
Segalanya sudah dipersiapkan olehnya. Seorang anak yang membawa ransel besar. Dirinya sudah merasa cukup sehat untuk melakukan segalanya.
Mengendap-endap berjalan keluar dari villa milik Asnee. Senyuman menyungging di wajahnya. Seperti dulu, dirinya akan menjalankan misi menghadapi bos utama.
Kali ini sama sekali tidak akan bersembunyi lagi, seperti dahulu. Anak kecil yang tengah memakai pakaian resmi dengan celana pendek selutut, jas kemeja serta dasi kupu-kupu berwarna hitam itu benar-benar terlihat lucu.
Tidak memiliki peralatan atau apapun, hanya membawa salah satu koleksi senjata api milik Asnee. Entah kenapa firasat buruknya terasa, dirinya harus segera mencapai lokasi.
Dengan kaki kecilnya anak berusia lima tahun itu menaiki sepeda dengan roda bantu. Maaf salah! Dia berjalan melewati sepeda tersebut. Telah memesan taksi online, dengan dalih menggunakan nama ayahnya.
Segala rencana tersusun dengan baik, mencari celah Asnee tidak ada di rumah. Sedangkan memberikan obat tidur pada Flo, pengasuh, serta security yang berjaga. Bagaimana bisa? Tentu saja tidak akan ada yang dapat menolak kala anak berambut pirang, dengan tingkat kemanisan tingkat tinggi itu menyuguhkan jus buatan sendiri.
Semuanya berkata jus buatannya manis. Semanis dirinya yang kini didalam mobil. Meninggalkan seisi villa yang tertidur.
Tidak banyak pembicaraan dengan sang driver taksi online. Pria yang sesekali menguap, sembari menyetir. Mungkin sudah cukup lelah mengantar penumpang hari ini.
Matahari mulai terbenam, dirinya sebentar lagi akan sampai pada medan perang sesungguhnya.
Hingga kala dirinya benar-benar sampai pada deretan gedung kosong. Tempat apa ini sebenarnya? Ini merupakan kompleks rumah susun terbengkalai. Tidak ada satu orangpun yang tinggal di tempat ini. Lokasi yang menjadi penyebab utamanya.
Senter dinyalakan olehnya. Beberapa mobil melintas ke area parkir bawah tanah. Kala itulah dirinya bersembunyi di salah satu sendi bangunan.
Matanya menatap seorang pemuda yang diseret paksa. Pemuda yang tertunduk dibawa entah kemana.
Mengamati dan merekam segalanya. Mobil lain berhenti, kali ini membawa seorang wanita dalam pengaruh obat bius. Pria yang membawanya mendapatkan sejumlah uang.
__ADS_1
Bisnis yang masih berjalan. Dirinya kembali berjalan lebih dalam kedalam area rusun terbengkalai yang luas.
Suara lirih seseorang terdengar. Satu? Tidak, diberbagai rumah kecil itu terdengar suara manusia putus asa. Ini lebih besar dari sebelumnya, sindikat yang akan sulit terendus. Apa ada oknum penegak hukum yang terlibat? Entahlah, dirinya tidak tahu. Terlebih lagi mengingat hal yang dialaminya sebagai Triton. Kala ada yang memberikan informasi tentang keberadaannya. Apa ada pengkhianat diantara para penegak hukum yang hadir saat itu?
Zeyan melangkah ke atap gedung pencakar langit. Sesekali bersembunyi kala ada penjaga yang lewat. Pertama-tama yang dilakukannya adalah meretas CCTV. Mengingat di tempat ini terlalu banyak kamera. Tidak dapat bergerak leluasa.
Entah berapa anak tangga yang dinaikinya akibat lift yang rusak. Tapi bos terakhir harus dikalahkannya bukan? Agar dirinya dapat mengetahui mengapa dapat terlahir dengan ingatan yang sama dengan kehidupan sebelumnya.
Laptop kesayangannya dibuka olehnya. Laptop dengan motif angry bird. WIFI juga mulai dibobol olehnya. Kali ini memakan Oreo yang diberikan seseorang, katanya dia mendapatkan promo beli dua gratis satu. Jadi satu bungkusnya diberikan pada Zeyan.
Mulutnya mengunyah menahan kantuk. Pada akhirnya jaringan CCTV tempat ini berhasil di teras olehnya. Memutar video berulang dengan rekaman waktu yang seolah berbeda dilakukannya. Tidak ingin pengawal Chan yang mengawasi CCTV curiga.
Memincingkan matanya, menemukan tempat Chan berada saat ini. Wajahnya tersenyum, ini akan segera berakhir, menatap bagaimana pria itu tengah hendak mengeksekusi seseorang.
