Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Sampah


__ADS_3

Beberapa kali sang supir menghubungi. Namun, phonecell Fabian selalu sibuk. Menghela napas berkali-kali, dirinya ditugaskan untuk menjemput Sesilia. Tapi tidak ada satu orangpun di tempat ini, terkecuali dedemit.


Semakin merinding saja bulu kuduknya. Sang supir membayangkan bagaimana jika Sesilia yang cantik mulus, putih alami, dibawa ke alam lain oleh pangeran siluman buaya. Menjadi permaisurinya seperti yang sering ada di FTV, dimana wanita cantik akan mendapatkan sisik emas setelah ditiduri.


Bergidik ngeri, yang jelas dirinya sudah sampai. Artinya tugasnya juga sudah selesai, melajukan mobilnya pergi, sebelum melihat genderuwo dan sebangsanya mengingat ada beberapa pohon besar di tepian sungai itu.


Hingga satu setengah jam perjalanan sampailah dirinya di rumah majikan. Segera turun dari mobil untuk memberi laporan jika Sesilia tidak ada di lokasi.


"Nyonya, begini---" Kalimat sang supir disela dengan cepat.


"Saya sedang sibuk. Nanti kalau Sesilia sudah pulang, minta dia menjemput Zeyan di rumah temannya. Zeyan mengatakan pergi ke rumah mantan tetangganya lagi." Perintah Mulyasari terburu-buru mengambil kunci mobil. Mengingat bisnis waralaba yang baru dibuka, juga turut serta menggunakan nama brand restaurannya.


"Ta...tapi nyonya!" Sang supir hendak mengejar, tapi memang tidak berjodoh. Sayangnya mobil itu melaju lebih awal.


Sang supir kembali masuk, menggaruk-garuk kepalanya tidak tahu harus bagaimana dan melaporkannya pada siapa. Besok dirinya juga harus mengambil libur, karena harus mengantarkan istrinya cek kandungan sekalian mengganti KB pasang.


Matanya menelisik melihat seorang pelayan tua yang sudah bekerja puluhan tahun di tempat ini.


"Bu Mirah, besok saya sudah ijin libur. Boleh minta tolong tidak?" tanyanya ragu, orang tua ini akan mengingat pesannya.


"Minta tolong apa?" tanya nenek yang sedang memegang kemoceng itu.


"Begini saya ditugaskan menjemput Sesilia. Tapi dia tidak ada di lokasi penjemputan. Mau laporan ke tuan muda, nomornya susah dihubungi. Ke nyonya Mulyasari juga tadi langsung pergi." Keluh sang supir.

__ADS_1


"Kamu disuruh jemput dimana?" tanya Mirah penasaran.


"Dekat sungai, banyak pohon besarnya. Mungkin diculik siluman." Jawab sang supir mengatakan asumsinya.


Mirah terlihat berfikir sejenak, kemudian menggeleng."Mungkin dibawa jin ke kota gaib. Kalau di Sulawesi dibawa ke kota sejenis kota Wentira, kalau di Bali nama jinnya memedi. Wujudnya seperti manusia, tapi tidak punya garis di bawah hidungnya. Sudah pasti di bawa ke alam lain. Kalau ingin ketemu, harus minta bantuan warga sekitar."


"Saya juga berfikir seperti itu. Nanti Bu Mirah laporan ke tuan muda dan nyonya ya?" Ucap sang supir, meletakkan kunci di dekat dapur kemudian kembali ke rumahnya. Pertanda jam kerjanya hari ini berakhir.


Tapi apa yang akan disampaikan oleh sang pelayan tua? Nenek yang sudah pelupa itu mengenyitkan keningnya berpikir."Tadi titip pesan apa ya? Sesilia... Sesilia... menikah...bukan, pergi ke kota...bukan..." nenek itu terus berfikir sebelum memorinya terhapus lebih dalam.


*


Tidak seperti biasanya, Fabian tidak pulang sama sekali. Disibukkan dengan panggilan pihak kepolisian, dan pencegahan untuk pemberitaan lebih banyak dari media.


Ini akan menjadi serangan balik yang efektif nantinya untuk melawan Chan. Setidaknya itulah yang ada di fikirannya saat ini. Beberapa orang dihubungi olehnya, tidak pulang sama sekali. Merindukan Sesilia dan Zeyan? Tentu saja ingin bertemu dengan mereka. Benar-benar ingin, ada rasa tidak enak dalam fikirannya meninggalkan Sesilia seorang diri.


Tapi sebelum itu, ini harus diselesaikan terlebih dahulu. Hingga pintu ruangan di kantornya kembali terbuka. Cakra menunduk memberi hormat, langkah kakinya diikuti oleh Anjani dan Anggara (ayah Fabian).


"Pagi Fabian..." Sapa Anjani penuh senyuman, mengingat ini pukul 3 pagi. Sedangkan Anggara terlihat acuh duduk di sofa, mengamati keadaan sekitar.


"Wah! Serasi! Kenapa kalian tidak menikah saja?" tanya Fabian penuh senyuman, menatap ke arah ayahnya dan Anjani.


