seperti hari ini. Bukan sebagai Triton tapi sebagai Zeyan.


Mendapatkan kasih sayang yang lebih dari keluarganya. Memanggang daging bersama Asnee, sedangkan Sesilia dan Flo menyiapkan minumannya. Membuat hidangan Barbeque, tertawa bersama.


Terkadang matanya sedikit melirik ke arah Sesilia yang tersenyum dipaksakan. Apa ada yang disembunyikan olehnya? Tapi ini pilihan terbaik, dirinya tidak ingin Sesilia dipermainkan lagi oleh Fabian. Apa ada perasaan ragu setelah beberapa hari orang itu tinggal di tempat ini?


Perlahan Sesilia melangkah pergi."Aku ingin melihat pemandangan. Tolong jaga Zeyan..." pintanya.


Flo dan Asnee tersenyum menyanggupi. Kembali menyuapi makanan pada cucu mereka yang semakin lemah saja sejatinya.

__ADS_1


Kakek dan nenek yang baik? Itulah mereka. Mengambil beberapa foto, bermain bola, tidak ingin kehilangan sedikitpun momen dengan cucu mereka. Walaupun permainan kali ini sedikit kasar.


Dor!


Dor!


Dor!


Entah sejak kapan Asnee melakukan tindakan ilegal. Membawa senjata api, melatih anak berusia lima tahun untuk menggunakannya.


"Sasaran tidak bergerak tidak seru! Aku akan membeli kelinci hidup. Kemudian melepaskannya! Kita jadikan sasaran latihan tembak!" Ucap Asnee menatap kemapuan cucunya. Sembari tertawa, sedangkan Flo hanya dapat memijit pelipisnya sendiri.


"Zeyan... walaupun semua tembakanmu tepat sasaran. Nenek ingin kamu hidup normal. Karena itu susul ibumu..." Perintah Flo pada akhirnya tidak ingin cucunya menjadi sama parahnya dengan suaminya. Tidak dapat dibayangkan olehnya, hanya wanita yang ada dalam rumah yang normal. Sedangkan laki-lakinya semuanya badas.


*


Fabian memarkirkan mobilnya asal, berkeliling di sekitar area danau. Tempat yang cukup tenang, dikelilingi oleh hutan dan padang rumput. Berlari di atas rumput yang basah, ada rasa cemas tersendiri dalam hatinya entah mengapa.


Tidak dipedulikan, tidaklah mengapa. Tapi dirinya hanya berharap ingin menatap wajah anak dan wanita yang dicintainya lagi.


Wanita itu terlihat duduk di tepi danau. Tepatnya diatas akar pohon yang menonjol, memakai mini dress berwarna putih. Terlalu indah untuk dimiliki, begitu indah di matanya bagaikan peri hutan.


Hanya melangkah semakin dekat."Sesilia," panggilnya.


Wanita yang menoleh ke arahnya, air danau yang terkena cahaya matahari. Menampakan pemandangan bagaikan kristal yang mengapung. Angin bertiup pelan, membelai rambut panjang lurusnya.


Sesuatu yang benar-benar kacau. Dirinya yang merusak keindahan ini, tapi tetap ingin memilikinya.


"Kenapa kemari?" tanyanya mulai bangkit.


"Aku hanya ingin menemuimu dan Zeyan. Mengatakan segalanya..." Jawaban dari Fabian.


"Tentang apa? Tapi itu tidak penting lagi. Zeyan membencimu, memutuskan untuk tidak bersamamu. Jadi jangan mengganggu kami lagi..." Wanita itu melangkah pergi, berbalik untuk meninggalkannya.

__ADS_1


Dengan cepat juga Fabian menghentikannya memeluknya dari belakang."Tidakkah kamu merasa hangat? Apa jantung itu tidak berdegup cepat sepertiku? A...aku putus asa. Aku mencintaimu..."


__ADS_2