
Menyelidiki seseorang dari kamera yang bahkan tidak merekam wajah dengan jelas? Cukup sulit memang, apalagi pihak rumah sakit bungkam tidak bersedia memberikan informasi sama sekali, bahkan memanggil seorang pengacara yang juga tidak kalah dengan pengacara yang dibawa Fabian.
Pria yang terduduk di kursi kantin rumah sakit kini. Di tempat ini merupakan jejak terakhir dari Zeyan. Cemas? Khawatir? Itulah yang ada di benaknya, bagaimana jika keadaan Zeyan semakin memburuk? Bagaimana jika dirinya akan kehilangan putranya?
Satu rekaman dasbor mobil yang tidak begitu jelas lagi didapatkannya. Seorang pria menggendong seorang anak yang diyakininya adalah Zeyan. Memutarnya menggunakan tab, bagaikan keluarga yang bahagia, Sesilia berjalan bersama mereka.
Apa sudah ada orang yang menggantikan posisinya? Tidak, tidak boleh sama sekali. Rasa protektif itu tetap ada."A...aku salah," gumamnya tertunduk.
Dirinya hanya cukup lelah untuk pulang. Memutuskan berdiam di tempat ini untuk sementara waktu. Apa tidak akan ada jejak lagi?
Hingga seseorang datang, menatap ke arahnya."Maaf, saya mengganggu," ucapnya tiba-tiba duduk di hadapan Fabian.
"Kamu siapa?" tanya Fabian mengenyitkan keningnya.
"Namaku Derrick..." Cleaning service itu melirik keadaan sekitar, kemudian berbisik dengan suara kecil."Sebenarnya ada banyak orang yang bergosip tentang anda yang tiba-tiba datang ke rumah sakit. Anda Fabian kan? Pengusaha yang sering diliput media?" Gumamnya menelan ludah, benar-benar penasaran rasanya. Bagaikan menunggu update komik kesayangan yang hanya seminggu sekali.
Fabian hanya terdiam, tidak bereaksi padanya. Membuat suasana semakin canggung. Satunya lagi mengeluarkan aura mengintimidasi, satunya lagi tersenyum cerah. Mereka seperti kebalikannya, malaikat dan iblis.
"Apa tujuanmu?" tanya Fabian pada akhirnya ingin orang yang tidak mudah terintimidasi olehnya ini, pergi.
"Aku hanya penasaran saja. Apa kamu memiliki foto putramu? Siapa tau aku pernah bertemu." Kalimat tulus dari Derrick mengingat pasien anak-anak di rumah sakit ini tidak banyak.
"Detektif sudah mengurusnya, untuk menghindari penipu. Apa kamu penipu?" Fabian tersenyum menghina, menghindari kemungkinan orang ini adalah orang bayaran Chan.
"Aku bukan penipu. Sudah aku duga orang kaya itu sebagian besar sombong, kecuali ayang-ku dan calon anakku. Aku bertanya karena iba padamu, kalau tidak butuh bantuan tidak apa-apa." Derrick mengenyitkan keningnya, berusaha tetap tersenyum menahan kekesalannya.
Fabian tertawa kecil."Begitu? Aku hanya lebih berhati-hati. Aku baru saja membuat tersinggung seseorang dengan kekuasaan tinggi," ucapnya menatap tajam pada pria yang menurutnya mencurigakan ini.
__ADS_1
"Aku doakan istrimu hidup bahagia dengan pacar barunya. Menikah, kemudian memberikan adik untuk putramu." Derrick mulai bangkit, membuat Fabian semakin kesal saja.
"Kamu kemari hanya untuk menceramahiku?" Pemuda itu mengenyitkan keningnya.
"Bukan menceramahi, tapi membantu. Kalau tidak mau ya sudah..." Untuk pertama kalinya Derrick kesal dengan seseorang.
Ada yang tidak beres dengan dua orang ini entah apa. Derrick awalnya hanya iba, karena mendengar anak orang ini seusia dengan Zeyan. Tapi setelah ditemuinya orang ini benar-benar menyebalkan.
"Ayang dan calon anak? Apa kekasihmu janda satu anak? Wajar saja cleaning service sepertimu lebih menyukai bekas orang lain atau mungkin kamu selingkuhan? Jadi menyukai milik orang lain?" Sindir Fabian, biasanya dirinya tidak emosional seperti ini. Bahkan ketika berhadapan dengan Chan. Tapi orang ini? Bagikan membangunkan singa yang sedang tidur.
"Setidaknya aku berusaha untuk dicintai. Bukan suami yang ditinggalkan karena sifatnya buruk sepertimu." Pemuda itu membenahi letak kacamatanya.
Dua orang yang bangkit bersamaan dari kursi kemudian berjalan pergi berlainan arah. Pertemuan pertama antara CEO sombong dan sang cleaning service, diawali dengan perasaan saling membenci dan perdebatan. Apa mereka akan saling menyukai? Apa mereka akan saling jatuh cinta? Entah, apa yang akan terjadi, tapi mungkin saja bukan?Benci kemudian menjadi cinta.
*
Tapi mungkin juga tidak, satu orangnya lagi menaiki motor bebek satunya lagi menaiki mobil mewah yang kebetulan parkir bersebelahan.
