
...Seberapa rasa kasih putramu? Taukah kamu......
...Kala induk burung pipit terbang mencari makan untuk anaknya. Anak burung yang menunggu menatap ke arah awan gelap....
...Merasakan hujan menerpa tubuhnya, dingin...tapi yang pertama terbayang bukan wajah Tuhan, hanya wajah ibunya, menjelang ajal. Kata panggilan yang terucap mungkin hanya ibu....
...Mengapa? Putramu ini mencintai Tuhan, tapi tidak rela jika harus berpisah denganmu dan kembali ke hadapan-Nya....
...Untuk cinta pertamaku....
...Ibu....
Zeyan.
Sementara itu di dalam kamar, Sesilia menyisir pelan rambut putranya. Beberapa helai mulai rontok, air matanya mengalir tidak sanggup lagi menahannya. Bagaimana bisa anak sekecil ini menahan rasa sakit?
"Tidak perlu di sisir lagi. Aku juga tidak ingin melakukan kemoterapi...sakit..." Ucapan dari mulut kecil putranya. Tapi anehnya wajah putih pucat itu tetap tersenyum.
"Sayang, kemoterapi dapat menyembuhkan---" Kalimat Sesilia disela.
"Menyakitkan, i...ibu tau rasanya? Ba...baru sekali tapi rambutku sudah rontok. Se... setidaknya aku ingin mati dengan wajah yang tampan." Kalimat dari Zeyan penuh senyuman tetap menatap ke arah cermin, terlihat menahan tangisannya.
Tangan Sesilia gemetar, mendekap tubuh putranya erat."Jangan bilang begitu, Zeyan tidak akan mati. Zeyan yang ibu sayangi akan sembuh."
"Jika aku mati---" Kalimat Zeyan disela.
"Kamu tidak akan mati! Tidak akan meninggalkan ibu seperti Triton. Jika itu terjadi lagi, ibu akan menemanimu dalam kegelapan. I...ibu tidak ingin sendiri..." Benar-benar dekapan hangat dari Sesilia. Tidak rela kehilangan satu-satunya anggota keluarganya.
Tangan kecil itu membalas pelukannya. Wajahnya perlahan tersenyum, walaupun bibirnya terlihat memutih."Ibu, aku tidak ingin kemoterapi lagi. Aku ingin tinggal dengan keluarga yang lengkap. Apa ibu bisa mengabulkannya? Ibu, ayah, aku dan nenek tinggal bersama. Aku akan membuat lukisan keluarga kita. Jika waktuku tidak banyak, setidaknya aku dapat menghabiskan waktu bersama kalian," pintanya, benar-benar terlihat dewasa. Keinginan yang terlihat benar-benar tulus. Bukan kesan imut dan gemas kali ini, namun Sesilia hanya iba dengan keadaan putranya.
Jika sudah seperti ini ibu mana yang akan egois? Wanita itu mengangguk menyanggupi."Tapi kamu harus mengikuti kemoterapi. Kamu akan sembuh." Dirinya menanamkan keyakinan. Walaupun Sesilia tau harapan itu benar-benar tipis bagaikan berjalan di atas lapisan es.
Tidak ingin kehilangan Zeyan lagi, setelah dirinya kehilangan Triton. Masih teringat di benaknya, kala membawa Zeyan yang baru berusia seminggu ke makam kakak laki-lakinya. Seorang kakak yang menjaganya, dirinya tidak tahu tentang orang tua mereka. Hanya Triton yang mengetahuinya, jika dirinya bertanya maka Triton akan menjawab orang tua mereka sudah mati. Itu artinya hanya ada dirinya dan Zeyan di dunia ini. Tidak ada yang menemaninya jika putranya pergi. Tidak ada alasan baginya untuk hidup di dunia ini lagi.
"Kurangi... kemoterapi menyakitkan." Ucap Zeyan dalam pelukan ibunya, suara dari mulut kecil yang manis.
__ADS_1
"Tapi imbangi dengan obat tradisional dan makanan yang ibu pilihkan ya?" Pertanyaan ibunya dijawab dengan anggukan oleh Zeyan.
*
Tepat pukul empat pagi, ibunya masih tertidur nyenyak.
