
Tidak ada yang dapat dilakukannya, otot-ototnya terasa lemas untuk bergerak. Gigi juga belum tumbuh sama sekali, bagaimana caranya untuk bicara. Berusaha keras mengeluarkan suara tapi sulit. Ternyata kehidupan bayi benar-benar membosankan, berkutat dengan tidur dan susu formula.
Kini dirinya mengerti mengapa balita tidur dengan cepat. Tubuhnya terasa cepat lelah, benar-benar lelah. Tidak ada yang dapat dilakukan oleh bayi mungil yang chubby. Hanya tertawa, tersenyum sebanyak mungkin, bertingkah lucu. Dirinya menyadari, saat orang-orang dewasa mulai menjadi gemas kala itulah mereka menjadi budaknya. Mungkin inilah yang namanya perbudakan gaya balita.
Dirinya mulai dapat berjalan perlahan, belajar bicara seiring syaraf tubuhnya yang tumbuh. Saat itulah dirinya menyadari hanya dapat bersandar pada Sesilia saat ini. Kala Zeyan berumur 2 tahun, saat itulah rumah kecil itu dijual. Tabungan yang disiapkan Triton telah habis, Zeyan mulai berperan menjadi anak yang mandiri. Mencuci piring di usia 2 tahun, memang gila jika seorang anak dapat melakukannya. Namun, dirinya memiliki ingatan yang sempurna dari kehidupan lampau.
Suatu peristiwa langka sejatinya. Namun, bukannya tidak pernah terjadi. Kala berusia 3 tahun Zeyan mulai menyelidiki peristiwa serupa yang dialaminya. Ada, benar-benar ada, cerita di internet tentang seorang anak yang mengingat tentang dirinya menjadi tentara angkatan udara, saat perang dunia kedua. Bahkan mengingat nomor penerbangan, serta bagaimana dirinya mati. Setelah diselidiki memang benar-benar ada nama tentara dengan nomor kode penerbangan tersebut. Masih ada beberapa artikel lagi yang serupa, tentang anak-anak yang mengingat kehidupannya di masa lampau.
Apa ada yang seperti dirinya? Mungkin ada tapi menyembunyikan diri. Mungkin saja, Zeyan menghela napas kasar, karena keinginan kuat, atau mungkin anugerah dari Tuhan dirinya mendapatkan kesempatan. Tapi memang memalukan, setiap naik kursi harus diangkat orang dewasa.
Tidak dapat bekerja sebagai pembantu detektif seperti dulu. Pipinya selalu dicubit, dipeluk oleh wanita dewasa. Apa yang harus dilakukannya? Itulah yang ada dalam fikirannya saat ini. Pria tampan yang melihat ke arah komputer dengan wajah dingin. Tapi bagi orang lain, anak menggemaskan yang menatap komputer sembari cemberut. Pipi chubby, kulit putih dengan rambut kecoklatan.
Astaga! Hati orang-orang meleleh karena gemas. Mengambil gambarnya kemudian membelikan beberapa bungkus cemilan manis. Aneh, tapi nyata dirinya yang menyukai makanan pedas, kini tidak menyukainya. Lebih menyukai permen dan biskuit manis, mungkin karena indra pengecap anak-anak berbeda.
Kini dirinya menyadari, benar-benar dapat menerima. Kembali menjadi anak kecil, entah hal masuk akal ini disebut sebagai apa. Tapi tidak hanya dirinya yang mengalami, walaupun ini termasuk hal langka. Yang harus dilakukannya hanya tetap bungkam. Mengumpulkan uang menjadi white hacker, mungkin bukan karena Sesilia dirinya kembali dengan ingatan yang tidak menghilang. Mungkin saja, karena tugasnya belum usai untuk menghancurkan Chan.
Menghela napas kasar, masih teringat di benaknya tentang misi terakhirnya. Hanya sedikit orang yang dapat diselamatkan olehnya dengan tujuan awal balas dendam, tapi berakhir sebagai misi kemanusiaan. Bisnis ilegal milik Chan juga masih tetap beroperasi hingga saat ini. Apa ini kesempatan yang diberikan Tuhan untuknya, menghentikan Chan?
"Nak! Bibi gemas padamu!" Seorang wanita muda tiba-tiba memeluknya. Sudah jenuh rasanya dipeluk oleh lawan jenis tapi tidak dapat melawan. Hanya dapat menerima dan berkata.
