
Pemuda yang pergi menyeret kopernya. Tidak mengetahui kemana takdir akan membawanya nanti. Mengecup kening adiknya, wajah rupawan itu tersenyum. Hingga seorang tetangga datang, tetangga yang dibayarnya untuk tinggal dengan adiknya selama dirinya tidak ada di rumah.
"Sesilia, kakak akan pergi..." kalimat dari sang kakak yang bahkan wajahnya tidak dapat dilihat olehnya."Kakak menyayangimu," senyuman terlihat dari wajah Triton, namun entah kenapa air mata pemuda itu mengalir.
Kali ini dirinya hanya bergerak sendiri. Sudah mengatur waktu untuk menghubungi kantor kepolisian secara otomatis. Benar-benar perhitungan yang matang, menyakini dirinya akan kembali untuk adiknya.
Tapi ada yang aneh, kali ini Sesilia menangis menjerit. Tidak ingin ditinggalkan olehnya."Jangan pergi..." pintanya putus asa.
"Kakak hanya pergi selama 3 hari, alat untuk bersalin. Serta adminstrasi sudah kakak siapkan. Tolong jaga dirimu," Permintaan yang sederhana dari Triton, mendekap adiknya dalam kehangatan. Inilah satu-satunya anggota keluarganya yang tersisa.
Sesilia mengangguk, walaupun lubang menganga terasa di hatinya. Sekujur tubuhnya gemetar, kembali mendekap sang kakak. Untuk pertama kalinya dirinya cengeng, seakan mengetahui ini terakhir kalinya dirinya dapat memeluk Triton.
Pemuda yang melangkah, mengendarai mobilnya. Matanya menatap ke arah langit senja, apa arti sebuah balas dendam baginya? Banyak, menyelamatkan nyawa beberapa orang yang masih didekap. Juga menjatuhkan orang yang melecehkan adiknya.
Masih teringat di benaknya kala memegang jemari tangan kecil yang rapuh itu. Adiknya yang bagaikan malaikat sayapnya telah dipatahkan, rasa sakit yang ada di dada Triton kini lebih terasa berat. Jika...jika rencananya gagal dan ini berakhir dengan kematian....
Tidak ini akan berhasil, agar dirinya dapat kembali untuk menjaga adik yang disayanginya.
*
Tapi apa benar? Dirinya kini berada dalam kamar hotel kelas melati. Perangkat komputer mulai dipasangnya satu persatu.
Pemuda itu kini tengah membuka sebungkus permen rasa kopi. Senyuman menyungging di wajahnya. Hal pertama yang dilakukannya adalah mengendalikan lampu lalu lintas dan meretas CCTV.
"Seluruh kota merupakan tempat bermain yang indah! Oh senangnya aku senang sekali..." Nyanyiannya memainkan perjalanan sebuah kontainer berisikan sekitar 20 orang yang tidak sadarkan diri.
Orang gila mana yang dapat mengendalikan GPS phonecell? Tentu saja Triton. Informasi yang didapatkannya hanya dari nomor kontak, dirinya memperoleh alamat e-mail bahkan mengendalikan phonecell dari jauh merekayasa lokasi tujuan GPS.
"Bodohnya dirimu, selalu menungguku, yang tak pernah untuk bisa mencintai kamu..." Pemuda itu bernyanyi dengan bahagianya. Mengendalikan jalannya mobil bagaikan segalanya adalah boneka baginya.
Betapa mengeringkannya detektif kekanak-kanakan ini. Mengambil bungkus permen berikutnya, truk kontainer yang berputar ke seluruh kota. Pelabuhan? Sejatinya itulah tujuan truk kontainer tersebut.
__ADS_1
Wajahnya tersenyum, kala membuat sebuah gudang yang dipenuhi oleh petugas kepolisian adalah pelabuhan. Hingga karena mengikuti arah GPS supir kontainer tersesat.
Dapat dibayangkan adegan penangkapannya kan? Triton benar-benar bekerja sama dengan petugas kepolisian kali ini. Pemuda yang kembali mengamati penangkapan serta pembebasan orang-orang yang berada di dalam kontainer melalui CCTV. Earphone masih ada di telinganya mendengar semuanya dari alat yang dipasangnya di gudang.
Dirinya tidak perlu turun tangan langsung aman. Benar-benar aman untuknya, bisnis Chan dan mungkin juga perusahaan milik Fabian akan terguncang setelah ini. Itu sudah dipastikan olehnya.
Tapi terkadang pengkhianat itu selalu ada bukan. Seseorang yang tidak disangka. Tiba-tiba rekaman CCTV yang ditonton mati. Suara di earphone melalui alat di gudang terdengar. Benar-benar bernada rendah."Kill you..."
Triton membulatkan matanya. Menyadari ada petugas kepolisian yang berkhianat padanya. Mematikan laptopnya dengan cepat. Dirinya ketakutan dalam kematian kali ini, benar-benar ketakutan. Jemari tangannya gemetar, tapi apa bisa. Kala pintu itu hancur didobrak tubuhnya dipukuli beberapa orang.
