Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Keinginan Sesilia


__ADS_3

Menginap? Apa yang difikirkan orang ini? Pernyataan yang membuat Fabian tersenyum senyum sendiri. Menghela napas kasar, menetralkan detak jantungnya. Dirinya harus berfikiran waras! Lebih waras lagi.


"Dari pada tidur bersama. Bagaimana jika malam ini kita pergi ke luar?" Ucapnya ragu.


Sesilia mengangguk, hanya mengangguk berusaha tersenyum. Apa perasaan suka 6 tahun lalu itu masih ada? Entahlah dirinya juga tidak mengetahui sama sekali.


*


Kencan seusai makan malam, dirinya mengirim pesan terlebih dahulu pada putranya. Menanyakan kondisinya, anak yang langsung membalas pesan ibunya. Dirinya baik-baik saja, sudah minum obat dan makan, madu fermentasi juga sudah diminumnya.


Menghela napas kasar, kembali membuka hati untuk Fabian merupakan pilihannya. Mengenakan celana panjang dan kemeja lengan pendek berwarna putih, tidak berpenampilan mencolok seperti orang berkencan pada umumnya.


Dirinya tidak ingin lebih berhutang budi pada ayah dari anaknya itu. Kehidupan Zeyan sudah cukup untuknya, dirinya hanya ingin Fabian menyelamatkan hidup Zeyan, itu benar-benar sudah cukup.


Keluar dari kamarnya dengan riasan tipis, rambut ditata rapi, memperlihatkan leher jenjangnya. Benar-benar wanita yang cantik walau mengenakan apapun, apalagi kalau tidak pakai apa-apa. Maaf salah, maksudnya cantik walaupun berpakaian santai.


Matanya menatap Fabian yang tidak mengalihkan pandangan darinya. Pemuda yang berpakaian rapi tapi kali ini benar-benar rapi. Bukan bagaikan menghadiri rapat kenegaraan lagi. Tapi bagaikan bangsawan barat di masa lampau, bahkan mengenakan jas modern yang cukup panjang. Entah akan menghadiri acara apa pemuda ini.


"Ayo berangkat!" Ucap Sesilia, menggenggam jemari tangannya.


Jantung pemuda itu berdegup cepat, lebih cepat daripada biasanya. Bagaikan memiliki dunia, itulah perasaan bos setan itu saat ini. Bagaimana bisa ada tangan sehalus ini.


Ini bagaikan mimpi baginya. Kala mobil mulai berjalan, Sesilia menyalakan radio. Dua orang yang bernyanyi sepanjang perjalanan, seperti hari disaat mereka pertama kali bertemu.


Inilah mengapa dirinya mencintai wanita buta itu. Inilah alasannya, wanita yang memberikan kenyamanan baginya untuk tampil apa adanya. Namun, dirinya juga ingin menjadi yang terbaik untuknya.


"Kita makan malam di restoran Itali. Aku sudah---" Kalimat pemuda itu disela.


"Tidak mau! Kita pergi ke taman hiburan!" Teriak Sesilia penuh kegembiraan.


"Baik! Sebagai kesatria! Aku akan menghadapi semua wahana!" Ucap Fabian penuh semangat.

__ADS_1


*


Taman hiburan ketika malam hari, tempat yang tidak begitu ramai kini. Ada beberapa pertunjukan dan arena permainan. Walaupun tidak seramai di siang hari, namun bagaikan nuansa berbeda hadir.


Bug!


Bug!


Bug!


Sesilia memukul tikus yang keluar dari mesin dengan cepat, bagaikan memiliki dendam tersendiri. Wanita yang kembali menarik tangan Fabian setelah puas bermain, seakan tidak ingin kehabisan waktu, mengingat dua jam lagi taman hiburan akan tutup.


Inilah sosok Sesilia yang ditemuinya 6 tahun lalu. Wanita yang tidak memiliki luka di hatinya, tertawa santai hanya dengan sedikit kebahagiaan.


"Aku ingin gulalinya dibentuk menjadi bunga..." Ucap Fabian, pada sang pedagang permen kapas. Sembari memperlihatkan video di YouTube pada sang penjual. Mengeluarkan uang dalam jumlah lebih.


"Waaah...." Teriak Sesilia kagum, ketika bentuk bunga itu perlahan terlihat. Mengambil memakannya tanpa ragu pada akhirnya.


Dua jam yang menyenangkan, mereka mengambil banyak gambar. Gambar yang dikirimkan sang ibu pada putranya. Dengan pesan.


'Setelah malaikat kecil ibu sehat, kita bertiga akan bermain bersama.'


Itulah pesan yang dikirimkan Sesilia pada Zeyan. Sebelum menaiki bianglala yang cukup besar.


Kala roda raksasa itu naik, berbagai pemandangan terlihat. Lampu-lampu perkotaan bagaikan jutaan lentera. Bintang di langit terlihat jelas. Ini adalah impiannya dan kakaknya kala masih tinggal di panti. Impian yang sang kakak lupakan setelah adiknya mengalami kebutaan.


