
Anak manis itu ada dalam dekapannya. Benar-benar tidak ingin putranya terluka. Seorang anak berusia lima tahun yang menangis sesenggukan. Anak yang baik, kelinci putih kecilnya menangis.
Matanya beralih ke menatap ke arah Sesilia. Wanita yang terkena wine dengan rambut acak-acakan. Ini adalah perbuatan Anjani.
Prang!
Suara gelas minuman yang pecah terdengar, pecahan kaca yang sempat melukai sedikit wajah Anjani."Aku masih menahan kesabaranku karena ayahmu. Tapi karena hari ini hubungan perusahaan kita akan semakin memburuk." Kalimat penuh penekanan dari Fabian, menurunkan Zeyan kemudian memakaikan jasnya pada Sesilia.
"Fabian tunggu! Tidak seperti itu! Mereka itu pencuri!" teriak Anjani histeris. Sementara pelayan yang dibayarnya diamankan oleh pihak kepolisian. Dicurigai sebagai tersangka yang membawa cincin untuk terakhir kali.
"Aku bersumpah! Aku benar-benar memasukkannya ke dalam tas! Aku tidak mau uangnya! Wanita itu yang membayarku untuk memasukkan cincin ke dalam tas!" teriak sang pelayan hotel meronta-ronta.
Tapi pada kenyataannya cincin tidak berada dalam tas Sesilia ataupun pada sang pelayan. Tapi yang pasti, pelayan akan menjadi tersangka utama. Walaupun mungkin akan hanya menjalani pemeriksaan, mengingat ini semua perintah Anjani. Tidak mungkin Anjani akan memperpanjang kasus yang memalukan ini bukan?
Menjebak seorang wanita, tapi malah kehilangan cincin senilai jutaan dollar. Tidak ada yang dapat dilakukan wanita itu selain menahan amarah. Matanya menatap kepergian Fabian tanpa dapat ada niatan untuk menyusul. Pipinya masih terluka hingga kini, pria yang sulit ditaklukan olehnya.
"Fabian!" teriaknya murka, menangis sesaat kemudian. Wanita yang pergi bersama seorang asisten pribadinya, serta beberapa pengawal.
"Jangan perpanjang masalah ini. Pastikan ini media dan tuan besar (Chan) tidak tahu tentang masalah ini." Ucap sang asisten pada bawahannya. Pada akhirnya Anjani yang tertunduk, mengangkat kepalanya mengikuti langkah asistennya. Tidak ada yang berani berkomentar atau mencecarnya lebih tepatnya mereka takut pada dirinya dan kekuasaan ayahnya.
*
Benar-benar disayangkan bagi Zeyan, cincin yang ditanamnya beberapa belas menit tidak tumbuh. Mungkin kekurangan pupuk atau disirami air. Karena sejatinya menjadi petani cincin tidak mudah. Anak yang bersenandung sembari tersenyum.
Menatap ke arah gedung-gedung perkantoran dalam mobil ayahnya."Bintang kecil, di langit yang hitam, amat banyak menghias angkasa---" tapi tiba-tiba saja nyanyiannya terputus.
"Ibu! Ayah! Aku ingin ada bintang jatuh!" Ucapnya antusias memiliki pemikiran aneh.
__ADS_1
"Bintang jatuh? Kamu ingin membuat permintaan?" Tanya Sesilia pada putranya yang manis.
Anak itu menggeleng, berpura-pura lugu. Walaupun dirinya tahu karena kejadian hari ini sedikit tidaknya ibunya mengetahui tentang kecerdasannya."Aku ingin menangkap binatang. Mereka terlihat bersinar mungkin saja terbuat dari emas. Jika sudah terjual, aku ingin membeli rumah, untuk ayah, ibu, aku dan adikku."
Kalimat yang seketika membuat Sesilia salah tingkah mengenyitkan keningnya. Berusaha tersenyum, benar-benar berusaha tersenyum."Sudah ibu bilang untuk punya adik---"
"Kamu akan segera punya adik." Fabian yang tengah menyetir, menyela pembicaraan mereka. Membuat dendam membara dalam hati Sesilia, pria ini benar-benar tidak bisa diampuni.
"Apa sulitnya tinggal buka dan---" Kalimat pria itu disela.
"Berisik! Aku ngantuk! Kamu juga harus tidur!" Bentak Sesilia pada putranya memaksa kepala anak itu untuk ada di pahanya.