Sementara anak itu tengah mengenakan piyamanya. Mengetik dengan cepat mencari informasi lebih banyak lagi. Petugas lab yang diancamnya bukan hanya memberikan informasi tentang kecocokan DNA. Tapi juga memeriksa kecocokan sumsum tulang belakang sebagai pendonor dan penerima.
Terbatuk-batuk, membaca hasil tes laboratorium. Wajahnya tersenyum, aura jahat terasa menyengat. Hasilnya cocok, ayah durhaka itu dapat menjadi pendonor.
Inilah tujuannya membujuk Sesilia untuk tinggal di tempat ini. Menyusun strategi untuk bertahan hidup. Mencintai ayahnya? Memiliki keluarga yang lengkap? Dirinya tidak peduli sama sekali. Satu-satunya hal yang dipedulikan olehnya adalah bertahan hidup, demi menjaga ibunya.
Sementara dalam kamarnya Fabian terdiam, dirinya baru saja terbangun untuk meminum air. Menghela napas kasar mengingat mimpi buruknya. Triton detektif tengil itu kembali datang, memeluk Sesilia kemudian membawanya pergi. Pria yang berkata sembari tersenyum. Kamu tidak akan dapat membahagiakannya, Sesilia hanya milikku.
Mimpi yang benar-benar gila. Menghela napas kasar, mengingat kejadian pembobolan yang dilakukan hacker. Ini sudah pasti ulah Triton. Tidak mungkin Zeyan yang melakukan dengan tangan kecilnya. Dimana Triton bersembunyi saat ini? Hal yang benar-benar ingin diketahui olehnya. Mengingat seharusnya Triton sudah mati, dirinya masih mengingat betul. Bagaimana ayah Anjani mengalami kerugian yang cukup besar. Hanya karena seorang detektif swasta, bahkan terang-terangan meminta suntikan dana dari perusahaan ayahnya.
Dirinya hanya boneka saat itu. Boneka dari ayahnya, yang dipenuhi dengan keserakahan. Mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Setelah bercerai dengan ayahnya, sesuai perjanjian pra nikah, Mulyasari mendapatkan kembali aset yang sebelumnya dikelola oleh suaminya. Saat itulah sang ibu mulai mendukungnya, tidak menjadi boneka ayahnya lagi. Memutuskan kerjasama sekaligus pertunangan dengan perusahaan milik ayah Anjani. Mereka terlalu berbahaya, memiliki banyak bisnis ilegal.
Menghela napas kasar, apa Triton akan memanfaatkan Zeyan dan Sesilia untuk membalasnya, atas perbuatan ayah Anjani? Apapun itu, dirinya tidak akan menyerah dan melepaskan anak, serta wanita yang dicintainya.
*
Rencana apa yang sejatinya mereka buat? Zeyan terlihat memakan beberapa jenis sayuran, serta obat herbal, ditambah dengan madu yang difermentasi dengan bahan khusus. Sesilia meminjam uang pada tetangganya untuk mendapatkan beberapa obat-obatan tradisional yang mahal baginya ini.
"Zeyan nanti nenek belikan snacks ya?" Mulyasari tersenyum. Tapi anak manis itu menggeleng.
"Ibu sudah membuatkanku bekal. Snacks tidak baik untuk kesehatan." Kalimat yang diucapkan Zeyan, memakan sayur bagikan kelinci. Benar-benar lahap, anak ini terlihat menyukai sayur-sayuran. Benar-benar anak yang manis.
"Aku ingin muntah, ditambah dengan obat pahit dan madu dengan rasa aneh ini. Hidupku benar-benar menderita, tapi makan atau mati!? Aku lebih memilih makan," batinnya, tetap tersenyum menahan rasa mual.
Hingga pada akhirnya Sesilia menghentikan aktivitas makannya."Terimakasih untuk makanannya. Aku akan pulang hari ini, nanti sore aku akan menjemput Zeyan. Zeyan ingin tinggal bersama nenek dan ayahnya. Karena itu sebagai ibunya aku tidak akan egois, siang hari kalian dapat bersamanya, sedangkan malam hari bersamaku."
"Ibu! Bukan ini yang aku harapkan! Aku ingin kita berdua tinggal di sini. Kemudian merayunya agar bersedia menjadi pendonor." Batin Zeyan, menatap tajam ke arah ibunya.
