
...Hamparan air bagaikan kristal terkena cahaya matahari. Itulah yang aku lihat dalam dirimu....
...Bagaikan angin dan daun, itulah kita....
...Cangkang? Itulah aku yang ingin selalu melindungimu. Tidak peduli pada apapun....
...Terikat dengan hubungan darah, saling menjaga tidak ada benci yang tersisa. Hanya sebuah kata maaf......
...Dari kakakmu......
Triton.
POV Triton.
Segalanya berawal ketika aku membawanya pergi. Dia adikku Sesilia, benar-benar cantik bagaikan malaikat. Begitulah kami sering disebut.
Dititipkan pada paman yang tinggal di negara ini. Tapi ada yang aneh dengan paman kami, dia sering mencoba menyentuh adikku, karena itu aku merasa ada yang tidak benar dengannya.
Karena itu juga saat orang itu sedang tidak sadarkan diri. Aku membawa Sesilia melarikan diri dari rumah ini. Ayah kami warga negara Thailand, sedangkan ibu juga mempunyai bisnis di negara lain, walaupun berasal dari negara ini. Kami dititipkan pada paman, aku tahu alasannya, mereka hanya tengah mencari pasangan. Sudah dalam tahap perceraian, setidaknya itulah yang sering aku dengar kala mereka bertengkar.
Paman yang aneh pernah meminta adikku membuka pakaiannya. Dari sanalah aku tau pandangan iblis itu. Karena itulah aku pergi sejauh mungkin. Kami yang dianggap secantik malaikat oleh banyak orang sekali melihat, tapi tetap saja tidak ada artinya di mata kedua orang tua kami yang akan bercerai.
Tidak ada artinya sama sekali. Setidaknya itulah yang aku ketahui, hingga mereka cukup gila untuk menitipkan kami pada seorang paman tidak waras yang berniat melecehkan anak berusia 3 tahun.
Tidak membawa apapun, hanya menarik tangan adikku yang bahkan belum lancar bicara, adalah hal yang aku lakukan. Tanah basah kami pijak, ibuku adalah orang dari negara ini. Karena itu aku tahu bahasanya, walaupun aku lebih fasih menggunakan bahasa Thailand. Berbeda dengan adikku yang hanya bisa menggunakan bahasa Thailand, sekali lagi adikku Sesilia saat itu sudah dapat bicara tapi belum lancar sama sekali.
__ADS_1
Tidak memiliki tujuan, perutku benar-benar terasa lapar. Aku yakin adikku yang baru berusia 3 tahun juga demikian.
Mataku menelisik ada banyak anak jalanan di sekitar kami. Ada yang bernyanyi di dekat lampu merah demi mendapatkan sedikit uang. Sedikit uang? Itulah yang aku butuhkan, hanya untuk membeli sebungkus roti.
Tapi apa yang mereka lakukan? Hanya bernyanyi bukan? Perut adikku lapar. Kehidupan kami yang bagaikan tuan putri dan pangeran dari keluarga kaya sudah berakhir. Karena itu aku hanya dapat menahan malu. Mengambil botol minum bekas, kemudian bernyanyi asal di lampu merah, lagu yang bahkan aku bingung harus mengartikannya bagaimana. Yang aku tau hanya lagu berbahasa Thailand, tempat tinggal ayah kami.
Astaga! Apa yang aku lakukan? Ingin rasanya aku menangis. Tapi adikku duduk di pinggiran trotoar dengan memegangi perutnya. Mereka memberikan receh, benar-benar receh. Tapi kenapa jumlahnya besar sekali?
Aku kira akan mudah menjalani hidup untuk beberapa hari dengan nominal uang 5000 rupiah. Tapi setelah sampai di toko kelontong kecil, aku tertegun kecewa, ternyata angka yang aku sangka besar, di negara ini sangat rendah. Bagaimana untuk makan malam kami? Sedangkan siang ini kami hanya mendapatkan dua bungkus roti dan air keran taman yang kami minum.
Namun, aku sudah cukup dewasa untuk mengetahui apa yang akan dilakukan pamanku lagi jika kami kembali. Karena itu, hal yang aku lakukan sekarang hanya dapat membawa adikku entah kemana. Adikku yang biasanya didandani bagaikan putri, kini kotor. Hanya bisa berkomunikasi denganku menggunakan bahasa Thailand. Syukurlah aku sering diajarkan bahasa negara ini oleh ibuku.
Ibu yang akan segera berpisah dengan ayah. Pasangan suami-istri yang telah sama-sama memiliki kekasih lain. Kami berdua hanya sepasang anak yang terbuang kala foto pernikahan itu hancur.