Sementara Fabian tertawa kecil, menatap anak itu benar-benar menurut. Anak yang terlihat mulai tertidur dengan nyenyak.
"Dia anak baik..." Ucap Fabian.
*
Seperti sebelumnya, tepat pukul 2 pagi. Anak itu membuka matanya, wajahnya yang biasanya menapakkan aura manis kini tidak lagi. Terdiam dengan senyuman menyungging di bibirnya.
Dua juta dollar? Apa yang dapat dilakukannya dengan sampah dua juta dollar. Menghela napas kasar mengambil tissue, darah itu keluar lagi dari hidungnya.
Perlahan duduk di kursi, jemari tangannya bergerak cepat. Hal yang tidak terduga dilakukannya kali ini, hal yang tidak pernah dilakukannya sebelumnya. Mencari kedua orang tua kandung Sesilia dan Triton.
"Mereka sudah tua...tapi kaya..." gumamnya dengan wajah yang tersenyum. Tapi satu hal yang membuat senyuman di wajahnya memudar. Air matanya mengalir tiba-tiba, foto pencarian dua orang anak yang menghilang puluhan tahun lalu.
Seorang anak laki-laki dan perempuan yang diyakini semua orang sudah tidak ada di dunia ini lagi.
__ADS_1
"Kenapa mereka mencarinya? Bukankah itu yang mereka inginkan?" gumamnya menghapus air matanya menggunakan jemari tangan kecilnya.
Tangannya bergerak cepat, usai menyelidiki tentang pasangan paruh baya itu. Mengambil gambar, guna menjual cincin, hasil penjualan yang akan digunakannya untuk menghancurkan pembunuh Triton. Apa yang sebenarnya ada dalam otak anak ini?
Entahlah senyuman itu terlihat bagaikan iblis kini. Sorot matanya tajam dan dingin. Bagaimana dirinya dapat memiliki otak secerdas ini? Dan mentalnya, ini bukan mental dari anak berusia lima tahun.
Taukah kalian terkadang Tuhan mengirimkan malaikatnya dalam wujud apa saja? Tidak selalu rupawan, tidak selalu kuat, tidak selalu indah.
Foto Triton dan Sesilia, serta foto dirinya ada dalam frame foto terpisah. Ini karena Triton mati di hari tepat dimana Zeyan dilahirkan.
Kematian yang menyakitkan, laptop dan peralatan kesayangannya dihancurkan. Impiannya untuk hidup bahagia dengan keponakan kecilnya juga menghilang tanpa bekas.
Tapi terkadang satu keajaiban terjadi di tengah keputusasaan. Itulah Zeyan.
Pada akhirnya tepat pukul lima pagi, komputer dimatikan olehnya. Selah menyewa seseorang, yang secara otomatis akan mengirimkan data keberadaan Sesilia pada orang tua kandungnya, jika Zeyan meninggal.
Segala kemungkinan dapat terjadi, itulah yang ada dalam benak Zeyan.
Dirinya mulai mengambil buku gambar, membuat sketsa menggunakan pensil arsir. Perlahan melukisnya, wajah cantik ibunya, serta dirinya.
Apa Fabian akan dapat berubah? Itu masih diragukan olehnya. Tapi jika ayah durhakanya itu berubah menjadi lebih baik, akan ada orang yang menjaga ibunya jika operasi gagal. Atau jika dirinya meninggal sebelum operasi.
Matanya mengembun, mengapa hari ini dirinya begitu cengeng. Gambar sketsa yang sebentar lagi rampung. Ayah, ibu dan dirinya, serta satu sketsa lagi di kertas terpisah, Triton.
Kemungkinan hidup yang tipis bagi tubuh kecilnya. Tapi kali ini dirinya memiliki kesempatan memiliki keluarga yang lengkap. Hanya ibu, ayah dan dirinya. Jika mungkin akan ada nenek dan bibi.
Terlalu sempurna di hidup ini. Hingga dirinya tidak ingin pergi jika Tuhan memanggilnya. Memanggil seorang anak berusia lima tahun, mungkin Tuhan ingin memeluknya, menghapus rasa lelahnya.
__ADS_1
Tapi yang tersisa dari anak itu adalah kerinduan. Beberapa lembar tissue dengan darah dimasukkan dalam lubang toilet. Menghapus jejaknya, tidak ingin ada yang tau, anak ini tidak ceria, atau setegar yang mereka duga.