Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat

Anak Genius: Memburu Ayah Konglomerat
Cicak Cicak Di Dinding


__ADS_3

...Sebuah cinta tidak memerlukan balasan. Melihatnya tersenyum sudah cukup....


...Bagaikan rumput yang basah, kakimu melangkah di atasnya. Kala hujan turun berlari sembari tertawa, menikmati segalanya....


...Cinta yang bagaikan payung dan segelas teh hangat. Itulah aku, menemanimu kala hujan yang kamu cintai menyakitimu....


...Menjadi sesuatu yang hangat, menemani harimu yang suram....


Derrick.


Hari ini pemuda itu libur, pakaian yang dibelikan Sesilia sudah kering. Pakaian terbaik yang dimilikinya, menatap ke arah cermin. Bergaya beberapa kali, sejenak tersenyum salah tingkah. Menggaruk-garuk kepalanya sendiri.


Dirinya dengan segera keluar dari rumah. Menyalakan motornya yang mengeluarkan suara nyaring. Dengan asap kenalpot bagaikan tengah memberantas nyamuk.


Bukan motor sport, tapi motor bebek tua yang kenalpotnya mengalami kerusakan."Harus di service dulu..." gumamnya mengenakan helmnya. Matanya menelisik ke arah bagian bawah sungai.


Benar-benar bersyukur dirinya kebelet pipis dan memiliki keberanian mencari sumber suara tangisan kuntilanak. Walaupun hanya sekejap, dirinya dapat bahagia. Mengetahui dari segi status bagaikan pungguk merindukan bulan.


Hingga motornya diperbaiki, dirinya kembali melaju untuk berkencan, maaf salah berkunjung ke rumah teman kecilnya. Sekilo buah jeruk yang dibelinya di pinggir jalan menjadi oleh-oleh. Bukan buah impor yang mahal, hanya buah jeruk lokal yang murah.


"Menari dan terus bernyanyi mengikuti irama sang mentari. Tertawa dan slalu jadi yang berikan, ku arti hidup ini!" Pemuda itu bernyanyi sepanjang perjalanan penuh semangat. Lagu J Rock, dengan judul Ceria mengiringi perjalanannya menuju villa tempat kekasih hati, maaf salah tempat semangatnya berada.


Pemuda yang selalu memberi aura positif, tidak mengharapkan balasan. Hanya ingin memberi, hanya itu.


Hingga laju motor terhenti setelah satu setengah jam perjalanan. Villa itu terlihat, memarkirkan motornya diantara mobil mewah.


Matanya menelisik dirinya ketakutan. Apa akan diusir? Flo dan Asnee terlihat berada di gazebo, menghubungi seseorang melalui earphone, sembari membawa laptop dan dokumen. Dua orang benar-benar sibuk sejatinya. Orang kaya sejati, menghela napas kasar. Dirinya tidak berharap, hanya ingin dekat, itu saja. Bahagia hanya dengan melihat sepasang ibu dan anak itu tersenyum.


Mungkin seperti di sinetron, dirinya akan diusir oleh Flo dan Asnee, walaupun hanya ingin berteman dengan Sesilia. Ingat! Dirinya tukang bersih-bersih, sedangkan Sesilia anak tunggal pengusaha.

__ADS_1


Tertunduk sejenak penuh ketegangan."Paman, bibi...ini untuk Zeyan..." ucapnya, memberikan kantong kresek bening berisikan satu kilogram jeruk lokal. Memejamkan matanya, sudah bersiap menerima bentakan.


"Calon mantu sudah datang." Asnee, menepuk bahu Derrick, wajahnya tersenyum. Mengetahui ketulusan orang ini, bukan kaya, tapi cukup untuk membahagiakan putrinya dan tulus. Itulah yang terpenting baginya.


"Ca... calon mantu? Mana?" tanya Derrick ketakutan, matanya menelisik, mengira ayah kandung Zeyan atau mungkin kekasih Sesilia ada di sekitar sini.


"Tidak usah difikirkan kata-kata Asnee. Dia memang begitu, Sesilia ada di dalam dengan Zeyan. Ta...tapi tunggu dulu." Flo mengambil sisir dari salah satu laci di meja gazebo. Merapikan rambut pemuda itu yang sebelumnya terkena angin.


Sedangkan Asnee memetik setangkai bunga mawar, memberikannya pada Derrick."Berikan pada Sesilia. Hatinya memang seperti batu, tapi dia pasti akan mudah tersentuh seperti Flo."


"Ta...tapi..." Derrick mengenyitkan keningnya kebingungan. Apa yang dimaksud kedua orang ini? Tidak mungkin menyukai dirinya kan?


"Tidak ada tapi-tapian! Wanita suka pria yang romantis! Kami mendungmu!" Seru Asnee, mendorong Derrick.


"Semangat!" teriak Flo.


