
Tidak ada yang tahu apa yang ada di fikirannya saat ini. Pemuda itu masih menyuapi Sesilia hingga saat ini. Wanita yang dengan sengaja menerima kebaikan hatinya.
Menghela napas kasar, berusaha untuk memahami segalanya. Walaupun rasa trauma itu masih ada. Namun, bukankah Fabian selama ini tidak pernah berusaha menyentuhnya? Itu sudah cukup untuknya. Mengalah demi Zeyan mungkin lebih baik.
Tapi apa yang ada dalam fikiran busuk bos yang bagaikan setan ini? Pemuda yang tersenyum ramah, mengenakan setelan hitam, menelan ludahnya kasar."Bibirnya... boleh aku menciumnya. Suaranya yang lembut, tangannya yang halus. A...aku lebih jatuh cinta daripada dulu. Apa boleh aku mengurungnya di rumah dan tidak membiarkan satu orang pun mendekatinya?" batinnya.
Rasa obsesif bercampur cinta yang polos itu masih ada hingga kini. Jika...jika saja Sesilia mengetahui isi fikirannya, mungkin wanita itu akan segera melarikan diri mengemasi barang-barangnya.
"Kenapa tidak ada yang makan? Biasanya cafetaria penuh?" Sesilia mengenyitkan keningnya, memincingkan matanya menatap puluhan karyawan tengah mengintip dari kaca etalase."Kamu tidak melarang mereka masuk kan?"
"Mereka akan masuk, iya kan?" Gumam Fabian dengan suara penuh penekanan. Menatap ke arah karyawan yang ada di belakangnya.
"Ha... Halo..." Satu orang masuk, diikuti dengan orang lainnya, tersenyum sungkan. Benar-benar bagaikan anak buah menatap keberadaan bos mereka.
Ini benar-benar aneh, mereka berjalan di pinggiran. Bagaikan Fabian dan Sesilia adalah pasien pengidap flu burung. Benar-benar menjauhi, mengeluarkan keringat dingin di pelipis mereka ketika mengambil makanan.
Meja-meja panjang yang kosong mulai terisi nampan. Sesilia tersenyum ramah, menatap seorang karyawan yang kebingungan tidak mendapatkan tempat duduk. Sedangkan meja panjang tempatnya dan Fabian berada saat ini yang seharusnya memuat 10 orang masih kosong."Hai! Duduk disini saja..." Ucap Sesilia tersenyum ramah, memakai pakaian putih, rambut hitam panjang, raut wajah yang manis tapi memberikan kesan keibuan yang anggun.
"Malaikat..." karyawan itu bergumam tertegun.
Sejenak kemudian menyadari kehadiran iblis yang duduk berhadapan dengan Sesilia. Setelah hitam bagaikan malaikat kematian, mengeluarkan aura kecemburuan yang menyengat.
"Mau duduk disini? Ingin mati?" Mungkin itulah kalimat tidak terucap yang tersirat dari wajah Fabian.
"Tidak usah! Aku dan temanku adalah pasangan sehati!" Ucap sang karyawan dengan cepat melompat ke pangkuan temannya. Duduk di pangkuan seorang pria.
Ingin menangis karena malu rasanya. Tapi daripada menjadi angkara murka bos-nya.
__ADS_1
"Kenapa duduk disini? Nanti aku dikira bermain pedang-pedangan denganmu." Geram teman yang memangkunya.
"Lebih baik dikira bermain pedang-pedangan daripada aku mati di medan perang!" Ucap sang karyawan pada temannya.
"Pegawai disini unik-unik ya..." Ucap Sesilia tersenyum.
Dengan cepat pemuda itu mengangguk, tersenyum penuh rasa bersalah."Sebenarnya aku tidak cocok menjadi bos mereka. Terkadang aku terlalu longgar pada karyawan, bahkan wanita hamil aku berikan ijin cuti pada trimester pertama, memberi kelonggaran untuk mereka jika ada acara mendesak. Banyak temanku sesama pengusaha yang bilang aku terlalu baik untuk menjadi seorang CEO. Tapi aku paling hanya memberi nasehat jika mereka memiliki kesalahan." Ucap Fabian dengan wajah sendu. Bagaikan penuh rasa bersalah dan penyesalan, sebagai orang yang terlalu baik.
Karyawan-karyawan yang duduk di dekatnya tertegun. Menatap penuh kebencian, sedikit saja Fabian melirik mereka langsung tersenyum ramah.