"Kenapa taman hiburan?" Fabian mengenyitkan keningnya. Pemuda berambut pirang dengan mata biru itu menghela napas kasar, tatapan matanya tidak lepas dari Sesilia.


"Bukan apa-apa, hanya mewujudkan impian masa kecil saja." Jawab Sesilia.


Dua orang yang terjebak dalam keheningan sesaat. Hingga tiba-tiba bianglala oleng, akibat Fabian yang berdiri, memakaikan jasnya pada Sesilia."Adaranya semakin dingin. A...aku ingin melindungimu," ucapnya memegang tralis di belakang tubuh Sesilia menjaga keseimbangannya.

__ADS_1


Dua pasang mata yang bertemu, mencoba untuk saling memahami sesaat. Hanya memahami, hanya itu.


"Cantik, bintangnya cantik..." Sesilia tersenyum menatap ke wajah Fabian.


"Lampu kota terlihat lebih cantik dari pada bintang." Sedangkan Fabian tertegun, matanya menelisik mengamati wanita di hadapannya.


Kalimat yang ambigu dari mereka, bukan bintang atau lampu kota yang sejatinya mereka puji. Tidak! Bukan itu, bukan itu sama sekali, mungkin objek dalam pandangan mereka.


"Kenapa harus taman hiburan?" Sekali lagi Fabian bertanya pada wanita di hadapannya.


"Kakakku, kami selalu pergi ke taman hiburan saat kedua orang tua kami masih hidup. Dia menceritakan segalanya, berjanji jika sudah bekerja dan berhasil mengumpulkan uang akan membawaku ke taman hiburan." Mata wanita itu tiba-tiba berkaca-kaca, menetes, air matanya benar-benar menetes di hadapan Fabian.


Syaraf pemuda itu bagaikan lumpuh, tangannya gemetar, menatap ke arah makhluk rapuh ini. Tidak tahu bagaimana harus menghiburnya.


"Dia mengingkarinya?" tanya Fabian ragu.


"Tidak, dia berjanji kami akan pergi bersama untuk merayakan kelulusanku. Tapi sebelum itu, aku sudah tidak dapat melihat dunia lagi. Aku mengira dia akan meninggalkanku. Tapi tidak, kakak bekerja lebih keras untukku, siang dan malam. Hanya untuk mendirikan toko bunga impianku, agar aku melupakan taman hiburan yang tidak bisa aku lihat." Jawaban dari Sesilia dengan bibir bergetar.


"Aku bukan malaikat seperti kakakmu. Aku juga berbuat banyak kesalahan padamu, aku mengakuinya. Hanya untuk memilikimu, aku mematahkan sayapmu. Ta...tapi walaupun kejam dan kotor seperti iblis, aku tetap ingin menjagamu." Sebuah janji dari Fabian, menatap wajah itu semakin lekat. Jarak hanya beberapa sentimeter. Bahkan hembusan napasnya terasa menerpa kulit.


Suara teriakan terdengar samar-samar, festival yang ada di dekat pantai. Puncak acara beberapa kembang api diluncurkan ke langit.


"Jika ditanyakan kenapa dulu aku mencintaimu. Aku akan menjawabnya, karenamu aku mengetahui keindahan dunia tetap ada. Dunia yang tidak sekotor yang aku kira, hingga dulu aku ingin merusak hidupku sendiri. Karena keindahanmu, aku ingin hidup menjadi yang terbaik untuk dapat disampingmu..." Mungkin itulah yang ada dalam fikiran Fabian kala berkutat dalam kebisuan.


"Jika ditanyakan kenapa dulu aku mencintaimu. Aku akan menjawabnya, aku hanya sendiri dalam kegelapan. Hanya kakak yang menggenggam jemari tanganku. Tapi dalam kegelapan, suaramu yang canggung terdengar. Membuatku bermimpi, seorang wanita buta akan mendapatkan cintanya..." Kalimat yang disimpan dalam hatinya, oleh wanita yang kini terdiam.


Perlahan dua pasang mata itu terpejam dalam air mata yang mengalir. Bukan kesedihan atau kekecewaan kali ini. Namun, kebahagiaan, sepasang jantung yang perlahan berdegup cepat.


Bibir mereka bersentuhan dengan ragu, sepasang lidah yang bertemu canggung perlahan. Perlahan menikmatinya, kehausan karenanya, ingin menyatu dalam cintanya. Pemuda yang mendekap tubuh wanita itu.


"Aku mencintaimu..." Bisiknya kala ciuman itu terlepas sesaat.

__ADS_1


Suara kembang api terdengar. Dua pasang mata yang kembali terpejam. Bibir yang kembali menyatu, sinar ledakan kembang api menghiasi langit, tidak dipedulikan oleh mereka.


__ADS_2