Wajah mereka tersenyum, baru beberapa hari mengenal Derrick tapi mereka diam-diam menyelidiki latar belakangnya. Seorang calon dokter yang mandiri, bertanggung jawab, ditambah dengan mereka mengirim orang untuk mengujinya beberapa kali. Apa pria ini serakah terhadap harta atau tidak. Tanda centang, Derrick lulus semua ujian. Hanya itulah yang diperlukan untuk menjadi menantu mereka, menyadari putri mereka singgel parents dengan seorang anak yang sakit-sakitan.


*


Tapi bagaimana dengan Sesilia? Wanita itu menatap kedatangan Derrick dari balkon lantai dua. Menelan ludahnya kasar, mengacak-acak rambutnya sendiri. Seharusnya dirinya tidak merubah penampilan orang itu!


Tidak bisa seperti ini! Tidak bisa sama sekali, semua pria sama saja. Karena itu dirinya harus menjaga Zeyan, tidak ingin anaknya terlalu dekat dengan Derrick.


Tapi apa yang terjadi? Kala dirinya menuruni tangga menuju lantai satu, Derrick tengah menghancurkan bunga mawar yang sebelumnya dibawanya. Begitu juga Zeyan yang memetik beberapa tangkai lagi untuk di lepaskan kelopaknya.


Kelopak bunga yang akan diolah rosse pental candy dan rosse pana cotta. Wajahnya tersenyum menatap pemuda yang canggung, memakai appron, mengolah dessert. Sedangkan Zeyan membubuhkan gula untuk membuat permen bunga mawar.


Dua orang yang tersenyum. Dirinya terdiam sejenak, hatinya terasa hangat. Berlari ke arah mereka, siapa yang dapat memisahkan dua orang pria ini?

__ADS_1


"Aku akan membuat minumannya!" Seru Sesilia penuh semangat.


Tidak ada suasana romantis, hanya hangatnya sebuah keluarga. Bunga mawar yang indah, tidak menjadi pajangan. Namun, menjadi makanan yang indah.


Ditata sendiri oleh Zeyan, sedangkan Sesilia dan Derrick menyiapkan meja. Pemuda yang masih memakai appronnya hingga kini.


Berjalan seorang diri duduk menikmati teh hangat menatap hujan yang turun, menunggu Zeyan selesai mendekorasi Pana cotta. Pemuda yang terdiam, menghela napas berkali-kali, cukup menyenangkan baginya yang tidak memiliki keluarga. Hari yang benar-benar hangat.


Sesilia mengenyitkan keningnya, perlahan mulai duduk agak jauh dari pemuda itu. Kenapa agak jauh? Entahlah tidak ada yang mengerti dengan pemikiran wanita yang hanya melirik sesekali itu.


Dua kursi yang terpisah jarak, sama-sama menikmati teh hangat sembari menatap hujan yang turun.


"Aku baru saja belajar membuatnya dari internet. Tolong dimaklumi jika rasanya tidak enak." Pemuda itu mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Sesekali memilih jemarinya terlalu ragu untuk bicara pada ayang...salah maksudnya Sesilia.


"Pertama kali?" Wanita itu tertawa kecil."Kamu bergerak seperti chef profesional."


Pemuda yang mengigit bagian bawah bibirnya sendiri. Apa salah jika mengucapkan ini?


"Baguslah karena anak dan istriku akan menyukai masakanku." Ucap pemuda itu tersenyum, padahal dalam hatinya memarahi darinya sendiri. Kenapa bicara seperti itu pada ayang yang tidak dapat diraihnya? Ayang... maaf salah lagi. Maksudnya Sesilia.


Sesilia tertegun, mengenyitkan keningnya. Ingin kabur tapi tidak bisa. Benar-benar malu karena pemuda ini, ini benar-benar memalukan. Namun, entah kenapa dirinya masih duduk di tempat ini. Ingin bangun tapi sulit. Beberapa kata untuk menggambarkan segalanya. Salah tingkah, mati kutu, hanya itulah kalimat yang dapat terkunci.


Pemuda yang hanya tersenyum cerah kembali melihat ke arah hujan yang turun. Menatap dengan tatapan kosong sejenak."Kalian benar-benar indah. Kamu dan Zeyan..."


Suatu pujian dari pemuda yang mulai menikmati kehangatan ini. Tapi takut kehilangannya, tidak boleh serakah karena ini bukan miliknya.


Tidak tahan lagi, pada akhirnya wanita itu melarikan diri, menutup wajahnya sendiri."Aku ingin pipis!" teriaknya kabur.


Derrick menghela napas kasar menikmati aroma hujan."Benar kan? Aku serba kekurangan, kurang tampan, kurang mapan."

__ADS_1


Namun, tiba-tiba Zeyan berjalan mendekatinya. Duduk disana menggantikan Sesilia."Kakek dan nenekku berpesan. Ibuku hanya malu dan trauma, jangan berkecil hati. Kakek dan nenek ingin kamu menjadi ayahku."


Pemuda itu membulatkan matanya, terbatuk-batuk tersedak tehnya."Hah?" Matanya menelisik ke belakang, Flo dan Asnee ada disana. Sesekali mengintip dari belakang dinding dan lemari. Bagikan cicak yang ingin melihat dirinya dekat dengan ayang.


__ADS_2