"Di (bunyi Enak dalam bahasa Thailand)," Itulah yang diucapkan oleh adikku yang kelaparan ini. Roti yang terasa keras di bilang enak? Malaikat kecil yang paling berharga, itulah adikku. Aku hanya dapat menangis sambil memeluknya.
Air matanya mengalir. Aku hanya bisa menjelaskan pelan-pelan ibu dan ayah kami sudah mati. Kakak yang kejam bukan? Tapi bagaimana aku dapat menjelaskan pada Sesilia kami sudah dibuang pada saudara ibu yang gila? Ibu dan ayah mereka keduanya telah memiliki kekasih.
Sesilia hanya memelukku, kami yang berpakaian rapi bak putri dan pangeran, kini berpakaian kotor. Menyatu dengan gelandangan, tapi tetap saja, kala menatap melalu kaca jendela etalase, dimata orang-orang wajah kami bagaikan malaikat.
Ada beberapa orang yang berbelas kasih memberikan makanan. Aku sadar kami sudah seperti pengemis, tapi sebagai seorang kakak aku tidak berdaya.
Hingga, beberapa poster pencarian kami disebar. Jemari tanganku mengepal, aku tidak dapat membiarkan Sesilia kembali pada paman. Orang tua kami benar-benar sudah gila. Perlahan aku membenci kedua orang tuaku. Apa aku anak yang buruk? Selama ini aku selalu membanggakan mereka, Sesilia yang masih kecil tidak pernah rewel. Apa kesalahan kami? Apa kami yang meminta kepada Tuhan agar terlahir menjadi anak kalian?
Disaat seperti ini, terkadang aku berfikir. Mungkin sebaiknya kami tetap ada di sisinya. Tidak diturunkan ke dunia ini sebagai anak mereka.
__ADS_1
Karena itu, keputusan terakhir aku ambil. Membawa adikku menumpang truk ekspedisi yang akan berangkat ke pulau lain. Tujuan kami, adalah panti asuhan, tempat untuk menampung anak-anak yang mungkin memiliki nasib serupa dengan kami.
Cahaya bintang malam ini begitu terang. Tidak mudah menjaga anak berusia 3 tahun. Tapi aku tetap melakukannya, tujuanku hanya satu, ini demi kebahagiaan adikku.
*
Belasan tahun berlalu, cukup banyak hal yang terjadi. Bagaimana kami tumbuh? Adikku tumbuh mempesona benar-benar cantik.
Sedangkan aku? Melihat cermin dari sudut manapun aku tetap tampan. Mengumpulkan uang tanpa mengutamakan pendidikan itulah yang aku lakukan. Apalagi dengan insiden yang menimpa adikku, kala tengah melakukan pertunjukan piano, lampu sorot jatuh padanya. Pecahan yang masuk ke mata merusak korneanya. Benar! Adikku tercinta kini tidak bisa melihat.
Kala itulah aku berjanji akan melakukan apapun untuknya termasuk menyerahkan nyawaku. Hanya Sesilia yang aku miliki di dunia ini. Tidak ingin mencari informasi atau mendengar berita tentang kedua orang tua kami lagi.
"Kakak, selamat datang!" Ucap Sesilia yang ada di belakang meja kasir. Toko bunga yang sengaja aku desain untuknya.
"Selamat datang, pria paling tampan di dunia ini ingin bertemu wanita tercantik..." Begitulah caraku menghibur adikku, aku tau dia kesepian setiap aku mencari uang dengan melakukan pekerjaan remeh.
Seorang detektif pembantu, benar! Aku bukan seorang detektif. Jika detektif asli aku pasti sudah kaya. Profesiku sejatinya menangani kasus yang tidak dapat diselesaikan sang detektif. Dengan pembagian bayaran dari klien 60:40, aku yang bekerja keras tapi hanya kendala ijin dan pendidikan, pembagiannya lumayan kecil.
Jadi jangan fikir aku kaya. Aku miskin walaupun sudah bekerja keras. Tapi satu rahasia, sampai sekarang adikku masih mengira bahwa kami penduduk asli negara ini.
"Bisa saja! Aku mual karenamu! Kapan kakak akan menikah? Sudah banyak wanita yang ingin mengantri!" Gerutu Sesilia.
"Aku akan menikah ketika kamu sudah dapat melihat." Ucapku mengecup pucuk kepala adikku. Apa janji itu dapat aku tepati? Entahlah.
"Kalau aku selamanya tidak dapat melihat?" Sesilia mengenyitkan keningnya.
__ADS_1
"Maka selamanya aku tidak akan menikah. Aku akan mati sebagai perjaka yang hanya mencintai adiknya di sepanjang hidupnya."