Ibunya mungkin akan bekerja keras siang dan malam lagi di luar kota. Hanya untuk pengobatannya saja, tapi ketika ibunya pulang mungkin juga dirinya sudah terlebih dahulu tidak dapat membuka mata lagi. Karena itu, kesempatan hidup ini tidak akan disia-siakan olehnya. Fabian yang keji, harus menjadi budak anak istri, hingga bersedia mempertaruhkan nyawa untuk putra tunggalnya.
__ADS_1
"Ibu... tinggal disini...aku mohon..."
Deg!
Jurus terampuh, air mata buaya dari anak pinguin. Mata semua orang berkaca-kaca melihat dirinya menangis termasuk Sesilia yang mulai menitikkan air matanya.
"A...aku ingin keluarga yang lengkap. Teman-teman mengatakan aku anak haram. A...aku juga kesepian di rumah. Terkadang mereka mendorongku, karena katanya tidak akan ada ayah yang membelaku jika diriku diganggu."
Deg!
Jurus kedua untuk menusuk hati semua orang dengan pisau belati tidak terlihat. Cerita sedih dari anak teraniaya. Walaupun pada kenyataannya, dirinya yang sejatinya lebih sering membully anak-anak yang menghinanya.
Dekapan terasa, ibunya tidak tega sama sekali. Bahkan sang nenek juga ikut memeluknya. Adegan mengharukan ketika seorang anak dipeluk oleh ibu dan neneknya, hingga Fabian datang ingin melengkapi pelukan itu menjadi berempat.
"Jangan ambil kesempatan! Pria ular!" Bentak Sesilia membuat Fabian mundur.
Benar-benar tulus menangis untuk putranya walaupun 70 % modus untuk ikut-ikutan memeluk Sesilia bagaikan Teletubbies.
Hingga suasana lebih tenang. Mulyasari memulai pembicaraan."Sesilia apa pekerjaanmu?"
"Tidak tetap, karena aku buta dari hari kelulusanku SMU, jadi aku tidak kuliah. Lebih sering bekerja menjadi sales, salah satu produk yang berkeliling dari kota ke kota." Jawaban dari Sesilia tertunduk, dirinya tidak mungkin tinggal di tempat ini. Uangnya hampir habis, tapi bagaimana jika ini keinginan terakhir Zeyan?
"Fabian! Apa kamu tega membiarkan wanita yang masa depannya kamu hancurkan hidup lontang-lantung!?" Suara bentakan menggelegar dari Mulyasari.
"Tidak ibu!" Jawaban tegas dari Fabian.
"Lalu?" Mulyasari mengenyitkan keningnya, seperti rencana semalam yang disusunnya bersama Fabian.
"Sesilia akan bekerja menjadi asisten pribadiku. Mau tidak mau, karena jika ada penolakan aku akan berebut hak asuh Zeyan di pengadilan!" Ancaman dari sang Tiran, tidak memberikan pilihan sama sekali.
"Tidak bisa begitu! Aku akan mencari pekerjaan lain, agar lebih memiliki banyak waktu dengan Zeyan!" Sesilia mengeluarkan aura penuh intimidasi. Terlalu menyesakkan baginya mengingat pelecehan yang dilakukan Fabian 6 tahun lalu. Bagaimana jika orang ini mengulanginya? Tidak akan! Tidak boleh!
Ingin menunjukkan otoritas siapa disini yang lebih tinggi. Untuk apa berbuat lembut jika ada cara kasar? Pemuda itu mendekat, kemudian berbisik di telinga Sesilia."Aku dapat membawa Zeyan pergi dari negara ini sekarang juga. Jadi, berprilakulah seperti ibu yang baik, tetap ada di sampingku. Tidak peduli aku membuka kancing pakaianmu."
Sesilia membulatkan matanya, tangannya bertambah gemetar.
__ADS_1
Sementara Zeyan mengenyitkan keningnya."Tikus ini (Fabian) benar-benar tidak tahu cara merayu wanita. Apa benar dia ayahku? Aku bahkan dapat merayu puluhan wanita cantik hanya dengan terjatuh, tersenyum, dan menangis. Mereka akan segera menggendongku dan mengatakan mencintaiku. Mencium pipiku berkali-kali." batinnya, heran dengan kemampuan merayu ayahnya yang benar-benar buruk.