
Fabian menghela napas kasar berusaha tersenyum. Dirinya harus berusaha menyusun rencana terlebih dahulu. Chan sudah datang, berarti akan ada hal buruk yang terjadi.
"Kami akan berangkat ke kantor sekarang." Ucap Fabian sedikit melirik pada Sesilia.
"Sayang, ibu mau berangkat. Ingat jangan nakal." Wanita yang mengecup kening Zeyan.
"Ini nasehat untukmu. Perhatikan Zeyan dengan baik, dia berprilaku tidak seperti anak berusia lima tahun pada umumnya, mungkin karena lingkungannya yang dulu penuh dengan kekerasan. Mulai sekarang aku akan mencarikan seorang pengasuh untuknya. Bagaimanapun dia satu-satunya penerus Fabian." Ucap Mulyasari protektif, mendekap tubuh Zeyan membayangkan bagaimana kehidupan keras cucunya. Jika... jikapun Fabian tidak berakhir dengan Sesilia. Cucunya harus tetap berada bersamanya.
Sesilia tertunduk, bibirnya bergetar, wajahnya tetap tersenyum."Aku ingin cuti hari ini untuk menghabiskan waktu bersama Zeyan."
"Tidak perlu, ibu dan Jesseline yang akan bersamanya nanti." Tegas Mulyasari tiba-tiba, mungkin menganggap prilaku kasar Zeyan akibat kesalahan didik dari Sesilia.
Wajah putih pucat itu tersenyum. Turun dari gendongan Mulyasari kemudian memeluk tubuh ibunya sedikit berbisik."Ibu, jika mereka tidak menganggap keberadaan ibu. Dan ayah masih tetap ragu untuk menikah. Kita akan pergi dari sini. Aku tetap menyayangi ibu, bagaimana pun cara mereka untuk menjauhkan kita sementara."
Sesilia tersenyum percaya pada ucapan dan cinta tulus putranya. Matanya sedikit melirik ke arah Fabian yang terlihat murung memikirkan sesuatu. Sedangkan Mulyasari, yang semula menyukainya kini menatap sinis ke arahnya.
Benar, apa yang dikatakan putranya. Menutup mulut tentang penyakit Zeyan, menguji kasih sayang dari keluarga ini. Dapat dibayangkan olehnya apa yang akan terjadi jika dirinya dan Zeyan merengek tentang donor. Tidak akan ada yang mendengarkan, Fabian tetap akan acuh, Mulyasari akan menjauhi cucu yang dapat mengancam nyawa putranya.
Ada saatnya mereka akan pergi. Anak dan ibu yang memang harus berkemas, mungkin memberikan kesempatan pada sang ayah dan keluarganya beberapa hari lagi. Untuk menjadi benar-benar tulus mencintai mereka.
*
Kala dirinya pergi pada akhirnya bersama Fabian. Menaiki mobil yang melaju. Sang anak yang berlari keluar melambaikan tangan dengan cerianya.
Anak itu kembali melangkah ke dalam, masih mengenakan seragam taman kanak-kanaknya.
__ADS_1
"Zeyan nenek antar ya?" Ucap sang nenek hendak menggendong cucunya. Tapi kali ini anak itu menghindar, dirinya tidak ingin lagi menjadi putra mahkota di tempat mengerikan ini. Tempat dimana semua orang tidak dapat menghargai ibunya. Mereka yang bersalah, tapi kenapa harus ibunya yang menanggung segalanya?
Apa kesalahan Sesilia jika Fabian meninggalkannya setelah melecehkannya? Apa kesalahan Sesilia jika keluarga ini masih ketakutan dengan pengaruh Chan? Sesilia sudah memberikan kesempatan. Ini juga salahnya, karena memiliki pemikiran jika dapat hidup dengan mendapatkan sumsum tulang belakang Fabian. Sesilia tidak akan bahagia berada di tempat ini.
"Zeyan?" Mulyasari mengenyitkan keningnya merasa aneh dengan prilaku cucunya.
"IQ-ku lebih tinggi daripada yang nenek kira. Kalimat nenek tadi, aku mengerti maksudnya. Nenek ingin memisahkanku dengan ibu perlahan? Berharap aku terbiasa dengan kehadiran pengasuh?" Zeyan tersenyum, kali ini anak berusia lima tahun itu tertawa dengan air mata yang mengalir. Menyadari tidak akan mendapatkan cinta dari rumah ini. Ini bukan rumah baginya dan Sesilia, segalanya hanya ilusi jika ibunya akan bahagia.
"Bu...bukan begitu Zeyan. Nenek hanya---" Kalimat sang nenek disela.