"Semakin sombong saja, anak yang menjatuhkan ayahnya, mengkhianati tunangannya sepertimu kamu kira akan berakhir seperti apa? Saat aku memimpin perusahaan hal seperti ini tidak pernah terjadi. Kamu terlalu pintar memimpin perusahaan, hingga perusahaan mengalami kerugian seperti sekarang." Sarkas Anggara menatap tajam ke arah putranya.

__ADS_1


"Saat ayah memimpin, perusahaan memang tidak mengalami hal memalukan seperti ini. Tapi laba perusahaan hanya sepertiga, sebagian besarnya juga untuk memanjakan gundik ayah." Terlihat tenang kali ini, tidak seperti 6 tahun lalu yang bahkan untuk menjatuhkan ayahnya sendiri dari posisi CEO, Fabian harus mengumpulkan bukti korupsi dan suap yang didapatkan ayahnya. Terlihat selalu canggung dan ketakutan, dulu. Mungkin pengalaman selama 6 tahun ini penyebabnya, pemuda itu menjadi sosok yang berbeda.


Anggra mengepalkan tangannya menghela napas berkali-kali."Anjani mempunyai maksud baik---"


"Baik bagi siapa? Baik bagi ayah? Aku lupa! Setelah perceraian dengan ibu, harta gono-gini yang ayah dapatkan, habis untuk perusahaan yang kini sudah dinyatakan pailit. Pembagian harta yang adil, tapi ayah bangkrut karena puluhan wanita cantik murahan..." Lagi-lagi Fabian mengucapkannya penuh senyuman. Mulai duduk di sofa berhadapan dengan Anjani dan Anggara.


"Ini hanya nasehat dari ayah! Kamu sudah keterlaluan!" Anggara menggebrak meja.


"Keterlaluan? Lebih keterlaluan mana, seorang ayah yang menjual putranya untuk kesepakatan bisnis yang konyol. Hanya pihak mereka (Chan) yang diuntungkan. Ayah fikir aku tidak tahu? Kalian melakukan bisnis gelap, jika aku tidak mengambil alih perusahaan. Mungkin perusahaan ini juga akan menjadi perusahaan cangkang. Hanya diluar melakukan bisnis bersih di dalamnya memperdagangkan manusia!" Kali ini Fabian mengepalkan tangannya tetap tersenyum, terasa lebih emosional.


Mengapa? Inilah cikal bakal kematian Triton. Kerjasama bisnis Anggara dan Chan, sesuatu yang dihentikannya, dengan mengambil alih perusahaan. Tapi bisnis itu tetap berjalan, di balik layar. Bagi Fabian asalkan tidak melibatkan dirinya dan perusahaan tidak masalah. Biarlah ayahnya melakukan apa saja.


Namun, Triton? Dia mati untuk menyelamatkan puluhan orang yang berada dalam kontainer. Seseorang yang menjaga Sesilia selama ini. Rasa bersalah itu masih ada, seandainya saat itu dirinya tidak fokus untuk pengambilan alih perusahaan. Tapi lebih pada menghentikan ayahnya dan Chan, mungkin saja saat ini Triton masih hidup.


"Ini demi keuntungan lebih! Tau apa kamu tentang bisnis!" Bentak Anggara.


"Aku tau banyak, jangan meremehkanku. 6 tahun ini perusahaan lebih berkembang di tanganku, tanpa perlu melakukan bisnis ilegal. Jadi apa tujuan kedatangan ayah kemari? Untuk memukuliku seperti dulu? Atau untuk bekerja sama dengan Chan?" Fabian terlihat berfikir, menghentikan kata-katanya sejenak, beberapa saat kemudian tertawa lirih, tawa yang benar-benar kencang.


"Oh...aku tahu, tujuan ayah datang kemari ingin menikahkan aku dengan Anjani. Kesepakatan apa yang mereka gunakan hingga membuat ayahku tertarik..." Fabian terlihat berfikir kembali, sedangkan wajah Anggara pucat pasi. Mengepalkan tangannya memendam rasa kesal pada putranya.


Pemuda yang terlihat mempermainkannya, sudah mengetahui jawabannya dari awal. Bagaikan pria yang memiliki gangguan kejiwaan, seorang pria berbahaya, itulah putranya saat ini.


Fabian kembali bertepuk tangan sembari tertawa."Aku tau! Mereka menawarkan perusahaan ini akan kembali ke tangan ayah setelah aku menikah dengan Anjani. Ketika ada anak yang lahir sebagai penerus, maka aku akan disingkirkan. Siapa yang mau mati? Ayah..." tawa bagaikan candaan bagi Fabian.

__ADS_1


Tangan Anggara semakin gemetar mengetahui, Fabian dapat menebak kesepakatannya."Bukan begitu---"


"Bukan begitu? Dulu aku akan menurut untuk menjadi boneka. Tapi sekarang tidak, aku mempunyai anak dan calon istri yang harus aku lindungi. Kamu hanya sampah dimataku..." Ucapnya penuh senyuman.


__ADS_2