
Piknik? apa yang pertama kali difikirkan jika mendengar kata piknik? Seperti sesuatu yang indah, kedua orang itu meninggalkan Cakra dengan setumpuk pekerjaan yang tidak ada habisnya.
"Cucu perempuanku baru saja lahir. Tidak bisakah kalian berbelas kasih pada kakek tua ini!?" Gerutu Cakra, menatap pesan yang baru dikirimkan putrinya. Pesan yang berisikan gambar bayi mungil yang masih merah.
Terkadang waktu berlalu dengan cepat bukan? Seorang asisten yang telah mengabdi di perusahaan ini selama 27 tahun kini menjadi seorang kakek. Menyesali betapa br*ngseknya majikannya yang sekarang tidak mengijinkannya untuk pulang lebih awal, meninggalkan beberapa tanggung jawab yang menyulitkan padanya.
"Aku doakan putra mereka kesulitan mendapatkan jodoh..." Kutukan dari sang asisten pada anak majikannya.
*
Apa yang dilakukan dua orang itu saat ini? Baik! Kali ini dirinya akan menjadi polos seperti selembar kertas putih. Melupakan hal yang terjadi 6 tahun lalu, demi memberikan kesempatan pada Fabian. Segalanya akan diucapkannya hari ini, menceritakan tentang kondisi fisik putra mereka.
Tapi sebelum itu, salahkah dirinya yang sudah kalah ini untuk bersenang-senang? Dirinya ingin menikmati hari bersama Veronnya yang dulu.
Tunggu! Seperti apa sejatinya Veron dimata Sesilia hingga dirinya dapat menyukainya?
Ada kalanya pada awal pertemuan mereka kala hujan deras itu mengguyur. Pemuda itu menceritakan dunia dari sudut yang berbeda. Menceritakan tentang berbagai hal yang menjijikan. Tentang sepasang pegawai restauran yang terlalu banyak mengobrol sehingga tidak sengaja memblender cicak dalam watermelon juice, bahkan sempat mencicipi menggunakan long spoon, berkata sudah enak, hanya kurang gulanya saja. Setelah diberikan gula, diblender kembali. Dicicipi, dikatakan enak. Kala mereka menuangkannya untuk tamu, maka kulit cicak hancur itu terlihat. Pegawai restauran berlari muntah bagaikan orang yang tengah mengandung di usia muda.
Berbagai cerita klise kehidupan sehari-hari semacam itu. Tapi itu cukup untuk mengobati luka hatinya. Hari mereka bertemu, adalah hari natal. Tepat dimana hari kecelakaan itu terjadi, kecelakaan di tengah permainan piano yang membuat Sesilia tidak dapat melihat dunia.
Pria yang lucu, itulah Veron dimatanya. Seseorang yang membuatnya tertawa, tersenyum simpul di setiap kedatangannya. Mulai dari menabrak kaca etalase toko, hingga terjatuh akibat lantai yang licin. Jujur saja, kala dirinya buta, dalam bayangannya Veron tidak begitu rupawan, pria biasa yang sederhana. Hanya seorang pria humoris yang dicintainya. Berusaha melupakan, pria yang telah melecehkannya.
__ADS_1
Tidak disangka penyakit Zeyan akan membuat dirinya bertemu dengan Veron lagi. Bukan Veron, maksudnya Fabian, pemilik perusahaan besar berwajah rupawan. Dirinya tidak mengharapkan ini, hanya menginginkan cinta yang ringan.
Tapi itulah hati, tidak peduli pada sosok atau kekayaan, akan sulit untuk memilih. Kala hati itu sudah takluk oleh seseorang. Hanya kali ini saja kesempatan bagi Fabian, maka dirinya akan menghapus Veron maupun Fabian dari hatinya.
"Kita berangkat!" Ucap Fabian penuh semangat, ini baru pukul 3 sore. Segalanya telah dipersiapkan dengan baik. Lokasi proyek pembangunan pabrik baru memerlukan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Mungkin menjelang senja mereka baru akan sampai.
Menginjak pedal gasnya dalam-dalam.
"Fabian aku takut!" Teriak wanita itu.
"Takut? Seharusnya kamu takut pada apa yang dapat aku lakukan di acara piknik kita!" Ucap Fabian penuh semangat.