Dirinya diseret, laptop miliknya dibawa ke suatu tempat. Matanya menatap ke arah langit malam yang gelap. Apa ini adalah hari kematiannya? Tidak bisakah Tuhan berbaik hati padanya, walaupun tujuannya adalah balas dendam?
Sebuah pabrik terbengkalai menjadi tempat eksekusi. Tidak bodoh, itulah dirinya. Meletakkan alat pelacak dalam tubuhnya sendiri. Alat pelacak yang diberikan pada komandan kepolisian.
Tubuhnya diikat, sejenak dirinya menatap ke arah cermin yang telah pecah. Wajahnya masih tampan, setidaknya dirinya mati dalam keadaan rupawan.
Perpisahan akan terjadi, seiring dengan laptop yang dibanting di hadapannya. Tubuhnya dipukuli dan diinjak. Menutup matanya menahan rasa sakit. Mereka yang mendapatkan materi, mereka yang dendam.
Dor!
Dor!
Dor!
Senyuman terlihat di wajahnya, kata-kata terakhir agar tidak melukai wajahnya. Atau lebih tepatnya matanya, menutup matanya sendiri dengan air mata yang mengalir.
Tubuh yang telah roboh itu kembali bergetar menerima tembakan jarak dekat. Seakan tidak puas dengan siksaan kematiannya.
Darah mengalir dari tubuh yang mungkin tulangnya sudah remuk akibat pukulan. Mungkin juga puluhan peluru telah bersarang di tubuhnya. Wajah rupawan yang telah tiada.
Srak!
__ADS_1
Tancapan pedang terakhir pada sang mayat. Apa kesalahannya selama ini? Hujan mulai turun, mereka yang tugaskan melakukan eksekusi padanya juga sudah pergi.
Pemuda yang tenggelam dalam kegelapan tidak berujung. Meninggalkan adik yang diasuhnya dengan kedua tangannya. Dirinya ingin hidup, tapi tidak bisa.
Tidak bisa.
*
Hari kelahiran Zeyan bertepatan dengan kematian Triton. Kala malaikatnya diambil, satu malaikat kecil lagi terlahir.
Tepat ketika hujan membasahi tubuh dengan aliran darah yang deras. Tidak ada nyawa yang tersisa hanya kesunyian.
"Aku hanya ingin menjaga adikku..." batinnya tenggelam dalam keheningan kegelapan. Menyadari nyawanya telah meninggalkan raga. Menangis itulah yang dilakukannya menyambut kematiannya sendiri.
Namun.
Taukah kalian terkadang ada fenomena yang sulit dijelaskan akal sehat? Seseorang yang terlahir kembali mengingat kehidupannya di masa lampau.
Sulit untuk dibayangkan, benar-benar aneh. Dirinya berada di tempat yang tidak dikenalnya. Kesulitan untuk duduk, bahkan tidak dapat bicara sama sekali.
Apa dirinya selamat dan mengalami kelumpuhan? Tapi ada yang aneh segalanya terlihat lebih besar. Saat itulah Triton menyadari hal yang paling memalukan. Dirinya terlahir kembali dalam tubuh keponakannya sendiri. Ini benar-benar memalukan, bahkan jika terlahir kembali dirinya lebih berharap tidak mengingat kehidupannya yang dulu.
Mengapa? Tentu saja ini memalukan kala, harus dimandikan oleh wanita, meminum dari dot, Tuhan pasti membuat lelucon untuknya.
Namun, satu hal yang disadarinya, kala menatap Sesilia menangis setelah menjalani operasi. Mungkin Tuhan memiliki rencana lain, masih menginginkan dirinya untuk menjaga adiknya. Atau mulai sekarang harus dipanggilnya sebagai ibu.
Zeyan? Itulah nama yang diberikan, mengantarnya ke makam Triton. Sangat lucu bagi Triton yang kini menjadi Zeyan untuk datang ke makamnya sendiri. Tapi tidak bagi Sesilia, adiknya menangis benar-benar terluka.
"Zeyan ini adalah makam pamanmu. Triton ini Zeyan..." Ucap Sesilia lirih membawa bayi mungil. Bayi yang terdiam, berusaha menggerakkan tangannya yang berat. Kesulitan untuk bergerak, kekuatan bayi memang terbatas, syarafnya belum dapat digerakkan dengan leluasa. Yang ingin dilakukan jiwa dalam bayi mungil itu.
"Adik... maksudku ibu, kita bertemu lagi. Aku akan menjagamu seperti sebelumnya." Kalimat yang tidak dapat diucapkan olehnya.
__ADS_1
Sekarang mengerti mengapa Zeyan begitu cerdas dan bersikap lebih dewasa? Untuk melindungi Sesilia, adik yang dicintainya di kehidupan lampau. Seseorang yang kini menjadi ibunya.
"Sial! Aku ingin buang air besar!" batin bayi mungil itu, menangis memukul-mukul Sesilia dengan tangan kecilnya. Benar-benar malu rasanya. Inilah keburukan dari terlahir kembali namun mengingat kehidupan sebelumnya.