Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Tidak Terlupakan


__ADS_3

Anak itu telah tertidur, mungkin efek dari obat yang disuntikkan sang dokter pada jarum infusnya."Kalian pulang saja, kamu kurang tidur. Fabian juga, baru saja menjalani operasi. Biar ibu dan Jesseline yang berjaga malam ini."


"Aku akan tinggal..." Sesilia tersenyum masih mencemaskan putranya.


"Aku tidak akan melarikan Zeyan! Lebih baik kamu pulang lalu tidur!" Tegas Mulyasari pada akhirnya.


Wanita yang menghela napas kasar, mengecup kening putranya yang masih tertidur hingga kini. Berjalan meninggalkan putranya antara rela dan tidak.


"Kalau ada apa-apa, hubungi aku." Sesilia mengenyitkan keningnya masih tidak yakin untuk pergi.


"Iya! Asnee dan Flo akan mengabari kalau kami membawa Zeyan kabur!" Candaan dari Jesseline menertawakan Sesilia. Mengingat Asnee dan Flo memang tengah membeli beberapa keperluan lain.


Cucu kesayangan? Itulah istilah untuk Zeyan saat ini. Anak yang dimanjakan, tapi sejatinya tidak manja, seorang anak badas yang berpura-pura manja.


*


Tidak ada pembicaraan antara mereka, segalanya terasa canggung. Lebih tepatnya terasa asing. Mobil masih melaju, menghela napas berkali-kali, pemuda itu memulai pembicaraan, menepikan kendaraannya.


"Aku ingin bicara..." ucapnya.


Tidak ada jawaban dari Sesilia, wanita itu hanya melihat padanya seperti ingin mendengarkan apa yang akan diucapkan olehnya.


"Aku minta maaf..." Hanya itulah kalimat yang kembali difikiran Fabian. Bingung harus mengatakan apa, kesalahannya pada Sesilia jika ditumpuk mungkin akan setinggi-tingginya situs gunung Padang.


"Kamu sudah minta maaf, dan aku sudah memaafkan." Sesilia mengucapkannya penuh senyuman. Tapi jujur saja ini menjadi semakin canggung.


"Kita bisa seperti dulu...em... maksudku kekasih... calon istri?" Fabian mengenyitkan keningnya, berusaha menetralkan detak jantungnya.


"Aku berusaha merayumu agar kamu bersedia menjadi donor untuk Zeyan. Ini jujur!" Sesilia tertawa kecil tanpa dosa. Tidakkah dirinya menyadari hati pemuda di hadapannya telah retak menjadi dua?

__ADS_1


"Kamu cinta pertamaku!" Ungkapan Fabian lagi.


"Cinta pertamaku adalah Triton." Sesilia kembali tersenyum tanpa dosa. Dirinya jujur cinta pertamanya adalah kakaknya, bagaikan anak perempuan yang menjadikan ayahnya sebagai cinta pertama. Panutan untuk memilih pasangan.


Pria yang tertunduk, banyak yang berkata sifat Derrick lebih mirip dengan Triton. Ini beban berat baginya, sudah kalah satu langkah.


"Yang kedua?" tanyanya penuh harap.


Sesilia terdiam sejenak, senyuman memudar di wajahnya."Aku sempat menyukai Veron sebelum dia melecehkanku."


Pedang tidak terlihat bagaikan menancap di dada Fabian. Ini gila! Kesalahannya diungkapkan satu persatu.


"Ta...tapi kamu mencintaiku sebagai ayah dari Zeyan kan?" Senjata terakhir, jika ini gagal dirinya mampus.


"Sempat begitu menyukaimu. Tapi setelah kamu mengacuhkan kami, menggantungkan kami dengan status tidak jelas. Aku berusaha untuk move on..." Kalimat jujur dari wanita berwajah rupawan itu, membuat sang pemuda ingin menangis rasanya.


"Tapi... sudah menyelamatkan Zeyan... terimakasih..." Hanya itulah yang diucapkan Sesilia, memeluk tubuh Fabian. Hal yang membuat pemuda itu terpaku."Jika tidak ada kamu, putraku akan mati... terimakasih..."


Jemari tangannya terangkat ingin menghapus air mata itu. Namun, hal yang aneh Sesilia menyentuh dada kirinya. Bagaikan merasakan detak jantungnya yang cepat.


"Sama sepertiku detak jantungmu juga tidak teratur..." Ucap Sesilia tertawa kecil, merasakan degup jantung Fabian menggunakan telapak tangannya.


Menjadi teman bertahun-tahun dengan nama Veron. Apa mereka merindukan masa-masa itu?


