
Kekacauan yang terjadi sebelumnya, menbuat banyaknya masalah di perusahaan. Bahkan rapat pemegang saham sempat diadakan. Tidak semua waktu dapat dihabiskannya untuk mencari keberadaan Zeyan dan Sesilia. Dua orang yang bagikan menghilang tanpa jejak sama sekali.
Tumpukan dokumen baru saja di selesaikan olehnya. Berbagai makanan sehat dikonsumsinya bagaikan kelinci yang memakan sayur dan buah-buahan, anak itu melakukan tes darah diam-diam itulah informasi yang didapatkan olehnya dari detektif.
Saat tes DNA dilakukan olehnya, sampel darah juga di tes untuk kecocokan donor. Menghela napas kasar, dirinya dapat menyelamatkan putranya. Andai saja Sesilia dan Zeyan berada di tempat ini.
Tidak dapat mengatakan apapun lagi. Hingga seseorang menghubunginya, seseorang dari pegawai pemerintah yang merupakan relasi ibunya.
"Tuan muda Fabian?" Ucap seseorang di seberang sana memastikan.
"Ada apa?" Fabian terdiam sejenak memijit pelipisnya sendiri. Dirinya sudah bersiap untuk kembali melakukan pencarian.
"Istri saya mengatakan, Nyonya Mulyasari, kehilangan cucunya. Kalau tidak salah namanya Zeyan?" tanyanya memastikan.
"Benar! Apa kamu punya informasi tentang putraku?" Fabian menghela napas kasar, mulai bangkit dari tempat duduknya. Walaupun kecil kemungkinan dirinya ingin memiliki harapan.
"Ada pengajuan untuk pembuatan paspor. Aku akan mengirimkan fotonya." Ucap seseorang di seberang sana. Tindakan yang ilegal sebenarnya, mungkin karena hubungan relasi yang cukup lama dengan Mulyasari orang ini membantunya.
Segera setelah pesan masuk dirinya menelan ludah kasar. Ini benar-benar Zeyan, putranya. Pada akhirnya ada sedikit jejak yang didapatkannya. Membuat paspor, itu artinya Zeyan dan Sesilia akan segera pergi.
"Iya, itu putraku. Berikan informasi apa saja yang kamu ketahui. Aku akan menjamin keamananmu," pintanya.
*
Segalanya harus dilakukan dengan rapi dan penuh kesabaran. Tidak menelan waktu sehari, atau dua hari. Pada akhirnya detektif yang menunggu di kantor imigrasi, menemukan seseorang yang mengambil paspor atas nama Zeyan tersebut.
Seorang pria paruh baya, dirinya mengambil gambarnya dari jauh.
Tidak menyadari senyuman menyungging di wajah Asnee, menaiki mobilnya merasa dirinya diikuti. Melajukan mobilnya dalam kecepatan normal. Melewati area hutan dan persawahan, mobil sang detektif tetap mengikutinya namun menjaga jarak.
Wajah yang tenang bagaikan malaikat, di usianya yang tidak lagi muda. Menurun dari siapa sifat Triton sejatinya?
Sang detektif mengenyitkan keningnya, menatap area jalanan yang semakin sepi saja. Ada yang tidak beres dengan orang ini, ada yang tidak beres dengan mobil yang diikutinya.
__ADS_1
Dan benar saja.
Kriet!
Mobil didepannya berhenti, bahkan berputar arah ke arahnya.
"A...ada apa ini?" Gumam sang detektif tidak mengerti.
Ini masih siang hari, tidak ada siapa pun di lokasi jalanan yang menembus hutan tersebut.
Bagaikan orang kesetanan, wajah Asnee terlihat tersenyum, berbalik arah menginjak pedal gas mobilnya.
"Dia orang gila!" Teriak sang detektif, melajukan mobilnya mundur, sementara Asnee terus melajukan mobilnya, hendak menabrak sang detektif.
Brak!
Brak!
Brak!
Lebih gila lagi, senjata api laras panjang dikeluarkan Asnee yang baru keluar dari mobilnya tersebut. Tanpa ekspresi dan rasa bersalah, keluar dari mobilnya yang sedikit ringsek.
"A...apa yang kamu lakukan..." Ucap sang detektif ketakutan. Tapi tidak ada jawaban.
Dor!
Dor!
Dua tembakan bersarang di tubuh sang detektif. Darah mengalir, orang ini benar-benar gila. Mungkin lebih mengerikan dibandingkan dengan Chan.
Prang!
Kaca jendela mobil ditendangnya hingga pecah."Aku tidak membunuhmu, bukan berarti aku orang yang murah hati. Kamu hanya sebagai penyampai pesan. Katakan pada majikanmu, jangan menggangu putriku lagi. Jika dia mencoba mengganggu keluargaku, aku akan mencincang mayatnya."