"Aku sayang bibi, bibi cantik..." Ucapnya dengan mulut kecil dan mata jernih. Tentu saja guna memperbudak orang-orang. Kontrak perbudakan yang tidak dapat ditolak siapapun.
"Bibi juga!" Penjaga warnet benar-benar gemas, mengangkat tubuhnya membawanya ke Indoapril terdekat.
__ADS_1
*
Kembali pada saat ini, anak itu mulai terbangun dari tidurnya. Menatap ke arah cermin, seorang anak yang membawa Teddy Bear besar, rambutnya masih acak-acakan, memakai piyama kelinci.
"Aku selalu menjadi yang terlucu sekaligus tertampan..." gumam Zeyan menatap ke arah cermin. Takjub dengan pesonanya sendiri.
"Waktunya mandi!" Teriaknya penuh semangat, anak yang benar-benar lucu. Berteriak menyambut paginya dengan suara cempreng yang manis.
Tubuh kecilnya baru selesai mandi, mengenakan pakaian taman kanak-kanak. Mengancing seorang diri, menyisir rambut dengan rapi. Dasi kupu-kupu dan rompi itu, benar-benar terlihat manis. Kulit putih dengan mata biru, yang mungkin menurun dari Mulyasari nenek biologisnya, blasteran Indonesia-Belanda.
Benar-benar ketampanan yang hakiki bukan? Tapi sayangnya tubuh ini lemah, mungkin saja kesempatan ini akan dicabut dalam waktu dekat. Dirinya akan tetap mati.
Anak berusia lima tahun yang menyadari segalanya. Sudah cukup bahagia dengan kesempatan yang diberikan Tuhan. Walaupun di kehidupannya yang dulu dan sekarang terasa sama saja. Masa kecil yang tidak begitu indah.
Entahlah.
*
Kala pintu itu terbuka maka rona keceriaan terlihat."Cucu nenek sudah bangun?" Ucap Mulyasari mengangkat tubuhnya.
"Aku ingin sekolah. Mau nenek yang antar..." Zeyan tersenyum, tatapan matanya memelas, menaklukkan hati siapapun. Anak tampan dengan rambut pirang dan mata biru. Jantungnya terasa di tembus oleh belati yang dihunuskan anak ini.
"Iya! Nenek yang antar..." Mulyasari mencium pipinya berkali-kali gemas. Sedangkan anak dalam gendongannya berusaha tersenyum. Benar-benar berusaha, mengetahui sebelum sampai taman kanak-kanak, tujuan sang nenek adalah toko mainan.
__ADS_1
Berjalan menuruni tangga. Mulai duduk di kursi ruang makan guna menikmati sarapan. Mata Zeyan menatap tajam, melirik ke arah Sesilia dan Fabian. Bagaimana caranya menyatukan kedua orang ini?
Walaupun dirinya membenci sang ayah durhaka. Tapi tetap saja, hanya sang ayah durhaka yang berkemungkinan besar memiliki tiket untuknya bertahan hidup.
Memakan sayur-sayuran bagaikan anak kelinci. Beberapa kali gambarnya diambil oleh Jesseline diunggah di media sosial untuk menambah subscribers-nya.
Benar-benar anak manis yang picik. Menyipitkan matanya, menelan ludahnya mulai menghentikan aktivitas makannya."Apa semalam kalian membuatkanku adik?"
Sesilia kembali menatap tajam ke arah putranya."Sayang, kami tidak bisa membuatkanmu adik. Karena begitu banyak wanita yang melekat pada ayahmu."
"Tapi aku ingin adik..." pinta Zeyan tertunduk bagaikan ingin menangis. Mata berkaca-kaca dari seorang anak yang ingin menjual ibunya hanya demi bertahan hidup.
Brak!
Fabian meletakkan garpu di hadapannya dengan cukup kencang. Menghela napas kasar menatap ke arah Sesilia."Sebelum berangkat, bisa kita bicara berdua?"
"Bisa... predator..." Sesilia tersenyum menghina. Suasana masih terlihat panas, antara seorang pria mendominasi dengan seorang wanita yang sudah terlanjur membencinya.
*
Menghela napas kasar, dua orang yang telah usai sarapan kini duduk saling berhadapan di ruangan keluarga.
"Ada yang ingin aku bicarakan. Ini tentang kita..." Ucap Fabian tertunduk, tangannya gemetar kali ini.
__ADS_1