"Secara hukum usiaku masih 5 tahun, jadi hanya dapat berada dalam pengasuhan ibuku. Selain itu ayah dan ibu tidak menikah, meskipun memiliki hubungan darah. Ayah tidak akan dapat menyentuhku, kecuali dia membunuh ibuku. Tapi jika ibuku mati, maka aku akan mati bersamanya." Kalimat tidak logis dari anak seusia itu. Mulyasari bertambah gemetar menatap ke arah cucunya.
"Zeyan bukan itu maksud nenek," ucapnya memberi alasan.
Senyuman menyungging di wajah kecil itu."Aku sudah memesan taksi online. Membayarnya sendiri, tanpa uang dari nenek." Kalimat dari sang anak melangkah pergi, meninggalkan gerbang rumah.
Terdiam sejenak, mungkin ini karena pemikiran serakahnya. Tidak ada seorang ibu yang rela dipisahkan dengan anak yang dibesarkan susah payah olehnya."Maaf..." hanya itulah yang diucapkan sang nenek. Kalimat yang tidak didengar oleh Sesilia maupun Zeyan. Sebuah penyesalan hanya karena pemikiran sesaat, hanya karena ini terasa sulit.
Putranya yang menyebabkan Sesilia harus membesarkan Zeyan seorang diri. Bukan kesalahan Sesilia juga jika tidak dapat bersama dengan Fabian. Tapi terfikir untuk memisahkan ibu dan anak itu. Apa yang dirinya lakukan?
Rasa prasangka dan curiga dalam hati Zeyan saat ini. Begitu juga dalam fikiran Sesilia. Keluarga ini tidak dapat dimanfaatkan. Bagaikan bergantung di akar lapuk.
"Cepat atau lambat aku akan mati. Mungkin lebih baik memberikan Sesilia pada Ansee dan Flo..." gumam Zeyan merasakan suhu tubuhnya yang kembali naik. Akibat daya tahan tubuh yang lemah.
*
__ADS_1
Suara jemari tangan yang menari di atas keyboard terdengar. Kesempatan? Itulah yang tetap akan diberikan pada Sesilia beberapa hari ini. Apa dia mencintai Fabian? Tentu saja, hanya sebuah cinta yang egois. Hanya sebatas itu saja.
Tapi mungkin saja pemuda itu akan mendengarkannya hari ini. Mata Sesilia menelisik mengamati jadwal hari ini. Ada sedikit kelonggaran jika besok bekerja lembur.
"Fabian, bisa kita berkencan hari ini? Sambil meninjau proyek yang akan dibangun," tawarannya penuh senyuman.
"Berkencan?" Fabian mengenyitkan keningnya, membenturkan kepalanya ke meja berkali-kali, untuk memastikan ini bukan mimpi atau imajinasinya saja.
"Kamu sedang apa?" Tanya Sesilia mendekat, sedikit membungkuk mengamatinya. Wajahnya tersenyum benar-benar bagian malaikat.
"Sedang terbang ke surga," gumamnya dengan otak yang masih di restart. Bagikan terkena virus yang sulit hilang dari otaknya kala menatap ke arah Sesilia.
Sesilia tertawa, benar-benar seperti sosok yang dulu. Perlahan dirinya bangkit tersenyum lembut."Berkencan? Jadi apa status kita saat ini?" tanyanya.
"Kekasih..." Jawaban dari wanita itu penuh senyuman.
Rasanya bagaikan memiliki dunia bukan? Makhluk lainnya hanya mengontrak jadi jangan fikirkan mereka. Fabian tersenyum lembut kemudian mengangkat tubuh Sesilia lebih tinggi dari tubuhnya, mendekap pinggangnya. Kemudian berputar seperti anak kecil.
"Fabian apa yang kamu lakukan?" Sesilia meronta.
"Kekasih? Kamu mempermainkanku. Aku bisa gila dengan satu kata itu." Fabian tertawa kecil menurunkan tubuhnya. Kali ini hanya senyuman dalam tawa, menatap wajah itu lekat-lekat.
"Aku hanya orang yang kotor. Boneka dari ayahku, walaupun sekarang bukan boneka lagi. Tapi tubuhku tetap dikendalikan oleh orang-orang yang berkuasa. Beri aku waktu untuk dapat terlepas dan memilikimu sepenuhnya." Pinta Fabian.
"Kita menikah?" Kalimat itu lagi yang diucapkan Sesilia.
__ADS_1
Fabian hanya menggeleng."Belum saatnya..." ucapnya memejamkan mata mencium bibir wanita ini.
Wanita yang menahan debaran dalam hatinya. Rasa cinta itu masih ada."Tapi aku dan Zeyan tidak dapat menunggu lagi..." batinnya. Ingin menceritakan tentang penyakit putra mereka malam ini.