"Cuti apanya!? Dia bahkan menghitung setiap detik untuk mengambil cuti."
"Saat nenekku meninggal dia hanya memberikan cuti satu hari. Hingga aku tidak tidur sama sekali untuk perjalanan bulak-balik ke kampung."
"Lembur! Aku sudah gila karena lembur."
Tragis bukan? Itulah kehidupan para karyawan yang menjadi budak korporasi. Walaupun pada kenyataannya pekerjaan lain juga hampir sama saja. Yang jelas pekerjaan apapun, selain membuka usaha sendiri dua prinsip untuk sukses yang harus dipegang.
Prinsip pertama bos selalu benar, kedua jika bos salah kembali pada prinsip pertama. Karena itu semua karyawan hanya bungkam, makan dengan tenang bagaikan patung mendengar kebohongan dan gombalan bos mereka.
"Kamu benar-benar baik ya? Seperti ceritamu dulu sebagai Veron. Selalu berbakti pada orang tua, tidak pernah menyentuh minuman keras, baik pada karyawan." Ucap Sesilia penuh senyuman.
"Dusta!"
Ingin rasanya semua karyawan berteriak demikian pada wanita baik hati, berwajah malaikat ini. Pria ini benar-benar br*ngsek, menurunkan ayah kandungnya dari posisi CEO, dulu sebelum mengenal Sesilia selalu meminum minuman keras, baik pada karyawan? Dia hanyalah Tiran.
Tapi segalanya tersimpan dalam hati. Menatap bos mereka tersenyum seperti pria baik hati tidak berdosa.
__ADS_1
"Sebenarnya aku tidak nyaman membawamu makan di tempat ini." Ucap pemuda itu mengelap sudut bibir Sesilia. Benar-benar tingkah luar biasa dari bos liar mereka. Tidak dapat dipungkiri, orang gila itu kini jinak bagaikan anak kucing.
"Kenapa? Disini lumayan enak dan juga murah." Jawaban dari Sesilia mencemaskan uang di kantongnya.
"Hey nona! Yang sedang makan bersamamu bos besar! Uangnya banyak, mau makan malam di Maldives pun cukup!" Batin salah seorang karyawati yang hanya dapat mengunyah makanannya dengan cepat. Nyawanya tidak aman, jika mengganggu waktu privasi bosnya. Benar-benar ingin rasanya berteriak pada wanita ini, agar makan siang di tempat lain.
"Aku takut kamu akan tertarik pada pria lain. Terutama karyawan disini..." Kalimat yang sukses membuat hampir semua karyawan mual bahkan ada yang batuk-batuk saking terkejutnya.
Namun reaksi aneh dari Sesilia, wanita itu hanya menjawab."Jam makan siang sudah berakhir. Aku tidak ingin gajiku dipotong hanya karena tidak disiplin."
Semua orang membulatkan matanya termasuk Fabian. Menatap Sesilia membawa nampan dengan ekspresi wajah datar. Tidak seperti sebelumnya bagaikan orang berkencan.
"Tapi aku yang menggajimu!" Teriak Fabian, tapi sejenak kemudian melunak lagi."A...ayo kita pergi bekerja ..."
Sesilia hanya mengangguk sembari tersenyum. Melangkah pergi bersama Fabian.
Barulah para karyawan yang tersisa disana menghela napas kasar. Seakan baru dicekik atau ditenggelamkan. Baru saja dapat menghirup udara.
"Dia siapa?" tanya salah seorang karyawan.
"Asisten pak Fabian. Tapi aku rasa lebih seperti predator sebenarnya. Kamu bayangkan saja seorang wanita cantik bisa mengikat leher harimau putih, mengendalikannya seperti kucing jinak." Karyawan lainnya menghela napas kasar.
Tapi benar-benar terjadi, Sesilia tersenyum, sesekali melirik ke arah Fabian. Benar-benar pria baik, mungkin ini memang karena kesalahpahaman.
Fabian sendiri perlahan memegang jemari tangan Sesilia mengalihkan pandangannya ke tempat lain, malu-malu.
*
__ADS_1
Tapi tidak ada yang menyadari sesuatu. Pasangan suami istri yang tengah berada di dalam pesawat. Sang istri yang menangis tersedu-sedu menyadari putra mereka telah tiada. Putra tertua mereka sudah meninggal.