"Suami tidak becus. Tidak heran ada seorang pria malang yang melarikan istrinya." Batin Derrick memakai helm, melajukan motornya.
Sedangkan Fabian yang sudah berada di kursi pengemudi mengenyitkan keningnya, melonggarkan dasinya."Dia satu spesies dengan makhluk yang membawa Sesilia. Memikirkan Sesilia dengan orang lain saja, sudah membuatku gila!" Geram Fabian memukul setir mobilnya. Dirinya harus segera bertemu putranya. Harus segera, bagaimana pun caranya.
Melajukan mobilnya menuju arah rumah. Beberapa hal ada dalam fikirannya kini, apa sebenarnya yang salah? Itulah yang ada dalam benaknya.
Waktu... itulah yang salah, seandainya dirinya lebih cepat menurunkan jabatan sang ayah, mungkin dirinya dapat menikahi Sesilia sebelum Zeyan lahir. Atau jika saja Chan tidak membuat masalah, di saat Sesilia ingin mengatakan tentang penyakit putra mereka. Mungkin saja, dirinya saat ini tengah berada di ruang operasi.
Rasa serakah masih ada, dirinya ingin mewujudkan keluarga impiannya di masa muda. Keluarga yang dilengkapi dengan dirinya, Sesilia dan putra mereka. Apa bisa? Jika memungkinkan dirinya ingin bahagia sekali saja. Anak durhaka yang seringkali dipukuli ayahnya sendiri."A...aku berjanji jika putraku pulang. Aku akan memperlakukannya dengan baik. Lebih baik, tidak akan sama dengan ayah memperlakukanku dulu."
__ADS_1
Entah kenapa dirinya lebih emosional belakangan ini. Air matanya mengalir tidak terkendali, rasa trauma itu masih ada. Tetap ada, mungkin itulah sebabnya tidak banyak waktu yang dihabiskannya dengan Zeyan. Takut, dirinya takut akan menjadi ayah yang buruk seperti ayahnya yang selalu melepaskan ikat pinggang, mengayunkan ke tubuhnya.
"Akan ada lebih banyak waktu untuk putraku dan Sesilia..." janjinya.
*
Apa yang dilakukan Zeyan saat ini? Demam anak itu sudah turun. Duduk menatap ke arah bintang yang bersinar terang dalam pangkuan Asnee.
"Sifatmu mirip dengan pamanmu Triton." Ucap Asnee penuh senyuman.
"Apa kakek menyayangi paman?" tanyanya.
Asnee mengangguk."Masa kecilnya, Triton tidak pernah mengecewakan kami. Dia melakukan apapun, menjaga Sesilia walaupun cukup sibuk belajar. Dia anak yang pintar sepertimu, bahkan dia membawa mendali olimpiade matematika tingkat sekolah dasar di usia 8 tahun. I...itu mendali terakhirnya sebelum kami menitipkannya pada Tiger."
"Menitipkannya? Bukannya kalian hanya membuang ibu dan paman?" tanya Zeyan tertunduk.
Asnee mendekapnya erat."Mungkin kamu mendengar ini dari Sesilia. Zeyanku sayang, kami menyayangi Triton dan Sesilia. Tapi saat itu pertengkaran terlalu sering terjadi, kami hanya tidak ingin anak-anak kami menjadi korban pertengkaran kedua orang tuanya yang tidak berfikiran dewasa sama sekali. Kami seperti anak kecil yang saling menyalahkan. Bahkan bertengkar hanya karena tidak ada yang menjemput Triton."
"Hanya untuk menenangkan diri. Ta...tapi aku bersyukur, ingin mengucapkan banyak terimakasih pada putraku (Triton). Jika dia tidak membawa Sesilia pergi. Mungkin Sesilia akan mati di tangan Tiger. Kami ingin bertemu dengannya sekali saja..." Air mata Asnee mengalir menatap ke arah bintang di langit.
Sedangkan Zeyan terdiam dengan tatapan kosong. Wajahnya perlahan tersenyum, mengetahui mengapa Tuhan tidak menghapus ingatannya, kala dirinya terlahir kembali dalam tubuh yang lemah ini.
Tuhan ingin dirinya mengetahui seberapa kedua orang tuanya menyayanginya dan Sesilia. Nyaman dalam dekapan ini, memeluk Asnee yang menitikan air matanya, mengingat almarhum putra sulungnya.
"Zeyan, setelah paspor dan visa selesai, kita akan tinggal di luar negeri. Tentang ayah durhakamu, biar kakek yang tangani." Asnee berusaha tersenyum, namun mengeluarkan aura mematikan.
"Kakek tidak akan membunuhnya kan?" Zeyan mengenyitkan keningnya. Benar-benar tau bagaimana protektifnya Asnee pada Triton dan Sesilia.
__ADS_1
Hal yang membuat Asnee menitipkan Triton dan Sesilia pada Tiger. Hanya agar kedua anaknya tidak melihat pertengkaran kedua orang tuanya. Satu keputusan salah memang, tapi rasa ingin melindungilah penyebabnya.
"Apa yang akan dilakukan psikopat berkedok ayah ini?" batin Zeyan berusaha untuk tersenyum.