"Pejamkan matamu." Pinta Fabian, tersenyum lembut.


Wanita itu memejamkan matanya, jemari tangannya digenggam oleh Fabian."Musim semi, ada sebuah rumah dengan pohon oak di depannya. Bunga mawar hijau bagaikan sayuran kubis, ditambah beberapa tanaman bunga Krisan. Disanalah kita menggelar alas duduk kecil, berbagi makanan dan minuman. Melihat ke arah awan, bentuknya seperti permen kapas. Mendengarkan lagu yang kita sukai---" Kalimat Fabian terjeda sejenak. Itulah yang sering diucapkannya bagaikan sebuah mimpi indah pada seorang gadis buta bertahun-tahun lalu.


Kalimat yang seharusnya terhenti kini berlanjut."Putra kita berlari membawa hasil lukisannya. Setiap musim yang kita lalui bersama hingga musim gugur. Bahkan jika musim dingin tiba, kita akan menghangatkan diri dihadapan perapian. Itulah impianku---"

__ADS_1


Tubuh yang mendekat secara alami, mengecup bibir wanita yang tengah memejamkan matanya itu. Kecupan yang bersambut, ciuman yang terasa lebih dalam.


Wanita gila yang memaafkan pria ini berkali-kali. Apa ada yang sedalam perasaannya?


Pria gila yang mencintai seorang wanita buta, tidak dapat mengalihkannya pandangannya. Bahkan kala sudah banyak waktu yang berlalu. Apa ada yang sedalam cintanya?


"Ki...kita bisa bersama..." Fabian tertawa kecil, menatap mata Sesilia ya mulai terbuka.


Jemari tangannya menyentuh wajah itu. Mengusap bibirnya."Aku tidak akan mengulangi kesalahanku lagi. Ingin memilikimu, aku salah melecehkanmu hanya untuk memastikan kamu hanya akan menjadi milikku. Karena itu menikahlah denganku."


Sesilia terdiam sejenak, hanya tersenyum. Kembali menggerakkan bibirnya di atas bibir Fabian. Bagaikan ini adalah jawaban bersedia. Pinggang wanita itu direngkuhnya, bukan karena fisik sejatinya. Tapi kenyamanan kala setia kata yang berada di bibir itu berucap.


Jika ini difikirkan lebih dewasa, ini merupakan satu-satunya jalan. Dua orang yang sudah terpisah berulang kali, wanita yang berulang kali dilukai, bersama pria obsesif yang mengejar jejaknya.


"Hentikan..." Pinta Fabian tidak ingin melanjutkan ciumannya. Mata Sesilia menatap ke arahnya, seolah-olah bertanya-tanya kenapa?


"Aku ingin melakukannya lagi setelah kita menikah. Dulu aku salah, memilikimu tanpa menikahimu. Aku ingin menjadi lebih baik untukmu..." lanjut Fabian.


Sesilia hanya tersenyum simpul. Tertawa kecil."Menjadi istri yang baik, aku berjanji. Tolong cintai kami..." pinta Sesilia.


Bicara? Sesuatu yang mungkin lebih baik daripada sentuhan fisik. Dua orang yang pada akhirnya menghabiskan malam di dalam mobil. Tapi bukan mobil bergoyang bagaikan mendengarkan orkestra dangdut. Mobil ini tidak bergoyang sama sekali.


Karena kedua penghuninya hanya mendengarkan musik dan menceritakan apa saja yang mereka alami tahun demi tahun ini. Tanpa ada yang dilebih-lebihkan atau dikurangi. Segalanya menjadi lebih baik, terkadang kala matahari terbit. Fabian hanya menatapnya menyadari dirinya dapat hidup bahagia kini. Tanpa cambukan ayahnya, atau menyimpan rahasia perselingkuhan sang ayah.


Jika keajaiban ini tidak muncul. Mungkin saja dirinya mati di hotel atau pinggir jalan, akibat overdosis. Dirinya sudah muak dengan hidup ini, tapi impiannya memiliki rumah kecil, dengan keluarga yang sederhana? Impian indah yang diwujudkan dalam kata maaf...


"Pernikahan akan diadakan beberapa hari lagi. Setelah Zeyan lebih sehat. Pernikahan sederhana tidak akan banyak undangan yang hadir. Agar putra kita tidak kelelahan." Itulah saran darinya kala cahaya matahari pagi telah memasuki jendela mobil.


"Yakin aku masih mencintaimu?" candaan dari Sesilia.

__ADS_1


"Tentu saja, karena aku tidak terlupakan..." Jawaban dari Fabian mengecup pipinya singkat.


__ADS_2