__ADS_1
Pria yang berjalan kembali ke mobilnya sengaja hanya menembak kaki dan tangan kiri sang detektif. Setidaknya dapat memberikan peringatan pada Fabian nantinya.
Pria paruh baya yang berjalan menuju mobilnya. Kembali meletakkan senjata laras panjangnya ke dalam kotak khusus. Senyuman menyungging di wajahnya, untuk pertama kalinya Flo memberikan kebebasan padanya melakukan apapun.
Masa muda dimana dirinya dapat berbuat semaunya. Bukan mafia, tapi ketua mafia pun takut pada dirinya yang hanya seorang pebisnis. Hingga pada akhirnya menikah dengan Flo, barulah segalanya berubah perlahan.
Tidak ingin wanita yang itu marah kala dirinya mengancam membunuh orang lain. Flo yang menginginkan tipikal suami pria baik-baik membuat dirinya sepenuhnya melupakan sensasi membahayakan, mendebarkan kala membuat ketua mafia bertekuk lutut di bawah telapak kakinya.
Tapi kali ini, istrinya tersayang mengatakan dengan serius padanya. Lakukan apa saja untuk melindungi putri dan cucunya.
Senyuman menyungging di wajah Asnee, masih membawa paspor dan visa atas nama cucunya tersayang. Sekarang tinggal menunggu kondisi kesehatan Zeyan stabil untuk perjalanan jauh.
Tangannya yang memegang setir mobil masih gemetar hingga saat ini. Bau darah tercium, wajah ketakutan itu, ini menyenangkan. Tapi sayangnya dirinya akan tetap menjadi suami yang baik setelah ini. Red flag? Yandere? Mungkin itulah istilah dirinya di masa muda. Yang bahkan tidak membiarkan Flo bertemu satu orang pria pun setelah mereka menikah.
Segalanya baru berubah setelah kelahiran Triton. Dirinya mulai lebih lembut dan mengurangi rasa posesifnya pada Flo. Mengerti sekarang bagaimana mereka dapat bertengkar? Asnee terkadang terlalu mengekang, egois dan hanya ingin Flo menjadi miliknya. Segalanya yang direnungkan setelah mereka berpisah beberapa bulan. Kembali menjalin keluarga bahagia, mencari keberadaan kedua anak mereka yang menghilang.
Kini tugas dari istrinya adalah melindungi Sesilia dan Zeyan dengan cara apapun. Pria paruh baya yang menggigit bagian bawah bibirnya sendiri. Bagaimana jika dirinya bertemu dengan Fabian nanti? Senyuman menyungging di wajahnya.
Pria yang pernah mengunci Flo selama seminggu di dalam kamar setelah malam pertama, dulu. Memang butuh perjuangan bagi Flo merubah sifat suaminya. Tapi inilah Asnee setelah dipasangkan tali pengekang oleh yang mulia istri. Suami yang sabar dan baik hati, penyayang. Tapi dibalik itu tetap saja, pria yang bahkan ditakuti oleh ketua mafia di masa mudanya.
Dengan mobil yang penyok pria paruh baya itu memarkirkan mobilnya di depan area pertokoan. Membelikan segalanya untuk cucunya tercinta, anak perempuannya yang cantik, calon menantu idamannya seorang dokter ramah.
Inilah keluarga impian Asnee. Tidak perlu yang muluk-muluk, dirinya adalah predator yang bersembunyi di kulit rusa.
Matanya menelisik, menilai dan memastikan. Ada cincin yang membuatnya tertarik. Senyuman menyungging di wajahnya."Aku ingin family ring, ada lima dengan ukuran yang berbeda?" Ucap pria paruh baya tampan nan ramah itu, menunjuk salah satu desain.
"Iya, akan kami siapkan dalam dua hari, deposit 50% dari total harga pemesanan." Pegawai toko perhiasan menjelaskan.
Asnee tersenyum, memberikan uang lebih sekitar 200.000."Untuk anak anda..." ucapnya tersenyum.
"Terimakasih!" Ucap pegawai toko perhiasan dengan mata berbinar-binar."Maaf pak, boleh saya bertanya, itu mobil bapak kenapa bisa penyok ya? Apa terjadi kecelakaan?"
"Ada kelinci yang menyebrang jalan. Saya menghindarinya, jadi menabrak pohon." Pria baik hati itu tersenyum, membuat pegawai toko perhiasan kagum dengan kebaikan orang ini.
__ADS_1
Sungguh ironis, menabrakkan mobil mewah ke pohon, hanya karena seekor kelinci kecil yang menyebrang jalan.