Sesilia hanya tertawa pada akhirnya, menikmati sensasi ketegangan ini. Jemari tangannya menyentuh jemari tangan Fabian. Mata mereka bertemu sesaat, kembali teralih. Bagaikan anak SMU yang baru pertama kali memiliki kekasih. Ada perasaan malu, berdebar dan canggung.
Perlahan matahari terbenam, tapi ini bukan acara uji nyali di tempat yang terkenal angker tersebut. Cahaya kecil perlahan beterbangan, kunang-kunang makhluk yang berusia pendek. Hidup hanya untuk menemukan cinta sejatinya, kemudian mati tidak memiliki takdir apapun.
"Ada satu! Kita akan memberikannya untuk Zeyan," Ucap Fabian menangkap seekor kunang-kunang menggunakan toples.
Namun, dengan cepat Sesilia merebutnya melepaskannya kembali."Hidup mereka pendek. Belum terlalu banyak melihat dunia, bahkan belum tentu dapat menemukan cinta sejatinya. Mereka akan mati... Zeyan tidak akan menyukainya."
"Mereka hanya hewan. Ini untuk putra kita. Zeyan akan menyukainya, jangan terlalu sensitif." Fabian tersenyum, membaringkan tubuhnya sendiri di atas tikar yang digelar di atas rumput.
__ADS_1
"Mungkin Zeyan akan iba, di umurnya yang pendek kunang-kunang harus menghabiskan waktu terkurung di toples. Terkadang menghargai hidup itu baik." Ucap Sesilia tersenyum kala seekor kunang-kunang hinggap di jemarinya. Bagaikan putranya yang mungkin akan berumur pendek.
"Berbaringlah, cuacanya cerah, jadi bintang akan terlihat." Ucap Fabian menepuk-nepuk sisi tikar yang kosong.
Wanita itu mulai ikut berbaring. Benar! Ada banyak rasi bintang di langit. Orang tuanya sudah meninggal, begitu juga dengan Triton. Jika Zeyan juga diambil, maka...
"Sesilia, aku mencintaimu dari pertama kali bertemu denganmu. Aku tahu ini kedengarannya gila. Tapi saat itu aku patah arah. Ayah yang mendidikku dengan keras, berteriak di pelukan dua orang wanita sekaligus. Aku melihatnya di ruang kerja dengan dua orang wanita. Itu gila bukan? Seseorang yang aku anggap setiap kalimatnya adalah kitab suci. Titah dari Tuhan yang tidak dapat aku bantah, bahkan jika dia memukuliku aku selalu menganggap itu memang karena kesalahanku. Dia melakukan hal yang lebih menjijikkan dari beberapa video dewasa yang pernah aku tonton." Fabian terkekeh, menyimpan luka hatinya.
Benar-benar luka yang dalam, didikan yang begitu keras padanya. Tidak ada waktu bermain sedikitpun, tamparan? Lebih dari itu. Ayahnya pernah menyulut rokok pada tangannya hanya karena rangkingnya anjlok dari peringkat satu umum, menjadi peringkat dua.
Seseorang yang terlihat paling benar. Seorang panutan yang kerap memukulinya, ternyata lebih keji dari iblis. Siapa yang akan dapat menahannya?
"Aku menggunakan narkotika hari itu untuk pertama kalinya. Keinginanku hanya satu, harus cepat mati. Ibuku terlalu sibuk mengurus adikku dan usahanya. Sedangkan aku adalah sasaran kemarahan dari ayahku," lanjutnya, wajahnya benar-benar berusaha tersenyum menahan segalanya.
"Saat aku berfikir untuk mati sebagai pecandu, aku bertemu denganmu. Hidup ternyata tidak terlalu buruk..." Kalimat tulus darinya kini menatap ke arah Sesilia.
"Aku menyukaimu, karena kamu lucu dan baik hati. Itu sudah cukup." Jawaban dari Sesilia yang dulu mengalami kebutaan. Tidak dapat jatuh cinta pada wajah dan kekayaan.
Jemari tangan mereka saling menggenggam. Sepasang wajah yang tersenyum saling memandang, mungkin merasa takluk untuk mengakui segalanya.
Apa ini saatnya menceritakan segalanya? Mungkin ini saatnya.
__ADS_1
"Fabian, ada yang ingin aku bicarakan. Ini tentang Zeyan..."