*
Kursi kayu dipukulkan pada punggungnya. Tulang bahunya mungkin patah. Pemuda itu tetap bungkam, tubuhnya terjatuh di atas ubin yang dingin.
"Pergi kemana putriku!?" Bentak Chan pada Aster.
"Bi... biarkan nona pergi. Bagaimana pun nona putri anda. Biarkan dia bahagia..." pintanya berusaha tersenyum. Menahan sakit di sekujur tubuhnya. Orang ini tidak boleh menemukan Anjani kembali, itulah yang ada dalam fikirannya.
Tidak boleh kembali mengalami hidup yang menyakitkan.
"Membiarkannya pergi? Kamu tau apa!?" Bentak Chan, menendang wajah Aster.
__ADS_1
"Dia bukan putriku. Istriku berselingkuh dengan pria lain. Aku memaafkannya, benar-benar tulus memaafkannya. Tapi kamu tau? Wanita yang aku cintai, mati karena melahirkan anak sialan itu! Bahkan di detik-detik terakhirnya, mengatakan dia tidak mencintaiku. Hanya mencintai selingkuhannya! Pria yang juga sudah beristri!" Suara bentakan Chan menggelegar, air matanya mengalir. Sebuah perasaan tulus yang tidak berbalas, membuat hatinya mati.
"Lebih dari itu, pria itu adalah pemilik perusahaan tempatku bekerja. Setelah kematian istriku, dia memecatku tanpa alasan. Bahkan sempat meludahi dan memukuliku, mengatakan akulah yang tidak becus menjaga istriku, hingga wanita itu mati. Gila bukan? Sebuah kekuasaan dapat membuat seseorang memutar balikkan kesalahan. Seseorang yang berselingkuh menjadi mulia, sedangkan aku yang menjaga istriku berserta anak dalam kandungannya, dianggap suami tidak becus." Chan mulai tertawa.
"Ayah mertuaku mendatangiku, mengatakan akan membalas atas kematian putrinya padaku. Balas dendam apa!? Aku memperlakukannya dengan baik... Aku mencintainya. Hanya karena aku pegawai rendah, bukan berarti aku pantas dijadikan kambing hitam." Lanjutnya mengambil cambuk.
Srak!
Srak!
Seluruh tubuhnya terasa perih, manakala air garam disiramkan oleh salah seorang pengawal Chan.
"Aku terlalu banyak bicara. Intinya, saat akan lahir aku berusaha mencintainya. Saat dia lahir perasaanku pada anak itu memudar. Karena sebelum kematian ibunya mengatakan tetap mencintai pria lain. Aku murka pada anak itu, sebab kakek dan ayah kandungnya membunuh ibuku yang sudah renta. Sebagai balas dendam atas kematian istriku yang katanya tidak mendapatkan perawatan semestinya." Kalimat demi kalimat yang diucapkan Chan membuat pria itu tertegun. Aster terdiam, wajahnya tersenyum.
"Anjani mempunyai banyak kesempatan untuk membunuh anda. Tapi dia tidak melakukannya. Karena masih menganggap anda ayah kandungnya. Jika anda memiliki belas kasihan, biarkan dia bahagia." Ini mungkin akan menjadi kalimat terakhir darinya. Kala pria itu meraih pedang.
Srak!
Tubuhnya yang telah roboh di lantai ditikam. Darah mengalir di atas lantai keramik. Pemuda itu tersenyum tatapan matanya kosong. Menahan waktu untuk Anjani pergi? Ini baru 20 jam. Tapi nyawanya telah berkahir sampai disini.
"Aku menginginkan kekuasaan. Agar tidak ada yang merendahkan dan menyalahkanku lagi. Pria itu, mertuaku, mereka sudah membusuk dalam tanah. Karena itu Anjani harus menebus segalanya..." Kalimat terakhir dari Chan, segera setelahnya segalanya tidak terlihat lagi.
*
Angin berhembus kala kaca jendela mobil terbuka. Air matanya mengalir."Aku ingin kembali Aster tidak boleh mati!" teriaknya pada pria di sampingnya.
__ADS_1
"Jangan menyia-nyiakan pengorbanannya. Di...dia akan tersinggung jika nyawanya berakhir sia-sia." Kalimat yang diucapkan pemuda yang tengah menyetir dengan air mata mengalir.
"A...aku mencintainya! Biar aku saja yang mati! Tidak apa-apa jika aku menjadi jahat dan dilecehkan banyak pria. Asalkan dia hidup! Antar aku kembali!" Teriakan wanita itu lagi dalam tangisan, rasa sakit yang benar-benar menghujam dadanya. Merindukan pria itu, seseorang yang selalu mengikuti langkahnya.